Bab 32

1423 Kata
Setelah menikmati makan malam bersama, Athan mengajak Michaël untuk mengobrol sejenak di teras balkon apartemen Zehra. Sementara Zehra memilih untuk beristirahat di kamar setelah menyelesaikan semua tugasnya di dapur. Membiarkan suaminya berbicara hal penting dengan Michaël. Tak lupa pula Zehra mengecek kembali pintu apartemen, apakah sudah dikunci atau belum, karena ia takut ada penyusup yang masuk. Zehra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menetap langit-langit kamarnya. Entah kenapa hatinya mendadak gelisah. Zehra merasa takut jika kejadian yang terjadi di rumah sakit waktu itu akan terulang lagi. Seperti yang pernah dikatakan oleh Michaël sebelum dirinya pergi ke Pulau Guadeloupe. Hidup mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu, namun dulu mereka jarang sekali mengalami serangan mendadak seperti yang sudah terjadi belakangan ini. Biasanya para musuh tidak akan langsung menantang Athan secara langsung, hingga mereka bisa mempersiapkan keperluan terlebih dulu. "Ya Tuhan, jangan sampai kejadian itu terulang kembali. Aku benar-benar takut," gumam Zehra sambil menyentuh dadanya karena merasa begitu cemas. "Aku mohon, lindungilah kami semua dari hal-hal buruk itu, Tuhan. Aku tidak sanggup melihat suamiku dan para anggotanya merasakan kesakitan. Aku tahu, ini mungkin peringatan dari-Mu agar suamiku bisa berubah. Tapi setidaknya lindungilah suamiku. Jangan membuatnya terluka." Sementara di balkon, Athan tengah membicarakan perihal p*********n yang terjadi di rumah sakit beberapa waktu lalu. Athan masih menunggu kabar dari Serge dan anggota lainnya. Karena sampai detik ini, Konselor dan Don-nya tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Bahkan Michaël sendiri tidak dapat menghubungi mereka. Athan merasa khawatir akan sesuatu. Hatinya mendadak cemas. Mungkin p*********n selanjutnya akan terjadi tanpa mereka sadari. "Bagaimana menurutmu, Michaël? Apa kita harus keluar dari negara ini untuk sementara waktu? Setidaknya sampai Serge dan yang lainnya memberi kabar," ujar Athan meminta pendapat Michaël. Michaël mengangguk, pertanda ia setuju. Tapi ada hal lain yang harus ia sampaikan sebelum meninggalkan Perancis. "Itu salah satu solusi yang bagus, Monsieur. Tapi kita harus ingat kembali, untuk menuju ke bandara, kita membutuhkan setidaknya sepuluh orang pengawal. Saya yakin, adik dari Marco tidak akan membiarkan kita lolos begitu saja, meskipun kematian Marco bukan kesalahan anda. Tapi saya tahu bagaimana watak dari David Pasquier, Monsieur. Dia bukanlah orang yang mudah memaafkan. Dia pasti akan menghancurkan orang-orang yang telah merenggut nyawa salah satu keluarganya." "Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kita juga tidak mungkin menetap di sini terus-menerus. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemukan kita di sini. Kita harus bergegas pergi dan kita akan kembali setelah semuanya aman terkendali," ujar Athan. "Saya tahu, Monsieur. Saya juga mencemaskan hal itu. Tapi keputusan ini memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi. Kepergian kita mungkin akan membuat musuh menghentikan p*********n, tapi itu hanya sementara waktu saja. Jika mereka tahu kita sudah kembali, p*********n itu pasti akan tetap terjadi." Athan menghela napas berat. "Jadi maksudmu, kita harus tetap berada di sini?" "Menurut saya sebaiknya begitu, Monsieur," jawab