Bab 29

1262 Kata
Setelah Athan selesai mandi, Zehra mendekati Athan yang sedang duduk di sofa dengan handuk yang menutupi setengah tubuhnya. Sementara d**a bidangnya terlihat begitu jelas di depan mata Zehra. Zehra pun duduk di samping kanan Athan yang tampak melamun. Kedua matanya menatap seluruh luka di tubuh suaminya itu. Perlahan, Zehra mengompres beberapa luka yang ada di sisi kanan dengan cairan alkohol. Seketika itu juga Athan tersentak, karena rasa perih yang dirasakannya dan langsung menatap Zehra. Zehra menghentikan aktifitasnya tersebut. "Maaf ya." "Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja," ujar Athan lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. Zehra sedikit terkesima melihat Athan tidak marah seperti biasanya. Ternyata, dibalik kejadian p*********n tadi, ada hikmah tersendiri bagi Zehra. Tidak mudah bagi orang lain untuk menakhlukan seorang Athan Doxiadis Carras yang terkenal kejam itu. Dan hari ini, Zehra merasakan sendiri perubahan dari suaminya. "Kudengar, kandunganmu terpaksa digugurkan selama masa pengobatan." Ucapan Athan membuat Zehra tersentak lantas mengangguk. "Iya. Waktu itu kondisiku sangat tidak baik dan sudah terjadi pendarahan dua kali. Itu sebabnya mereka mengambil keputusan besar itu." "Maaf." "Hah?" Zehra sedikit terkejut mendengar kata tersebut diucapkan oleh Athan. "Barusan kau bilang apa?" tanyanya untuk memastikan. Athan mendecak kesal. "Maaf. Aku minta maaf." "Maaf untuk apa, Athan?" Zehra kembali bertanya, bertujuan untuk menggoda suaminya secara tidak langsung. Walaupun itu akan menimbulkan kekesalan dalam diri Athan. "Aku tidak mengerti maksudmu. Sungguh." "Ck! Aku minta maaf karena sudah membuatmu mengalami kondisi separah itu. Apa kau sudah mengerti atau kau hanya berpura-pura tidak mengerti? Kau berusaha untuk menggodaku, hah?" Jantung Zehra langsung berdetak kencang setelah mendengar ucapan suaminya. Entah itu karena senang atau dirinya merasakan hal lain. Yang jelas, hati Zehra mendadak berbunga-bunga melihat perubahan suaminya, meskipun tidak secara keseluruhan. Suara Athan masih terdengar lantang di telinganya. Mungkin memang karakter suaranya yang seperti itu atau karena terpaksa. Entahlah. Zehra berharap, perubahan sikap ini bisa bertahan untuk selama-lamanya. Ia ingin sekali merasakan suasana damai seperti ini setiap harinya di mansion nanti. Zehra tersentak saat tangan kekar Athan melambai di depan wajahnya. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa gugup. "Aku sudah memaafkanmu. Tidak perlu dibahas lagi. Cukup dijadikan pelajaran saja untuk ke depannya." "Hhm," Athan hanya bergumam. Zehra kembali mengobati luka Athan sambil meniupnya agar tidak terasa sakit. Tak lupa pula ia mengompres punggung Athan agar terasa lebih nyaman nantinya. Sambil mengompres, Zehra memperhatikan wajah tampan suaminya dari samping kanan yang teramat tampan itu. Zehra kembali memuji wajah tampan itu dari dalam hati. Tak heran jika semua wanita menyukainya, apalagi bentuk tubuhnya yang begitu atletis. Bahkan bola matanya juga sangat indah. Zehra lantas membayangkan bagaimana wajah ayah dan ibu dari suaminya itu. Pasti mertuanya itu juga memiliki paras yang tampan dan cantik, sehingga menurun pada Athan. "Athan," panggil Zehra. "Hhm." "Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zehra. Athan mengangguk. "Boleh." "Kenapa kau pergi ke Perancis dan meninggalkan Santorini?" Zehra bertanya dengan hati-hati, takut Athan kembali marah padanya. Athan menatap Zehra secara intens. "Kenapa kau ingin tahu sekali tentang keluargaku?" "Ah, tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya saja. Jika kau tidak ingin menjawab, aku tidak akan memaksa. Sungguh," Zehra mengelak. Padahal ia memang sangat penasaran dengan keluarga Athan dan alasannya pergi dari rumah. Athan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menghela napas berat. Ia tidak tahu harus memulai darimana untuk menceritakan semuanya. Sejujurnya, ia tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya pada orang lain mengenai apa yang terjadi antara dirinya dengan keluarganya. Setiap kali Athan ingin bercerita, dirinya akan merasa tidak akan ada orang lain yang mau mendengarkannya. "Athan, jangan dipikirkan. Aku tidak memaksamu," ujar Zehra, seakan tahu Athan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang Zehra ajukan. "Jika pertanyaan itu membuatmu tidak nyaman, abaikan saja." "Terima kasih atas pengertiannya," ucap Athan. Zehra tersenyum. "Tidak masalah. Ya sudah, kau istirahat di