Menggali Kembali Memori Lama

1750 Kata

“Kita sudah sampai di panti asuhannya, Jes. Ayo turun,” ucap Anna lembut. “Baik, Tante.” Nadia tersenyum kecil, ia kemudian segera membuka pintu mobil dan turun, mengikuti langkah Anna yang sudah lebih dulu berdiri di halaman. Begitu kakinya menjejak tanah, Nadia terdiam sejenak. Pandangannya langsung mengembara, menyapu halaman luas panti asuhan yang penuh dengan kenangan samar. Bangunan bercat putih itu masih sama, hanya beberapa bagian cat mulai pudar dimakan waktu. Pohon mangga di sudut halaman tetap berdiri kokoh, meski dahannya kini tampak lebih rindang. Beberapa anak kecil berlarian sambil tertawa, suara mereka menggaung ceria di udara. Perasaan Nadia mendadak campur aduk—rindu, haru, juga sedikit sedih. Panti ini bukan sekadar tempat, melainkan rumah pertamanya, tempat ia tumbu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN