Clarisa meminta cerai pada pagi yang dingin. Tidak ada tangis histeris. Tidak ada teriakan. Ia berdiri di ruang tengah rumah itu—rumah yang indah, rapi, dan terlalu tenang—dengan suara yang rapuh tapi jelas. “Kita harus berpisah,” katanya. Kael menoleh dari jendela. Salju jatuh tipis di luar, menutup jejak malam. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah menyiapkan jawaban bahkan sebelum pertanyaan diajukan. “Tidak,” katanya singkat. Clarisa mengangguk kecil, seolah sudah menduga. Ia menarik napas panjang, lalu mencoba lagi—cara yang lebih lembut, lebih manusiawi. “Aku tidak aman di sini,” katanya. “Aku tidak bisa bernapas.” Kael mendekat setengah langkah. “Kamu aman. Aku di sini.” “Itu masalahnya,” balas Clarisa. “Aku aman dari dunia, tapi tidak dari ketakutank