kamar saja. Aku akan tidur di sofa." "Tidak. Kau saja yang di kamar. Aku akan di sini bersama Michaël. Tidak baik wanita tidur di luar dalam situasi berbahaya seperti ini." "Baiklah. Aku akan menyiapkan bantal serta selimut untuk kalian berdua." Zehra lantas masuk ke kamar untuk mengambil bantal dan selimut. Tak berapa lama, Zehra kembali muncul dari kamarnya dan langsung menghampiri Athan yang sudah merebahkan diri di atas sofa. Saat Athan hendak duduk, Zehra melarangnya. "Sudah tidur saja. Biar aku yang meletakkan bantalnya di bawah kepalamu." Athan menurut dan membiarkan Zehra meletakkan kepalanya di atas bantal lalu menyelimutinya hingga menutupi bagian d**a. Setelah itu, Athan melihat senyuman Zehra sebelum wanita itu beralih pada Michaël. Dilihatnya Michaël menerima bantal serta selimut yang diberikan istrinya. Sebelum Zehra kembali ke kamar, Athan berucap, "Terima kasih." "Iya sama-sama, Athan." Zehra bergegas masuk ke kamarnya dan Athan pun memejamkan kedua matanya. Sementara Michaël menatap Athan karena merasa terkejut dengan sikap tuannya itu. Tidak pernah dalam sejarahnya Athan mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantunya. Saat Athan berbicara dengan Zehra tadi, Michaël sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Jadi, tak heran jika dirinya terkejut dengan perubahan tersebut. "Apa aku sedang bermimpi? Atau mungkin kepala Monsieur terbentur sesuatu?" gumam Michaël pelan agar tidak terdengar oleh Athan yang sofanya berada di seberang kanan Michaël. "Ini aneh. Mungkin aku harus memeriksakan kondisi kepala Monsieur besok. Pasti ada yang bermasalah di kepalanya." *** Keesokan paginya, Athan terbangun pukul 08.00, karena mencium aroma masakan yang berasal dari dapur. Perlahan ia membuka matanya lalu mencoba untuk mengusapnya sedikit agar pandangannya tidak kabur. Segera ia menatap ke arah dapur dan wajah Zehra terlihat jelas di sana. Wanita itu tengah memasak sesuatu, sementara Michaël membantu menyiapkan minuman teh hangat di gelas. Athan memaksakan diri untuk duduk, meskipun tubuhnya masih terasa sakit. Athan berdeham sebelum memanggil Michaël. Suara seraknya pun terdengar di telinga Zehra. Wanita itu langsung menatap Athan. "Ah, kau sudah bangun? Bersiaplah. Sebentar lagi supnya matang." "Iya," jawab Athan singkat, lalu beralih menatap Michaël. "Michaël, tolong belikan beberapa baju untukku. Ambil saja kartu kreditku di dalam dompet dan belanjakan kebutuhan kita." "Baik, Monsieur. Saya permisi." Michaël bergegas keluar meninggalkan Athan dan Zehra. Athan yang masih mengenakan handuk di pinggangnya pun berjalan menuju dapur dan mengambil teh hangat yang sudah dibuat oleh Michaël. Ia meminumnya sedikit sambil memperhatikan gerakan Zehra yang masih sibuk dengan masakannya. "Kenapa tidak beli saja di luar?" tanya Athan. Zehra menoleh sekilas sambil tersenyum. "Makanan di luar tidak terjamin kesehatannya. Lagipula, kau masih sakit dan harus banyak makan sup. Dulu saat aku sakit, ibuku selalu membuatkan sup ini untukku." "Kau belajar dari ibumu?" tanya Athan. "Ya, tapi rasanya tidak seenak rasa masakan ibuku," kekeh Zehra. "Ibuku sangat rajin membuat makanan. Hampir setiap hari ibuku membuat makanan ringan untukku. Hhh! Aku jadi merindukannya." Athan berdeham. "Sudah berapa lama kau tak berkunjung ke makamnya?" "Mungkin sudah lebih dari setahun aku tidak pergi mengunjunginya," jawab Zehra sambil meletakkan supnya di atas meja makan. "Tapi aku tetap mendoakannya dari sini. Walaupun hati ini ingin sekali kembali ke sana dan mengunjungi makan orang tuaku." "Apa orang tuamu meninggal karena sakit?" Zehra mengangguk. "Kami dulu bukanlah orang kaya, Athan. Bahkan untuk makan saja kami harus menanam sayur, cabai dan lain sebagainya. Setelah panen, barulah kami bisa makan dari hasil panen tersebut. Bahkan untuk pergi berobat saja kami tidak punya biaya. Itu sebabnya, sejak kecil, aku sudah bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan orang tuaku dan kebutuhan sekolahku." "Kenapa tidak minta bantuan saja pada keluarga dari orang tuamu? Pasti mereka akan membantu kalian," ujar Athan. "Tidak semudah itu, Athan," kata Zehra sambil tersenyum. "Keluarga dari orang tuaku memang orang berada dan berpendidikan, tapi mereka tidak menganggap kami karena perekonomian kami yang rendah, jauh di bawah mereka. Mereka malu mengakui kami sebagai saudara. Apalagi setelah orang tuaku meninggal. Mereka bahkan tidak ingin merawatku dan membiarkanku hidup sendirian." To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN