Tengah malam, tepatnya pukul 01.00 dini hari, Zehra terbangun dari tidurnya karena merasa ada sesuatu yang bergerak hingga mengenai tempat tidurnya. Zehra langsung menghidupkan lampu dan terkejut melihat Athan tengah meracau di bawah sambil tertawa tidak jelas. Ia lantas segera menghampiri Athan yang duduk bersandar di lantai. Dengan setengah berjongkok, Zehra berusaha untuk menyadarkan suaminya. Sepertinya, Athan sedang merasa tertekan karena masalah yang belakangan ini ia hadapi. Zehra bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari napas Athan. Tak heran jika Athan meracau seperti orang gila.
"Athan, sadarlah. Jangan seperti ini," pinta Zehra.
Athan justru tertawa mendengar ucapan Zehra. Ia membelai lembut rambut wanita itu sambil tersenyum begitu manis. Senyuman manis itu dapat dilihat jelas oleh Zehra untuk pertama kalinya. Zehra terkejut suaminya memberikan ia sebuah senyuman yang tak pernah ia duga sebelumnya. "Zehra, apakah benar ini kutukan? Apakah kutukan itu memang nyata? Kenapa aku harus mengalami hal ini, Zehra? Apa yang salah? Aku tidak berbuat apa-apa, kan? Kenapa Tuhan menghukumku, Zehra?"
Zehra memejamkan matanya sejenak sambil menghela napas. "Athan, aku tahu kau sedang tertekan dengan semua masalah ini. Tapi kumohon, jangan bertingkah seperti ini. Alkohol tidak akan membuatmu keluar dari masalah."
"Apa? Kau bilang apa? Aku tidak dengar," ujar Athan yang sudah tidak bisa diajak bicara dengan baik. "Aku ini seorang Godfather, Zehra. Tapi kenapa banyak sekali yang berani menyerangku? Mereka tidak mengenal aku? Aku bisa membunuh mereka, Zehra. Aku bisa."
"Ya Tuhan." Zehra mulai bingung harus berbuat apa. Melihat suaminya seperti itu membuat hatinya seakan teriris. Sakit sekali. Seolah Zehra bisa merasakan penderitaan yang dirasakan oleh suaminya. "Athan, aku yakin kau orang yang kuat. Kau pasti bisa melewati ini semua. Aku akan selalu bersamamu dalam keadaan apapun. Sebaiknya, kau istirahat ya."
Athan menggeleng kemudian menangis. Orang yang sudah mabuk, perasaannya tidak dapat ditebak, seperti Athan saat ini. "Zehra, kenapa orang tuaku tidak mendukung keinginanku? Ayahku memaksa agar aku bisa memimpin Mávro Chéri. Padahal aku tidak suka dengan kelompok itu. Awalnya, aku ingin menjadi seorang pilot yang bebas terbang di angkasa kapan saja. Aku terus merengek pada mereka agar mereka mendukung cita-citaku. Tapi, ayahku berkeras ingin menjadikanku sebagai ketua dari kelompok menyebalkan itu. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk kabur dari Santorini dan membuat kelompok mafiaku sendiri. Aku menanggalkan cita-citaku demi membalaskan rasa kesalku pada Ayah. Apa aku salah mengambil keputusan itu, Zehra? Apa aku tidak berhak menentukan pilihanku sendiri? Haruskah Ayahku yang menentukan masa depanku?"
Mendengar cerita Athan, Zehra akhirnya sadar bahwa sifat egois Athan dipicu karena paksaan dari orang tuanya. Menjadi seorang mafia bukanlah impian Athan yang sebenarnya, melainkan karena ingin membalaskan rasa kecewanya pada sang ayah. Memang, cerita yang beredar di masyarakat tentang Athan masih belum bisa dibuktikan kebenarannya. Dan di tengah malam ini, akhirnya Zehra mengetahui cerita yang sebenarnya. Pantas saja Athan enggan menceritakan kehidupan masa lalunya. Ternyata ini alasannya. Ia menjadi brutal dan gila karena impian sesungguhnya tidak tercapai.
