Telepon itu berdering lagi keesokan paginya. Clarisa sedang sendirian di rumah. Kael keluar sebentar—alasan sederhana, pembelanjaan bulanan. Nomor asing menelponnya lagi, beberapa hari yang lalu juga menelpon tapi karena tidak ada namanya Clarisa berpikir itu tidak penting tapi hari ini menelpon lagi akhirnya Clarisa mengangkat panggilan tanpa suara. “Aku tahu kamu tidak akan percaya,” suara itu tenang, hampir ramah. “Tapi kamu tidak bisa lari dari kenyataan.” “apa maksud mu?” jawab Clarisa, dingin. “Aku tidak datang untuk mendapat kepercayaan hanya saja ingin mengutarakan kebenaran” balasnya. “Aku datang untuk kebenaran yang kamu hindari karena kamu mencintai gambaran Kael—bukan Kael yang sebenarnya.” Nama itu seperti pisau tipis. Clarisa menutup mata sejenak. “aku tidak mencintain

