“Kenapa kau lama sekali di toilet?” tanya Saka begitu Nadia mendekat, nada suaranya terdengar santai tapi matanya menatap lekat penuh rasa ingin tahu. “Padahal temanmu yang meminta ditemani tadi sudah pulang.” Nadia tercekat sesaat. Ia menarik napas pelan, lalu menjawab singkat, “tidak apa-apa.” Ucapannya terdengar hambar, jelas menunjukkan bahwa pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Di dalam hati, Nadia masih dilanda kebingungan. ‘Haruskah aku menceritakan semuanya pada Saka? Tentang Haris dan Resa, tentang Denis dan semua percakapan yang membuatku muak? Atau sebaiknya aku diam, menyimpannya sendiri, menunggu waktu yang tepat?’ Nadia kemudian bertanya dengan nada penasaran, “oh ya, Saka… apa kau kenal dengan temanku? Yang tadi minta aku menemaninya ke toilet?” Saka terdiam sejenak,