"Aku ingin bebas, Zehra. Aku ingin bebas dari tuntutan orang tuaku. Impianku hanya ingin menjadi seorang pilot, bukan menjadi seorang mafia. Bagiku, menjadi seorang mafia itu hanya akan menambah dosa saja. Sejujurnya, aku tidak sanggup membunuh orang-orang, tapi aku terpaksa melakukan ini agar Ayahku sadar bahwa tidak semua hal bisa diatur sesuka hatinya. Bahkan aku sudah merencanakan untuk melakukan p*********n terhadap orang tuaku sendiri, terutama Ayah. Aku kesal padanya," lanjut Athan sambil menangis terisak.
Zehra yang merasa terharu mendengar hal tersebut pun langsung memeluk suaminya dengan erat. Ia tidak menyangka jika Athan harus menanggung semua beban itu sendirian. Zehra yakin, dalam lubuk hati Athan yang terdalam, masih ada rasa sayang untuk keluarganya. Tapi Athan masih enggan untuk mengakuinya karena rasa sayang itu tertutupi oleh rasa kebencian yang mendalam. Impian yang tidak dapat dicapai memang sangat menyakitkan, apalagi yang menjadi penghalangnya adalah orang tua sendiri. Sudah pasti sangat menyedihkan. Sampai akhirnya, Athan memutuskan menjadi seorang ketua mafia dari kelompok buatannya sendiri, padahal itu hal yang sama sekali tidak disukai Athan.
"Aku benci mafia, Zehra. Aku benci. Mafia itu hanya pekerjaan buruk. Lebih baik aku mati sebagai pilot dalam kecelakaan pesawat daripada mati sebagai mafia dalam peperangan. Seorang pilot memiliki tugas yang mulia, bertanggungjawab untuk melindungi nyawa manusia di dalamnya, bukan memusnahkan manusia," Athan kembali bersuara dalam pelukan Zehra.
"Athan, tenanglah. Jangan dipikirkan kembali masalah itu. Yang berlalu, biarkan berlalu. Tidak baik jika kau terus mengungkitnya. Maafkan kesalahan orang tuamu dan jangan sampai kau durhaka pada mereka," ujar Zehra. "Apa kau bisa mengerti ucapanku?"
Tapi sayang, Athan sudah tertidur dalam pelukan Zehra. Wanita itu berusaha sebisa mungkin untuk menaikkan Athan ke atas tempat tidur. Meskipun tubuh Athan berat, tapi Zehra mampu melakukannya sendirian. Setelah suaminya berada di atas tempat tidur, Zehra langsung membuka kemeja Athan secara perlahan dan menggantinya dengan piyama tidur. Begitu juga dengan celananya. Kemudian Zehra menyelimuti tubuh Athan sampai sebatas pinggang.
Saat hendak pergi, tiba-tiba Athan menggenggam tangan Zehra sambil berucap dengan kondisi mata yang tertutup, "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku mohon."
Mendengar hal itu, Zehra mengurungkan niatnya tadi dan memutuskan untuk menjaga Athan di sana. Ia duduk di samping Athan sambil tetap menggenggam tangannya. Sementara tangan kanannya membelai lembut rambut suaminya.
"Tuhan, tolong berikan kebahagiaan untuk suamiku dalam setiap langkahnya. Jangan biarkan dia merasa kesepian. Dia sudah banyak menyimpan beban sendirian selama bertahun-tahun. Tolong, berikan dia kelonggaran atas hukuman ini, Tuhan," Zehra berdoa untuk suaminya.
