Setelah Melani keluar dari toilet, Nadia merapikan rambutnya sebentar di depan cermin lalu menunduk. Ia segera melangkahkan kaki untuk kembali ke pesta. Namun langkahnya terhenti begitu saja ketika suara Melani terdengar di belakangnya. “Kenapa kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan, Jes? Kenapa kau tetap melanjutkan hubungan dengan Saka?” Nada suaranya jengkel, mengandung tekanan. Nadia berbalik pelan, menatap lurus pada Melani. Cahaya lampu di koridor kecil toilet membuat bayangan mereka jatuh di lantai, tegang dan kaku. “Mel, Saka bukan orang jahat. Dia baik.” ucap Nadia dengan nada tegas. “Dia orang jahat, Jes. Dia bagian dari keluarga Wijaya.” Melani menggeram, tatapannya menusuk. “Mereka semua menutupi kebusukan dengan topeng kebaikan. Dan Saka tidak berbeda. Dia hanya menyembu