Michaël. "Ck! Bagaimana jika mereka tahu tempat ini dan langsung menyerang kita? Kau tahu kan kita tidak punya akses keluar lain, kecuali melompat dari balkon ini." Athan masih belum puas dengan saran dari Michaël. Memang apartemen Zehra ini tidak memiliki akses keluar selain pintu utama. Yang Athan pikirkan sedari tadi hanyalah hal itu. Jika dirinya harus melompat dari balkon, mungkin tidak masalah baginya. Tapi, Athan tidak mungkin membiarkan Zehra melompat, bukan? Seorang wanita tidak akan bersedia melompat dari ketinggian seperti itu hanya untuk menyelamatkan diri dari musuh. "Aku tidak masalah jika harus melompat dari ketinggian, tapi hal itu mustahil dilakukan oleh Zehra. Kita tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini saat musuh menyerang. Sudah pasti, Zehra akan menjadi tumbal mereka. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi." Mendengar pernyataan Athan pun, Michaël langsung tercengang. Sejak kapan tuannya itu peduli pada Zehra? Biasanya Athan akan mengabaikan wanita itu dan mementingkan dirinya sendiri. Tapi kali ini tidak seperti itu. Michaël tidak menyangka perubahannya akan sedrastis ini. "Monsieur mengkhawatirkan Madame?" tanya Michaël. "Tentu saja," jawab Athan dengan cepat. "Dia itu seorang wanita dan tidak mungkin kita membiarkannya begitu saja. Kau sendiri, apa tega melihat seorang wanita dijadikan tumbal untuk musuhmu sendiri?" Michaël langsung menggeleng. "Tidak, Monsieur. Bagaimana pun juga, kita harus melindungi seorang wanita, sekalipun dia berprofesi sebagai jalang." "Jika sudah tahu, kenapa kau tidak mengikuti saranku untuk pergi dari sini secepatnya? David pasti akan dengan mudah menemukan kita di sini. Kau tahu sendiri bagaimana mata-mata yang bekerjasama dengan David. Mereka sangat ahli," ujar Athan sedikit kesal. "Tapi, kita tidak memiliki pengawal, Monsieur. Ini terlalu berbahaya." Athan menghela napas berat lalu berdecak kesal. "Kita akan memesan taksi online menuju bandara. Kita akan berangkat ke Italia dan menetap di sana untuk sementara waktu." "Baiklah. Saya akan mengaturnya, Monsieur." "Hhm. Sekarang, pergilah tidur. Aku masih ingin menikmati udara malam di sini," perintah Athan. Michaël mengangguk. "Saya permisi, Monsieur." Michaël beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam untuk tidur di sofa, sementara Athan masih melamun di balkon apartemen. Ia menatap pemandangan malam dari sama dan menurutnya itu sangatlah indah. Jika saja situasinya tidak buruk seperti sekarang ini, mungkin Athan akan tetap tinggal di sana untuk waktu yang lama. Pantas saja istrinya betah tinggal di apartemen tersebut. Ternyata pemandangannya seindah itu. Bintang-bintang terlihat jelas di langit malam yang cukup cerah. Udara malam juga terasa sejuk hingga membuat Athan betah berlama-lama di sana. Saat tengah asyik menikmati suasana malam, tiba-tiba saja seseorang menutup punggung Athan dengan selimut tebal. Athan langsung menoleh ke belakang dan melihat Zehra tengah tersenyum padanya. Pria itu lantas memalingkan wajahnya dengan cepat karena tak tahan melihat senyuman manis dari istrinya. "Kenapa masih di sini? Kau bisa sakit," ujar Zehra memulai pembicaraan. "Aku tidak apa-apa. Lagipula anginnya sangat sejuk. Jadi, aku tidak mungkin sakit karenanya." Zehra menghela napas. "Dasar keras kepala." "Memang begitu sifatku," celetuk Athan. "Ya baiklah. Aku mengalah," ujar