***
Pukul 10.00 pagi, Athan baru keluar dari kamar dengan kepala yang terasa pusing dan berdenyut. Ia berjalan menuruti anak tangga sambil memegangi kepalanya. Sementara Zehra baru saja kembali dari taman dan langsung menghampiri Athan yang sudah berada di anak tangga terakhir. Dengan sigap, Zehra membantu Athan berjalan menuju sofa dan mendudukkannya di sana. Athan menyandarkan kepalanya yang benar-benar terasa berat. Entah berapa botol alkohol yang diminumnya, sampai ia benar-benar kacau. Bahkan Athan tidak ingat dengan semua ucapannya. Untungnya, Zehra tidak membahas masalah itu lagi.
"Kau tunggu di sini ya. Aku akan ambilkan minum untukmu," ucap Zehra dan diangguki oleh Athan.
Tak menunggu waktu lama, Zehra sudah kembali sambil memegang segelas air mineral di tangan kanannya, kemudian memberikannya pada Athan. Setelah Athan meminumnya sampai habis, Zehra berinisiatif untuk memijat pelan kepala Athan dan itu benar-benar membuat Athan merasa nyaman. Bahkan pria itu sampai memejamkan matanya untuk menikmati pijatan tangan Zehra di kepalanya. Hal romantis itu ternyata dilihat oleh Michaël di lain tempat dan langsung ia abadikan di ponselnya. Setelah itu, Michaël bergegas keluar untuk mengawasi seluruh mansion bersama penjaga lainnya.
"Zehra," panggil Athan.
"Ya?"
"Dimana kau belajar memijat seperti ini? Ini benar-benar nyaman buatku," ujar Athan yang memuji pijatan sang istri. "Aku bahkan tidak ingin pijatan ini selesai dengan cepat."
Zehra terkekeh mendengarnya. "Aku belajar dari Ibuku, Athan. Pijatan Ibuku lebih enak dari pijatanku. Andai saja dia masih hidup, mungkin kau sudah dimanjakan seperti anak sendiri olehnya."
"Apakah Ibumu bersedia menerimaku sebagai menantunya? Kau tahu kan aku ini kejam dan tidak punya perasaan. Mana ada seorang Ibu yang merelakan putrinya menikah dengan pria sepertiku," celetuk Athan.
"Hhh!" Zehra menghela napas sesaat. "Athan, setiap orang berhak untuk berubah. Tidak semua orang yang kejam itu tidak punya perasaan. Beberapa orang mungkin akan menilaimu seperti itu, tapi beberapa orang lainnya bisa saja mengira kau adalah orang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang menyebabkanmu berubah menjadi orang yang kejam."
"Apa kau percaya aku termasuk salah satu orang yang berubah karena sebuah alasan?" tanya Athan.
"Aku percaya," jawab Zehra.
Athan terkejut. "Apa kau yakin?"
"Aku sangat yakin," jawab Zehra mantap. "Tapi, aku tidak ingin mendengarkan alasan itu. Jika kau menceritakannya, kau pasti akan bersedih. Aku tidak ingin melihatmu bersedih."
Athan terdiam sesaat. Ia menatap Zehra yang masih sibuk memijat kepalanya. Kemudian ia bertanya, "Kenapa kau masih bersikap baik padaku? Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, Zehra. Harusnya kau tidak bersikap seperti ini padaku. Kau memiliki banyak kesempatan untuk pergi, tapi kenapa kau tidak pergi juga?"
"Aku tidak punya alasan untuk pergi saat ini, Athan. Jadi, berhentilah berucap seperti itu dan nikmati saja pijatanku ini. Kau harus merilekskan pikiranmu dari semua hal-hal yang penting untuk kau pikirkan. Santai saja. Melihat perubahan sikapmu saja sudah cukup membuatku senang," ujar Zehra sambil memberikan senyuman termanisnya pada Athan.
