Zehra yang sedikit merasa kecewa setelah mendengar jawaban suaminya pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Ia harus menemui Luca yang kebetulan masih berada di apartemennya. Setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih karena telah membantunya sewaktu kondisi psikisnya sedang tidak baik. Zehra duduk di sofa, ikut bergabung bersama Luca dan Michaël. Ia duduk berhadapan dengan kedua pria itu.
"Dokter Luca, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Selama aku sakit, kau selalu menjaga dan merawatku dengan baik. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada Dokter Marliana," ucap Zehra tulus.
Luca tersenyum. "Baik, Madame. Nanti akan saya sampaikan."
"Oh iya, bagaimana kondisi suamiku? Apa lukanya baik-baik saja?" tanya Zehra kemudian.
"Lukanya tidak apa-apa, Madame," sahut Michaël. "Tapi ada sedikit masalah di kepalanya. Sepertinya Monsieur mengalami benturan yang sangat parah."
Zehra mengernyitkan dahinya. "Maksudmu? Aku tidak mengerti, Michaël."
"Madame, tidakkah anda menyadari perubahan sikap Monsieur?" tanya Michaël sambil terkekeh kecil. "Maksud saya, sikap Monsieur sangat baik pada anda, bukan? Apa anda tidak merasakan itu?"
"Astaga, Michaël," Zehra menepuk dahinya sendiri dan ikut terkekeh saat mengingat perubahan sikap suaminya. Ia memang menyadari hal tersebut sejak kemarin. "Aku memang sudah menyadarinya dan aku bersyukur akan hal itu. Jujur, aku juga sangat terkejut melihat perubahannya. Ini sangat mendadak bagiku."
Michaël mengangguk setuju. "Saya juga terkejut, Madame. Bahkan Dokter Luca tidak percaya dengan apa yang saya ceritakan tentang perubahan Monsieur."
"Itu benar, Madame. Saya juga berpikir, mungkin saja kepala Monsieur terbentur sesuatu hingga membuatnya bisa berubah drastis seperti itu," sahut Luca membenarkan.
Zehra kembali terkekeh. Ternyata yang menyadari hal tersebut bukan hanya dirinya, tapi Michaël dan Luca juga. "Sudahlah. Berhenti menceritakan suamiku. Nanti dia bisa marah jika mendengarnya."
"Baiklah. Maaf, Madame," jawab Michaël dan Luca bersamaan.
"Oh iya, aku akan membuatkan makanan untuk kalian. Tunggu sebentar ya."
Zehra langsung beranjak ke dapur, meninggalkan Michaël dan Luca untuk menyiapkan makanan spesial untuk kedua pria tersebut. Michaël yang merasa tidak enak pun bergegas mengikuti Zehra ke dapur. Pria itu berniat untuk membantu Zehra. Tapi Zehra berusaha menolaknya.
"Madame, biar saya bantu."
"Ah, tidak, Michaël," Zehra menolak. "Kau duduk saja bersama Dokter Luca. Aku akan mengerjakannya sendiri."
"Tidak apa-apa, Madame."
Karena Michaël terus memaksa, akhirnya Zehra membiarkan pria itu membantunya. Saat Zehra ingin mengambil sesuatu di atas lemari gantung dapur, tangan Zehra ditahan oleh Michaël. Pria itu kembali membantunya dan Zehra hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Michaël. Kau sudah terlalu banyak membantuku. Sebaiknya kau duduk saja di sana. Aku tidak apa-apa," ujar Zehra.
"Tidak, Madame. Sudah kewajiban saya untuk membantu anda."
Zehra menghela napas dan kembali fokus pada masakannya. Sementara itu, Michaël melirik ke arah pintu kamar Zehra yang sudah sedikit terbuka. Michaël sudah menduga, tuannya itu akan keluar dari sana. Tiba-tiba saja, Michaël mempunyai sebuah rencana untuk membuat Athan cemburu. Michaël lantas mendekati Zehra dan tanpa sengaja Zehra berbalik untuk mengambil sesuatu, namun tubuhnya menabrak Michaël. Alhasil, Zehra hampir terjatuh. Untungnya, Michaël mampu menahan tubuh Zehra dengan baik. Posisi mereka kini saling berpelukan dan itu dilihat oleh Athan. Michaël melirik sekilas, kemudian terkekeh dalam hati karena telah berhasil melihat kecemburuan di wajah Athan. Michaël segera melepas pelukannya setelah Athan berdeham cukup keras.
"Sedang apa kalian?" tanya Athan dengan wajah kesal.
"Oh, aku sedang memasak dan Michaël membantuku," jawab Zehra.
"Membantu sambil berpelukan?"