Zehra. "Mau aku buatkan s**u hangat? Biasanya sebelum tidur, ibuku akan membuatkan s**u hangat untukku. Jadi hari ini, aku yang akan membuatkannya untuk suamiku. Kau mau?" Mendengar Zehra menyebutnya sebagai suami, hati Athan bergejolak. Ada perasaan senang sekaligus sedih. Ia senang karena Zehra masih tetap menganggapnya sebagai suami, meskipun sikapnya terlalu kasar. Tapi Athan juga sedih karena merasa bersalah pernah menyakiti wanita tersebut. Athan tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus semua kesalahannya pada Zehra. Dimasa sulit ini, wanita itu tetap mendampinginya dan hampir saja terbunuh karena Zehra tidak mau meninggalkannya saat itu. "Athan," panggil Zehra. "Kau mau? Kenapa melamun?" "Ah, iya. Aku mau," jawab Athan setelah sadar dari lamunannya. "Cepat buatkan. Sepertinya aku sudah mulai kedinginan." "Baiklah. Aku akan segera kembali." Zehra bergegas menuju dapur membuatkan s**u hangat untuk suaminya. Zehra termasuk salah satu wanita baik dan penyabar. Meskipun sudah disakiti berkali-kali, ia tetap saja bertahan pada Athan. Wanita lain mungkin akan meninggalkan Athan begitu saja. Mengingat sikap kasar dan keras kepalanya itu yang sudah mendarah-daging sejak kecil. Tak heran jika Chris merawatnya dengan ekstra, karena sifat tersebut yang bisa membawa malapetaka di masa depan. Dan hal itu benar-benar terjadi. Setelah selesai membuat s**u, Zehra kembali ke balkon dan memberikan s**u hangatnya pada Athan. Pria itu menerimanya dan langsung meminumnya sedikit demi sedikit. Hawa dingin yang sempat menerpanya pun sedikit menghangat berkat s**u tersebut. "Terima kasih," ucapnya pada Zehra. "Iya sama-sama," balas Zehra. "Oh iya, bagaimana dengan anggotamu yang lain? Sudah ada kabar dari mereka?" Athan menggeleng. "Nomor mereka tidak bisa dihubungi. Aku juga baru saja membahas masalah itu dengan Michaël." "Lalu, apa keputusanmu?" tanya Zehra. Athan menatap Zehra sejenak, kemudian kembali menatap langit malam. "Aku memutuskan pergi dari tempat ini untuk sementara waktu, sampai kondisi kembali membaik. Kita akan pergi ke Italia dan tinggal di sana. Apa kau keberatan?" "Italia? Tentu saja aku tidak keberatan, Athan," jawab Zehra antusias. "Kau harus tahu, Italia adalah tempat favoritku. Aku ingin sekali berkunjung ke sana." "Syukurlah jika kau menyukainya," ucap Athan lega. "Jadi, kapan kita akan pergi ke sana?" "Ehm, mungkin besok," jawab Athan. "Kau tidak perlu menyiapkan apapun, karena kita tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan semuanya." Zehra mengernyit. "Lalu, bagaimana dengan pakaianku?" "Kita akan membeli yang baru di sana. Tidak perlu khawatir," jawab Athan santai. Lagipula, uang Athan juga sangat banyak di rekening. Jadi, Athan tidak merisaukan hal tersebut. "Apa kita akan menginap di hotel selama di sana?" tanya Zehra. Athan menggeleng. "Aku memiliki rumah di sana. Tapi, tidak sebesar di sini. Jadi, kita tidak perlu menginap di hotel." "Ah, begitu." Dalam hati Zehra, ia merasa takjub dengan kekayaan Athan. Padahal pria itu terbilang masih muda, namun sudah memiliki kekayaan yang fantastis. Zehra bahkan tidak percaya rumah yang ada di Italia berukuran kecil. Pasti Athan sengaja menutupi hal tersebut. "Sebaiknya kau tidur. Ini sudah malam," kata Athan. Zehra mengangguk. "Aku tidur dulu ya. Kau jangan terlalu lama di luar." "Ya." To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN