Kael tidak lagi menimbang. Setelah gudang itu, setelah Clarisa berlari menjauh dengan mata yang tidak lagi mempercayai apa pun, Kael memahami satu hal: ia telah kehabisan cara-cara terang. Janji yang diucapkan pada ayah Clarisa—janji yang tidak pernah dibatalkan—menariknya kembali ke jalan yang paling ia kenal. Mendapatkannya kembali. Bukan demi kepemilikan. Bukan demi obsesi. Demi janji. Rencana itu lahir di ruang yang dingin dan sunyi. Kael membuka jaringan lama—orang-orang yang, seperti dirinya, dibentuk bukan untuk hidup normal. Mereka tidak bertanya. Tidak meminta alasan. Mereka hanya mendengar satu perintah: melumpuhkan. Agam dan timnya bergerak cepat—terlalu percaya diri setelah melihat Kael “terlambat” di gudang. Mereka mengira keunggulan sudah berpindah tangan. Mereka salah.

