Dimata matai dari kecil

865 Kata

Clarisa melangkah masuk sendirian. Bunyi klik kecil terdengar, cukup untuk membuatnya menoleh, memastikan jalan keluar masih ada. bau debu yang sudah lama tidak disentuh cahaya. Ia berjalan pelan, seolah lantai bisa mendengar langkahnya. Lorong sempit itu berakhir pada sebuah pintu kayu yang lebih gelap dari yang lain. Tidak terkunci. Engselnya berdecit halus saat Clarisa mendorongnya. Ia menahan napas, berharap hanya menemukan ruang kosong—atau apa pun selain ketakutannya sendiri. Namun yang ia lihat membuat dunianya berhenti. Dinding. Dipenuhi foto. Rapi. Teratur. Mengikuti garis yang presisi, seperti pameran yang direncanakan dengan sabar. Foto-foto Clarisa—bukan satu atau dua, melainkan ratusan. Dari bayi yang digendong ibunya, balita yang tertawa di halaman, anak kecil dengan pi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN