"Sial! Ternyata kau menjebakku!" teriak Athan.
Marco Pasquier, pria berusia 40 tahun itu tertawa kencang sekencang-kencangnya, karena telah berhasil mengelabui seorang Athan Doxiadis Carras. Seketika Marco mengeluarkan pistolnya. Tapi sebelum pistol itu mengarah ke Athan, Athan sudah lebih dulu mencekik Marco dari belakang sambil menahan gerakan tangan kanan Marco yang sedang memegang pistol tersebut.
"Lepaskan bodoh! Kita bisa mati tertabrak!" teriak Marco.
"Aku tidak peduli! Aku lebih senang melihatmu mati, Marco!" balas Athan yang semakin mencekik leher Marco dengan lengannya.
"Sialan kau!"
"Kau yang sialan! Berani sekali kau menjebakku dengan cara licik seperti itu! Aku memang sedang sakit, tapi aku masih memiliki tenaga untuk membunuhmu!" teriak Athan geram.
"Athan, awas di depan ada truk!"
Teriakan Zehra lantas membuat Athan refleks membuka pintu mobil dan menarik Zehra untuk melompat keluar dari mobil tersebut. Mereka berdua terjatuh sambil berguling. Tubuh Zehra sebisa mungkin dilindungi oleh pelukan Athan. Mereka kini berada di tepi jalan dalam posisi Athan berada di bawah dan Zehra di atasnya sambil berpelukan. Sementara Marco tewas di dalam mobil setelah menabrak truk besar di depannya. Mobil itu terpental jauh lalu meledak. Seketika mobil yang tadi mengikuti Athan di belakang pun terpaksa berhenti karena taksi Marco yang terbakar itu berada di tengah jalan.
Situasi tersebut dimanfaatkan Athan untuk membawa Zehra pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Athan tidak tahu harus kemana, karena situasi mansion juga sangat rawan. Tadinya, Athan mengira p*********n itu berasal dari kelompok Ichida. Tapi ternyata itu adalah komplotannya Marco Pasquier.
"Athan, kita mau kemana?" tanya Zehra yang sudah mulai lelah berlari. "Aku benar-benar lelah dan haus, Athan."
"Bersabarlah. Aku juga sedang memikirkannya. Kita tidak mungkin kembali ke mansion karena masih ada musuh lain yang mengintai," ujar Athan yang juga merasakan lelah dan haus. Ditambah lagi, tubuhnya terasa sakit karena melompat dari mobil sambil melindungi Zehra.
Zehra juga ikut memikirkan kemana mereka harus bersembunyi. Ia juga merasa kasihan melihat kondisi tubuh Athan yang terluka. Seketika, Zehra teringat pada apartemennya. Kebetulan sekali, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ini. "Athan, ayo kita ke apartemen lamaku saja. Di sana kita akan aman."
"Apa masih jauh dari sini?" tanya Athan.
"Tidak. Sedikit lagi kita akan sampai."
Athan menghela napas lega lalu mengangguk. "Baiklah. Ayo."
Mereka berdua bergegas pergi menuju apartemen Zehra. Sesuai dengan ucapan Zehra, apartemen tersebut tidak terlalu jauh dan mereka pun akhirnya tiba di sana. Beberapa penghuni apartemen yang ada di lobi terus menatap mereka berdua, namun mereka berusaha untuk mengabaikannya. Setibanya di dalam apartemen Zehra, Athan langsung terduduk lemas di sofa sambil bersandar. Sementara Zehra bergegas ke dapur untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa dimakan atau tidak. Ternyata, stok makanan di sana tidak ada. Zehra pun bingung harus menyiapkan apa untuk Athan.
"Athan, stok makanan tidak ada di sini. Bagaimana ini?" tanya Zehra.
Athan merogoh saku celana rumah sakitnya dan ternyata ponsel serta dompetnya tertinggal di rumah sakit. "Sial! Ponsel dan dompetku tertinggal di rumah sakit. Apa kau tidak memegang uang sedikitpun? Setidaknya untuk membeli minuman."
"Tunggu sebentar."
Zehra bergegas ke kamar dan memeriksa laci lemarinya. Biasanya, Zehra sering menyimpan beberapa uang di sana. Akhirnya, Zehra menemukan beberapa lembar uang di sudut laci lalu kembali menemui Athan di ruang tamu. "Aku punya simpanan di lemari. Kau tunggu di sini dan aku akan segera kembali."
"Tunggu," cegah Athan saat Zehra hendak keluar. "Apa kau yakin akan keluar sendirian? Di luar sangat berbahaya."
"Aku yakin. Supermarketnya dekat dari sini. Kau jangan khawatir. Aku akan segera kembali."
Zehra langsung menghilang dari balik pintu yang sudah dibuka olehnya. Sembari menunggu Zehra kembali, Athan memilih berbaring di sofa karena tubuhnya benar-benar sangat lelah. Untuk pertama kalinya ia harus kewalahan dalam menghadapi musuh. Ia belum menyadari tentang karma yang telah didapatkannya beberapa hari ini. Athan terlalu cuek dengan hal tersebut.
***
Zehra tiba di supermarket yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi apartemennya. Ia masuk ke dalam dan mulai membeli beberapa makanan serta minuman, sesuai dengan keuangan yang ia punya. Saat hendak mengambil makanan cepat saji, ia dikejutkan oleh kehadiran Michaël. Pria itu tersenyum pada Zehra lalu memberikan dompet serta ponsel milik Athan.
"Kenapa kau bisa tahu aku dan Athan ada di sini?" tanya Zehra heran. "Bukankah kau menghilang saat di rumah sakit tadi?"
"Saya hanya bersembunyi, Madame. Lengan saya terluka dan menunggu situasi aman lebih dulu. Setelah itu, saya berusaha mencari anda dan Monsieur, tapi ternyata kalian sudah keluar dari pintu emergency. Saya langsung mengikuti kalian sambil menembaki musuh."
Zehra mengangguk paham. "Nanti saja kita lanjutkan. Kita harus kembali ke apartemen sebelum ada yang melihat. Athan sudah sangat kelelahan."
"Baik, Madame."
Michaël membantu Zehra memilih makanan dan minuman dengan cepat, lalu bergegas membayarnya. Mereka membeli stok makanan dan minuman yang banyak, setidaknya sampai keadaan benar-benar membaik.
Setibanya di apartemen, Zehra mendapati Athan sudah tertidur pulas di sofa. Zehra meminta Michaël untuk membantunya membereskan barang belanjaan, sedangkan dirinya harus memasak untuk suaminya. Zehra memasakkan sup ayam untuk Athan agar pria itu tetap mendapatkan gizi yang baik. Selain itu, Zehra juga memasak menu lain untuk dirinya dan juga Michaël.
Beberapa menit kemudian, masakan pun sudah tersaji di atas meja makan. