Kael pulang dengan dua kantong belanja di tangan. Roti, buah, obat penghangat, dan lilin kecil yang Clarisa suka—bukan karena romantis, melainkan karena aromanya membuat rumah terasa hidup. Ia membuka pintu dengan kebiasaan lama: menahan napas sepersekian detik, memastikan keadaan aman. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. “Clar?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Jaket Clarisa tidak tergantung di tempatnya. Sepatu favoritnya tidak di rak. Lavender di meja masih ada, tapi vasnya bergeser—tanda tangan kecil bahwa seseorang telah lewat, lalu pergi dengan tergesa. Jantung Kael berdetak satu kali—keras—lalu kembali rapi. Ia menaruh kantong, berjalan ke kamar. Lemari Clarisa terbuka. Satu koper kecil hilang. Ia mengeluarkan ponsel. Menelepon. Nada panggil. Sekali. Dua kali. Tidak diang

