Rasanya Aric tidak peduli akan keramaian di sekitar, sebulan tidak bertemu Sashi. Begitu melihatnya datang, Aric seketika ingin memeluknya sampai kehabisan nafas. "Bagaimana perjalanannya?" Suara berat membuyarkan lamunan Aric. "Baik, Pa," sahut Aric. Sashi tertawa, mereka menjemput Aric di bandara. Padahal sudah Aric katakan agar Sashi menjemput sendiri, walaupun naik taxi. Hanya kata Sashi pada Aric, ayahnya ingin menjemput calon menantunya. Saat ayah Sashi berbalik menuju mobil, dengan cepat Aric menggenggam tangan Sashi. Membuat Sashi mencubitnya pelan. "Jadi Aric menginap di rumah kan?" Ayah Sashi berkata, ternyata menegangkan juga. "Oh, baik, Pa." Sashi terkikik geli, padahal kemarin saat Sashi meminta Aric menginap di rumahnya, Aric menolak. Dia mau menginap di hotel saj

