Satu tarikan napas bertenaga itu cukup mengartikan pikiran dan perasaan Ryn yang abstark. Masih mengenakan hijab jersey, ia bersandar di punggung ranjang. Sementara Lily sudah terlelap disampingnya. “Kau tidak ingin menjawabnya?”. “Uhmm.. aku tidak ingin menjawabnya”. Sekeping ingatan beberapa waktu lalu membuatnya tak bisa langsung tertidur. Semua itu mengganggunya. Hati begitu gelisah. “Kenapa aku tidak bisa bersikap netral?” Ryn bertanya-tanya. Selanjutnya, kedua bola mata itu mengarah pada sebuah dinding yang berada tepat di sampingnya. Ryn lantas tertegun sejenak, sampai akhirnya berpindah posisi. Memilih bersandar dibalik dinding. “Maaf.. aku harus melakukannya. Jika tidak.. akan ada rasa yang lebih dalam”

