Kael memulai dari hal yang paling kecil. Pagi itu ia menyiapkan sarapan. Tidak memanggil Clarisa. Tidak menunggu di meja. Ia meletakkan piring di ujung meja, memastikan semuanya rapi, lalu pergi melakukan kesibukan lainnya. Clarisa keluar kamar. Duduk. Makan sedikit. Lalu pergi. Tidak ada tatapan. Tidak ada ucapan terima kasih. Kael tidak mengharapkan apa pun. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa turun di dadanya. Besoknya, Kael membersihkan rumah. Bukan karena diminta—Clarisa bahkan tidak tahu ia akan melakukannya. Buku-buku Clarisa ia susun ulang sesuai kebiasaan lama. Tanaman lavender disiram dengan hati-hati, satu per satu. Clarisa melihatnya dari kejauhan. Ia tahu Kael melakukan itu untuknya. Tapi ia tetap diam. Malam datang lebih berat. Clarisa duduk membaca. Kael berdir

