Athan terdiam. Ia jadi teringat dengan ucapan Max saat dirinya melakukan perjanjian sebelum dirinya menikahi Zehra. Max mengatakan bahwa Zehra tidak memiliki siapapun, kecuali sahabat baiknya yang bernama Emir. Ternyata ucapan Max benar dan Athan baru menyadarinya sekarang. Sebelumnya, ia menganggap ucapan Max hanya tipu daya semata agar dirinya mengasihani Zehra.
"Ehm, lalu yang bertengkar denganku waktu itu siapa? Apa itu yang namanya Emir, sahabat baikmu?" tanya Athan sedikit ragu.
Zehra mengangguk sambil tersenyum. "Ya, dia Emir. Kami berasal dari negara yang sama. Dia sudah banyak sekali membantuku sampai akhirnya aku sukses berkarir di sini. Dialah satu-satunya orang yang menguatkanku saat aku hampir mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupku. Jika dia tidak datang saat itu, mungkin aku sudah bersama orang tuaku di surga."
"Ah, begitu." Athan mengangguk paham, "Tapi, kenapa dia mengaku sebagai kekasihmu? Apa dia memiliki perasaan yang khusus padamu? Maksudku, lebih dari sekedar sahabat?"
"Aku juga tidak tahu, Athan. Bahkan aku juga terkejut saat itu. Mungkin dia hanya ingin menyelamatkanku saja dari kemarahanmu. Itu sebabnya dia mengaku sebagai kekasihku," ujar Zehra.
Athan kembali berdeham. "Apa kau mencintainya?"
"Ehm, sejauh ini tidak. Memangnya kenapa?" Zehra balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya."
Athan langsung menghindari tatapan Zehra dan duduk di kursi meja makan. Ia segera mengambil nasi serta lauk dan langsung memakannya dengan lahap. Sementara Zehra hanya heran dengan sikap suaminya yang seperti itu. Wanita itu langsung duduk di dekat Athan dan tak lama Michaël pun kembali sambil membawa beberapa plastik belanjaannya. Zehra meminta Michaël untuk sarapan terlebih dulu sebelum membereskan barang belanjaannya itu. Mereka bertiga makan dalam suasana yang hening, namun sesekali Michaël melirik ke arah Athan dan Zehra secara bergantian. Dilihatnya Athan terlihat begitu canggung, sedangkan Zehra tampak biasa saja.
"Mungkinkah Monsieur sudah mulai menyukai Madame? Jika itu benar, ini kabar yang sangat menggembirakan. Semoga saja memang benar," batin Michaël senang.
***
Athan sudah berada di kamar Zehra untuk mencoba beberapa pakaian yang dibeli oleh Michaël. Athan pun memilih memakai t-shirt polos berwarna putih dipadukan dengan celana training berwarna hitam dengan liris putih. Setelah selesai memakai pakaiannya, Athan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu tanpa sengaja menatap pantulan sebuah foto dari cermin yang terpajang di dinding kamar Zehra. Athan menoleh ke belakang dan berjalan mendekati foto tersebut. Senyuman Zehra terlihat begitu lebar saat berfoto bersama kedua orang tuanya. Zehra kecil itu terlihat begitu manis di mata Athan. Paras ayah dan ibu Zehra juga sangat tampan dan cantik. Tak heran jika Zehra begitu cantik dan mempesona.
Sejak pertama kali melihat Zehra, Athan memang langsung terpesona akan kecantikan dan kemolekan tubuh Zehra. Yang membuat Athan membenci Zehra adalah karena wanita itu menolak serta mempermalukannya di depan banyak orang saat itu. Tapi, Athan tetap terpesona saat melihat Zehra. Seketika Athan merasa bersalah karena telah berlaku kejam pada istrinya itu sejak awal menikah. Athan langsung mengalihkan pikirannya dan hendak berbalik untuk keluar dari kamar. Tapi sayang, tubuhnya sudah lebih dulu menabrak tubuh Zehra hingga mereka berdua terjatuh. Posisi Zehra berada di bawah Athan. Keduanya saling bertatapan satu sama lain dan kedua pipi Athan mendadak memanas, sedangkan Zehra tetap terlihat tenang, meskipun hatinya tidak tenang sama sekali.
Mendadak, Athan terkesima dengan kecantikan wajah Zehra yang baru saja selesai mandi. Wanita itu hanya mengenakan piyama handuk dengan rambut yang sengaja disanggul ke atas. Zehra yang merasa tatapan Athan mulai lain pun berusaha untuk menahan d**a Athan.
"A-Athan, cepatlah bangun. Tidak enak jika Michaël melihatnya," ujar Zehra gugup.
"Kenapa? Lagipula ini wajar bukan? Kau istriku dan aku suamimu. Wajar saja kita seperti ini."
Ucapan Athan membuat kedua pipi Zehra merona. Pasalnya, Athan tidak pernah menyebut Zehra sebagai istrinya, apalagi di depan orang-orang. Tapi kali ini, Athan mengakui keberadaannya. Hati Zehra kembali berbunga-bunga hingga tidak tahu harus berkata apalagi pada Athan.
"Ehm, aku mau pakai baju dulu. Kau tunggulah di luar," pinta Zehra yang masih tetap berada di bawah Athan. "Michaël juga sudah memanggil dokter ke sini untuk memeriksa kondisimu."
