Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Mereka membicarakannya berulang kali—di pagi hari dengan secangkir kopi yang mulai dingin, di sore hari saat matahari menembus jendela rumah Kael, dan di malam hari ketika dunia terasa paling jujur. Beberapa minggu berlalu dalam diskusi yang panjang dan hati-hati. Clarisa mengusulkan beberapa negara. Kael menimbang masing-masing dengan alasan keamanan, jaringan, dan kemungkinan masa depan. Mereka tidak lagi bicara sebagai buronan atau pelindung dan yang dilindungi—melainkan dua orang yang mencoba memilih hidup. Akhirnya, satu nama selalu kembali disebut. Switzerland. Negara yang netral. Negara yang tenang. Negara yang tidak berpihak pada konflik, namun berdiri kokoh dengan aturannya sendiri. “Aman,” kata Kael, sambil menunjuk catatan d