Ucapan Athan membuat Zehra mengernyit heran, kemudian menggeleng dengan cepat. Sepertinya Zehra paham maksud Athan. "Tidak, Athan. Tadi, aku tidak sengaja menabraknya. Jadi dia menahan tubuhku agar tidak terjatuh."
"Aku tidak percaya," celetuk Athan kesal.
"Ucapan Madame benar, Monsieur," sahut Michaël. "Semuanya terjadi secara tidak sengaja."
Athan mendecak. "Pergilah ke ruang tamu. Temani Dokter Luca. Untuk apa kau membantunya di dapur? Dia kan bisa melakukannya sendiri. Kau hanya akan mengganggunya saja."
"Ehm, baiklah, Monsieur. Saya permisi."
Michaël bergegas kembali ke ruang tamu sambil terkekeh pelan dan hal itu dilihat oleh Luca. Dokter tersebut sudah paham dengan maksud Michaël. Memang terkadang, sifat jahil Michaël akan tiba-tiba muncul dalam situasi tertentu, contohnya seperti sekarang ini. Luca juga ikut melihat tatapan Athan yang tidak suka dengan kejadian tadi. Tatapannya seolah mengatakan bahwa Zehra hanya miliknya seorang, tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali dirinya sendiri. Begitulah menurut pandangan Luca.
Zehra yang seakan tahu kemarahan Athan pun lantas mendekatinya. "Maaf ya. Aku benar-benar tidak sengaja. Kumohon, jangan marah."
"Siapa yang marah? Aku tidak marah. Lagipula, kau juga tidak peduli padaku. Jadi, untuk apa aku marah?" ujar Athan yang masih berusaha angkuh dan menolak untuk mengakui perasaannya.
"Athan, kau cemburu?" tanya Zehra ragu.
Athan menaikkan alis sebelah kanan. "Cemburu? Untuk apa aku cemburu? Kau kan tahu aku tidak mencintaimu."
"Ah, iya, kau benar." Zehra kembali kecewa. Harusnya ia tidak menanyakan hal itu, karena jawaban Athan akan menyakiti hatinya. "Pergilah dan bergabung bersama mereka. Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian."
"Hhm."
Athan beranjak pergi dari hadapan Zehra. Zehra pun kembali melanjutkan aktifitas memasaknya dan membuang sejenak hal-hal yang berusaha mengusik pikiran dan hatinya. Mungkin, Athan tidak akan pernah mencintainya, bahkan sampai dirinya mati. Zehra harus berusaha menerima kenyataan itu dan berhenti berharap banyak dari suaminya.
***
Brak!
Sebuah meja digebrak dengan keras oleh seorang pria berusia 38 tahun di sebuah rumah mewah bertingkat tiga. Pria tersebut bernama David Pasquier, adik dari Marco Pasquier. David baru saja mengetahui kematian kakaknya yang begitu mengenaskan, karena ia juga baru kembali dari luar negeri. Salah satu asistennya langsung mengatakan apa yang sudah terjadi pada Marco dan David tidak terima dengan hal itu. Bagaimana pun juga, David harus membalaskan dendamnya pada orang yang telah membunuh kakaknya.
"Dimana Athan?!" teriak David pada asistennya yang bernama Caesar.
"Sampai saat ini, kami belum mengetahui keberadaannya, Monsieur. Kami sudah berusaha mencarinya, tapi sepertinya dia bersembunyi di satu tempat yang tidak kita ketahui," ujar Caesar jujur.
Brak!
David kembali menggebrak meja. "Dasar bodoh! Mencari satu orang saja kalian tidak bisa! Aku harus mendapatkannya dan membunuhnya! Dia sudah menyebabkan kematian kakakku! Aku tidak bisa terima begitu saja!"
"Saya akan berusaha untuk mencarinya lagi, Monsieur."
"Cari dia sekarang juga, atau nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya!"
Mendengar perintah tersebut, Caesar bergegas pergi dari hadapan David untuk kembali mencari keberadaan Athan. Sementara David kembali duduk di kursinya lalu membaca informasi tentang Athan yang diberikan oleh Caesar. Saat melihat wajah Athan, David merasa kesal dan hasrat untuk membunuhnya semakin besar. "Sialan kau, Athan! Kau sudah merenggut nyawa kakakku! Nyawa harus dibayar dengan nyawa! Kau tidak akan pernah kulepaskan dengan mudah! Bahkan, aku juga akan m*****i istrimu di hadapanmu! Kau akan merasakan sakit yang kurasakan saat ini!"
David melempar kertas tersebut ke sembarang arah, kemudian ia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangannya. David harus bertemu dengan seseorang untuk membicarakan bisnis penjualan organnya. Ia berusaha meredam emosinya agar tidak terlihat oleh rekan bisnisnya nanti.
To be continue~