Saka memasuki ruangan itu dengan langkah ringan, penuh kewibawaan. Suara langkah sepatunya beradu dengan lantai marmer, memantul lembut di antara dinding ruangan yang tenang namun sarat tekanan. Wajahnya datar, tanpa sedikit pun ekspresi yang bisa dibaca. Begitu sampai di kursi yang berada tepat berhadapan dengan pria paruh baya di seberangnya, Saka langsung duduk. Pria itu—Denis—menatapnya tajam, sorot matanya seperti pisau yang siap mengoyak siapa pun yang berani membuatnya rugi. Tatapan itu penuh kemarahan, dendam, dan ketidakpercayaan. Namun Saka hanya membalas dengan ketenangan yang nyaris membuat siapa pun geram karena terlalu santai dalam situasi tegang seperti itu. “Apa Anda menunggu lama, Pak Denis?” tanya Saka dengan suara pelan, nadanya datar dan tenang. “Saya tidak ingin ba

