Keesokan paginya, Athan dan Michaël sudah memesan taksi secara online. Taksi tersebut sudah menunggu di basement apartement. Beberapa barang penting sudah dibawa oleh Athan, begitu juga dengan Michaël. Sedangkan Zehra hanya membawa ponsel saja di saku celananya, karena Athan melarangnya membawa pakaian, selain yang ia pakai. Mereka bertiga sudah berada di dalam taksi dan taksi tersebut melaju meninggalkan basement apartement. Posisi duduk Athan berada di belakang sopir dan di sebelah kanannya ada Zehra yang tengah melamun menatap keluar jendela. Sementara Michaël duduk di samping kanan sopir.
Perjalanan menuju bandara hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja dari lokasi apartement Zehra. Kini mereka bertiga sudah tiba di bandara dan bergegas menaiki pesawat yang sudah dijadwalkan akan berangkat pukul 09.00 pagi. Mereka tiba di sana setengah 15 menit sebelum lepas landas. Setelah berada di pesawat, Athan duduk berdampingan dengan Zehra, sedangkan Michaël berada di belakang mereka berdua. Athan memeriksa ponselnya untuk menghubungi Serge. Tapi, nomornya tak kunjung aktif. Michaël sendiri juga berusaha menghubungi Damien dan Alexandre, namun hasilnya tetap nihil.
"Sebaiknya kau tidur. Perjalanan masih jauh. Aku akan tetap berjaga di sini," ujar Athan yang tampaknya mengerti Zehra sedang kelelahan.
Zehra hanya mengangguk lalu memejamkan matanya. Kebetulan ia duduk di dekat jendela dan itu adalah tempat paling nyaman menurutnya. Sementara Athan dan Michaël tetap mengawasi sekitar mereka. Barangkali ada musuh yang berhasil mengikuti mereka ke dalam pesawat. Salah satu pramugari cantik datang menawarkan beberapa minuman dan makanan, namun Athan menolaknya. Bukan sombong, Athan hanya berjaga-jaga saja. Mungkin itu salah satu jebakan dari musuh dan Athan tidak mau terkecoh dengan hal itu, meskipun pramugari itu sangat cantik dan seksi, sesuai dengan selera Athan. Michaël sendiri sempat was-was dengan tuannya itu. Kebiasaan Athan sejak dulu jika berada dalam pesawat, Athan selalu menggoda para pramugari yang menghampirinya. Itu sebabnya Michaël tetap mengawasi Athan agar tidak bertindak ceroboh dalam situasi mencekam ini.
Selang beberapa menit kemudian, masuk sebuah pesan dari Damien di ponsel Michaël. Michaël langsung membuka pesan tersebut dan membacanya dalam hati.
Damien : Michaël, aku sekarang berada di mansion. Tolong bawa Monsieur pergi.
Damien : Jangan kembali sebelum aku memberi aba-aba lagi.
Damien : Serge dan yang lainnya aman bersamaku. Jangan risaukan kami.
Setelah membaca pesan tersebut, Michaël pun menghela napas lega. Akhirnya ia mendapatkan kabar baik dari Damien dan yang lainnya. Michaël memberikan ponselnya pada Athan untuk menunjukkan isi pesan itu. Athan pun ikut menghela napas lega. Setidaknya ada harapan bagi Athan untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya sampai kondisinya benar-benar pulih. Jujur saja, punggung masih sering terasa sakit, namun Athan berusaha menahankan rasa sakit itu sendirian agar tidak ada yang mencemaskannya.
***
Sekitar 2 jam lebih 5 menit, mereka bertiga sampai di Roma, Italia. Untungnya Athan tidak memilih Milan sebagai tempat persinggahannya, karena orang tua dan adiknya masih berada di Milan sampai saat ini. Jika Athan memilih Milan, mungkin mereka akan bertemu secara tidak sengaja. Dari bandara, mereka bertiga menaiki taksi menuju rumah milik Athan yang lokasinya hanya memakan waktu sekitar 30 menit dari bandara. Ini merupakan kunjungan ke-5 bagi Athan dan Michaël. Beberapa tahun terakhir ini, Athan memang belum melihat rumahnya lagi. Tapi untungnya ada beberapa pengurus di sana, jadi kondisi rumah tetap bersih dan terawat.
