Clarisa mencoba kabur untuk pertama kalinya pada pagi yang pucat. Ia menunggu Kael keluar sebentar—momen langka—lalu menyelipkan kunci cadangan ke saku mantel. Tangannya gemetar, tapi langkahnya mantap. Pintu terbuka setengah inci sebelum suara di belakangnya membuat waktu berhenti. “Bukan begitu caranya,” kata Kael, datar. Clarisa berbalik. Ia tidak menjerit. Ia tidak memohon. Ia hanya menatap—tatapan orang yang menyadari bahwa setiap celah sudah dihitung. “Biarkan aku pergi,” katanya. Kael menutup pintu, pelan. “Belum.” Upaya kedua terjadi malam berikutnya. Clarisa mematikan lampu, bergerak tanpa suara, membuka jendela dapur. Udara dingin menyergap wajahnya—kebebasan terasa begitu dekat. Lalu cahaya menyala. Bayangan Kael jatuh di lantai. “Berbahaya,” katanya singkat sambil mengge