Athan mendecak kesal lalu membenarkan posisinya sambil membantu Zehra berdiri. Athan bergegas keluar dari kamar dengan raut wajah kesal. Ia kesal karena Zehra tidak memberikan reaksi apapun padanya. Mungkinkah wanita itu sengaja mempermainkannya? Pikir Athan sambil berjalan ke arah Michaël yang tengah berbincang dengan Luca.
Luca yang menyadari kehadiran Athan pun langsung menunduk, memberi hormat. Ia tersenyum ramah pada Athan. "Apa kabar, Monsieur?"
"Aku baik," jawab Athan sedikit ketus. "Kenapa kau memanggil Dokter Luca ke sini, Michaël? Aku baik-baik saja."
"Ah, maafkan saya, Monsieur. Tapi saya hanya ingin memeriksakan saja, apakah tubuh anda baik-baik saja setelah melompat keluar dari mobil waktu itu. Mungkin saja ada benturan yang terjadi di kepala anda, tapi anda tidak menyadarinya," ujar Michaël.
Athan mendecak kesal. "Jika kepalaku terbentur, aku sudah tidak ingat apapun. Bahkan mungkin aku sudah mati. Tapi kau lihat sendiri kan kondisiku? Aku tidak apa-apa. Kau terlalu berlebihan."
"Tidak masalah, Monsieur," sahut Luca. "Saya juga harus memastikan apakah ada luka yang fatal atau tidak. Saya juga akan memeriksa luka di punggung anda. Barangkali saja terjadi infeksi."
"Ck! Terserah saja."
Athan yang kesal langsung membuka t-shirtnya dan membiarkan Luca memeriksa kondisi tubuhnya. Athan sedikit meringis saat Luca menyentuh luka yang ada di punggungnya. Luca membuka sedikit perban yang baru saja diganti oleh Zehra, kemudian menyuntikkan cairan pereda rasa sakit di sana. Setelah itu, Luca kembali memperbaiki perban tersebut. Beberapa luka di tubuh Athan yang lain juga sudah mulai mengering. Luca hanya menuliskan beberapa resep obat agar ditebus oleh Michaël. Setelah selesai pemeriksaan, Athan kembali memakai t-shirtnya.
"Bagaimana lukanya, Dok?" tanya Michaël.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Michaël. Lukanya sudah mulai mengering dan tidak ada infeksi apapun. Sepertinya, Madame merawat Monsieur dengan sangat baik," ujar Luca yang sedikit menggoda Athan.
"Kau benar, Dok. Madame benar-benar merawat Monsieur dengan baik. Aku sampai terharu melihatnya," kata Michaël.
Athan mendengus kesal. "Jangan berlebihan."
"Maaf, Monsieur," ucap Luca dan Michaël bersamaan.
Athan memilih kembali masuk ke kamar Zehra, sementara Luca dan Michaël sama-sama terkekeh pelan. Kedua pria itu tahu bagaimana Athan. Sifat jual mahal Athan masih sangat kentara dan tidak dapat dipungkiri lagi. Athan bukanlah orang yang mudah mengungkapkan isi hatinya. Tapi Luca dan Michaël tahu bahwa Athan memang sudah mulai merasakan perasaan yang lain untuk Zehra, walaupun Athan enggan mengakuinya secara langsung.
Saat berada di dalam kamar, Athan duduk di atas tempat tidur sambil memasang wajah masam karena kesal dengan ucapan Michaël dan Luca. Zehra yang menyadari hal itupun turut duduk di samping kiri Athan setelah selesai menyisir rambutnya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat kesal seperti itu?" tanya Zehra sambil memegang pundak suaminya.
"Bagaimana aku tidak kesal? Mereka berdua meledekku. Aku tahu itu," jawab Athan dengan napas yang menggebu-gebu karena kesal.
Zehra mengernyit. "Maksudmu Dokter Luca dan Michaël?"
"Siapa lagi selain mereka, hah? Ck!"
Zehra terkekeh pelan lalu mengusap pundak suaminya. "Jadilah orang yang penyabar. Mungkin mereka hanya berusaha menghiburmu agar kau tidak memikirkan kejadian buruk waktu itu. Bersyukurlah karena mereka masih berada di dekatmu. Jika tidak, mungkin kau akan merasa kesepian tanpa mereka."
"Ehm, apa kau akan meninggalkanku lagi setelah ini?" tanya Athan ragu.
"Tentu saja tidak, Athan. Aku tidak memiliki alasan lagi untuk meninggalkanmu," ujar Zehra. "Tapi, bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
"Apa itu?"
Zehra menghela napas sejenak, lalu berkata, "Berjanjilah untuk tidak menyiksaku lagi seperti sebelumnya. Tubuhku dan psikisku benar-benar sakit, Athan. Sungguh."
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan mencoba membuktikannya," jawab Athan.
"Hhm, baiklah. Aku akan menantikan pembuktian itu."
Athan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur, kemudian kembali menatap Zehra yang juga masih menatapnya. "Zehra, apa kau tidak merindukanku selama kau pergi dariku?"
"Jika aku tidak merindukanmu, aku mungkin tidak akan kembali untuk menemuimu, Athan. Aku mencari penerbangan malam agar bisa melihat kondisimu," ujar Zehra jujur. "Apa kau juga merindukanku?"
"Tidak."
Jawaban Athan membuat Zehra sedikit berkecil hati. Tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Melihat Athan tidak lagi berbuat kasar saja itu sudah cukup membuat Zehra bahagia. Mudah-mudahan saja kebahagiaan ini akan berlangsung lama.
To be continue~