30 menit kemudian, taksi tersebut berhenti tepat di depan gerbang rumah Athan. Sesuai yang ada dipikiran Zehra sebelumnya, rumah tersebut termasuk besar dan tidak sesuai dengan ucapan Athan. Bahkan menurut Zehra, rumah itu lebih besar dari mansion yang ada di Kota Nice. Halamannya juga lebih luas. Zehra sampai tercengang melihatnya. Untuk sampai di depan pintu rumah saja mereka harus berjalan cukup jauh dari pintu gerbang.
"Athan, kau berbohong," ujar Zehra.
Athan langsung menatap Zehra. "Apa maksudmu?"
"Kau bilang rumah ini tidak terlalu besar. Tapi kenyataannya, rumah ini lebih besar dari mansionmu yang ada di Kota Nice. Ini juga layak disebut sebagai mansion, Athan," kata Zehra antusias. "Kau berusaha merendah di depanku. Padahal sebenarnya ini lebih dari yang kau ucapkan sebelumnya."
Michaël terkekeh mendengar ucapan Zehra. "Madame, ini memang mansion terbesar milik Monsieur. Beliau sengaja menyebutnya rumah di depan anda."
"Ck! Menyebalkan," gerutu Zehra.
"Terserah," balas Athan cuek.
Zehra hanya mendengus dan terus mengikuti langkah Athan. Akhirnya mereka sampai di depan pintu mansion yang disebut sebagai rumah biasa oleh Athan. Seseorang membukakan pintu dari dalam setelah Athan menekan bel yang ada di dekat pintu. Wanita paruh baya yang menjadi pengurus mansion tersebut pun langsung menyambut ketiganya dengan baik. Athan berjalan mendahului Zehra dan Michaël. Ia menatap ke sekeliling mansion dan semua masih tertata dengan rapi.
"Maria," panggil Athan pada pengurus tersebut.
"Ya, Signore (Tuan dalam bahasa Italia)?" Maria bergegas menghampiri Athan, "Anda memerlukan sesuatu?"
Athan mengangguk. "Tolong siapkan segala keperluan istriku selama di sini. Jangan lupa untuk menemaninya berbelanja pakaian di toko seberang. Aku akan mengawasi kalian dari sini."
"Baik, Signore."
Maria kembali menghampiri Zehra dan mengajaknya pergi menuju toko pakaian yang berada di seberang mansion. Tak lupa Athan memberikan kartu kreditnya kepada Maria untuk membeli semua keperluan Zehra. Sementara Athan meminta Michaël untuk mengawasi mereka dari gerbang mansion saja. Michaël pun menuruti perintah Athan dan bergegas mengikuti kedua wanita tersebut.
Athan duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya. Sungguh melelahkan baginya harus bersembunyi seperti ini. Ini bukanlah kebiasaannya. Tapi mau bagaimana lagi? Athan harus menyingkirkan sejenak rasa egoisnya demi keselamatan Zehra. Entah kenapa Athan merasakan perubahan itu pada dirinya. Athan merasa dirinya yang sekarang bukanlah dirinya yang dulu. Sikapnya benar-benar berubah drastis, terutama pada Zehra.
"Kenapa aku bisa berubah seperti ini?" gumam Athan. "Pantas saja Michaël merasa aneh saat melihatku, karena aku tidak seperti biasanya. Padahal sebelumnya aku sangat membenci Zehra dan bahkan untuk melihat wajahnya saja aku malas. Tapi sekarang, ada yang berbeda dalam diriku."
Athan mengusap wajahnya merasa frustrasi, berusaha sebisa mungkin untuk menyingkirkan pikiran tersebut. Athan tidak mungkin mencintai wanita yang sangat ia benci. Itu hal yang mustahil baginya. Tapi hal itu tidak mustahil bagi Tuhan. Tuhan yang mampu mengubah hati seseorang. Jadi, jika Athan mencintai Zehra, itu karena kehendak dari Sang Pencipta.
Athan tersentak saat ponselnya berdering. Dilihatnya layar ponsel yang menyala dan menampilkan nama serta nomor dari adik kandungnya. Athan memutar bola matanya malas dan terpaksa menerima panggilan tersebut. "Ada apa? Aku sedang sibuk."
"Kak, tolong temui orang tuamu sebentar saja. Mereka sangat merindukanmu."
"Ck! Aku tidak punya waktu," jawab Athan dengan nada ketus. "Lagipula, apa untungnya bagiku menemui mereka, hah? Mereka sudah menghalangi jalanku untuk menjadi seorang Godfather di Perancis. Untuk apa aku menemui mereka?"
"Kau memang keterlaluan! Mereka melarangmu karena ada alasannya! Aku tahu, saat ini kau sedang dalam masa sulit. Jadi jangan sombong!"
