Clarisa tidak kembali. Keputusan itu tidak lahir dari ketenangan—melainkan dari pecahan yang menumpuk di dadanya. Foto-foto di dinding, benda-benda kecil yang ia kira hilang, dan cerita yang disusun rapi oleh orang asing itu menyatu menjadi satu narasi yang terdengar masuk akal saat hati terluka. “Kalau kamu ingin kebenaran,” kata pria itu, berdiri di halaman rumah tua itu, “kamu harus berhenti menjadi korban.” Clarisa menatapnya dengan mata yang masih basah. “Apa yang kamu mau dariku?” Pria itu tersenyum tipis. “Keadilan.” Namanya Agam. Usianya empat puluh lima. Tatapannya keras—bukan karena kekuatan, melainkan karena kehilangan yang belum selesai. Ia berbicara tentang Kael dengan kepastian orang yang telah mengubur terlalu banyak orang. “Dia bukan penjaga,” kata Agam. “Dia pembunuh