Seperti sebelumnya, Athan mulai merasa pipinya memanas karena senyuman manis Zehra. Pria itu mengalihkan wajahnya ke arah lain dan berusaha menetralkan detak jantungnya. Athan memang mengakui senyuman Zehra teramat manis sampai membuatnya tidak mampu berkonsentrasi. Sejak kepergian Zehra ke Pulau Guadeloupe, Athan memang merasa kesepian. Tapi pria itu lagi-lagi menonjolkan sifat angkuhnya, seolah ia tidak membutuhkan kehadiran Zehra disampingnya.
Saat keheningan terjadi, tiba-tiba Zehra mendengar suara perut Athan. Zehra baru ingat bahwa suaminya itu belum sarapan pagi ini. "Athan, aku akan mengambilkan sarapanmu sebentar ya. Kau tunggu di sini."
"Hhm."
Athan berusaha menutupi rasa malunya, karena ia juga mendengar suara perutnya itu. Entah kenapa Athan menjadi sedikit pemalu belakangan ini. Apalagi di depan Zehra. "Ya Tuhan. Kenapa jantungku berdetak seperti ini?" gumamnya pelan.
Setelah beberapa saat kemudian, Zehra kembali menemui Athan sambil membawa sepiring makanan dan s**u segar yang diambil dari lemari pendingin. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan meminta Athan untuk segera memakannya. Athan menuruti ucapan Zehra dan melahap makanan yang disediakan. Athan memuji masakan Zehra dari dalam hatinya. Seperti yang kita ketahui, Athan bukanlah orang yang mudah untuk memuji. Sifat jual mahalnya masih terlihat jelas.
"Athan, aku mau membantu Maria dulu di taman ya. Jika sudah selesai makan, letakkan saja di dapur. Nanti akan aku cuci piringnya," ujar Zehra.
"Baiklah."
Athan membiarkan Zehra keluar sambil tetap memandangi punggung indah istrinya itu. Senyuman pun terlihat di bibir Athan. Kekagumannya akan sosok Zehra masih melekat sampai sekarang. "Zehra, andai kau tahu apa yang terjadi di masa laluku. Mungkin kau tidak akan mengalami penderitaan seperti ini saat bersamaku. Maafkan aku karena telah membuatmu terluka. Aku mungkin tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Kau terlalu baik untukku, Zehra."
Tak lama setelah itu, ponsel Athan berdering. Athan bergegas menerimanya setelah membaca nama si pemanggil. "Serge, bagaimana kabarmu?"
"Saya baik-baik saja, Monsieur. Bagaimana dengan anda?"
"Aku baik. Kau ada dimana sekarang? Kemarin Damien mengirimkan pesan pada Michaël tentang kondisi kalian, tapi dia tidak memberitahu keberadaan kalian saat ini," ujar Athan sedikit khawatir.
"Kami sedang bersembunyi di mansion kedua, Monsieur. Kami terus memantau pergerakan kelompok Ichida yang masih mengawasi mansion utama dari depan."
Athan mengernyit. "Kalian menyelinap masuk dari belakang? Bukankah itu semak belukar?"
"Itu benar, Monsieur. Mau bagaimana lagi. Hanya itu jalan satu-satunya untuk masuk ke mansion kedua. Tidak ada akses lain lagi, Monsieur."
"Ah, iya benar. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan kalian?" tanya Athan.
"Anda tidak perlu melakukan apapun, Monsieur. Sebaiknya anda tetap bersembunyi, biar kami yang mengurus semua masalah di sini. Kami akan baik-baik saja selama anda percaya pada kami."
Athan mengangguk sendiri. "Baiklah. Semoga kalian berhasil dan berhati-hatilah."
"Baik, Monsieur."
Athan mengakhiri panggilan dan kembali melanjutkan aktifitas makannya. Setelah selesai, ia menghabiskan segelas s**u segar yang telah disiapkan, kemudian meletakkan piring serta gelas kotor itu di dapur, sesuai dengan instruksi Zehra. Selanjutnya, Athan memutuskan untuk pergi ke ruang biliard yang ada di lantai tiga.
To be continue~