Athan mendengus kesal. "Aku tidak peduli."
Athan langsung mematikan secara sepihak panggilan tersebut dan meletakkan ponselnya di atas meja. Hari ini, Athan sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri. Mood Athan sedang kacau, mengingat peristiwa dimana Raid King dipermalukan oleh Marco Pasquier saat berada di rumah sakit. Ditambah lagi urusannya dengan Ichida yang belum selesai. Kepala Athan terasa pusing memikirkan hal tersebut.
Beberapa saat kemudian, Maria dan Zehra sudah kembali ke mansion bersama dengan Michaël di belakang mereka berdua. Athan menatap Zehra yang sedang menjinjing beberapa plastik belanjaannya. "Bawa dia ke kamar, Maria."
"Baik, Signore."
"Tunggu," Zehra menghentikan langkah Maria.
"Ada apa, Signora (Nyonya)?" tanya Maria.
Zehra duduk di samping kanan Athan sambil meletakkan barang belanjaannya di atas meja. "Aku masih ingin duduk di sini."
"Hhh! Maria, kau boleh pergi," perintah Athan.
"Baik, Signore."
Maria pun pergi meninggalkan Athan dan Zehra, sedangkan Michaël meminta izin untuk ke toilet sebentar. Tinggallah mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Athan memandang ke arah lain, namun Zehra tetap fokus menatap Athan.
"Berhenti menatapku," ujar Athan.
"Kenapa?" tanya Zehra.
"Ck! Aku tidak suka," jawab Athan ketus. "Kenapa kau tidak istirahat saja di kamar? Aku sedang ingin sendirian sekarang."
Zehra mendadak murung. "Apa kau masih memikirkan masalah p*********n itu?"
"Hhm."
"Hhh!" Zehra menghela napas lelah. "Sampai kapan kita akan terus seperti ini, Athan? Aku hanya lelah melihatmu tidak bertenaga seperti ini. Mana Athan yang kukenal sebelumnya?"
Akhirnya Athan menatap Zehra. "Zehra, kumohon tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin berbicara apapun. Aku sedang memikirkan cara untuk terbebas dari semua ini. Pergilah. Jangan membuatku marah."
"Baiklah. Jika perlu sesuatu, panggil aku ya."
Athan hanya mengangguk sebagai jawabannya. Zehra pun bergegas menuju ke kamar sambil membawa barang-barangnya. Zehra harus bisa mengerti posisi Athan mulai sekarang. Karena jika tidak, sikap tempramen Athan bisa saja muncul kembali. Saat ini, sikap Athan masih sangat labil, jadi Zehra harus tetap berhati-hati dalam bersikap.
***
David tiba di rumahnya dengan perasaan senang karena bisnisnya berjalan dengan lancar. Namun kesenangannya itu tidak berlangsung lama, setelah mendengar kabar tentang Athan dari Caesar. Menurut info yang Caesar dapatkan, Athan sudah pergi dari apartemen Zehra namun Caesar tidak mengetahui kemana tujuan Athan. Hal itu yang membuat David murka sampai melepaskan satu pelurunya ke atap.
"Kau ini tidak bekerja dengan serius ya, hah?! Kenapa kau tidak mengetahui tujuannya?! Harusnya kau bisa bergerak lebih cepat dari mereka! Kau telah menyia-nyiakan kesempatan itu, Caesar!" teriak David.
"Maaf, Monsieur. Mereka sengaja menutupi hal ini agar kita tidak bisa mengejarnya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan mereka, Monsieur," ujar Caesar ketakutan.
David melemparkan sebuah gelas kaca ke arah Caesar. Untungnya Caesar segera menghindar. "Aku tidak mau mendengarkan alasanmu itu! Yang kumau adalah Athan Doxiadis Carras beserta istrinya! Kau harus menangkap mereka sekarang juga, atau kepalamu yang akan menjadi gantinya! Cepat pergi!"
"Ba-Baik, Monsieur."
Caesar bergegas pergi dari hadapan David. Sedangkan David menghancurkan sebagian barang di rumahnya karena merasa kesal. Keinginannya untuk membunuh Athan belum tersampaikan juga. Ini semua karena kecerobohan Caesar. Pikirnya.
"Athan, sejauh mana kau akan menghindar dariku, hah?! Kau tidak akan kubiarkan lolos kali ini! Kau harus segera mati! Kau harus mati, Athan!" teriak David seperti orang yang kerasukan setan.
To be continue~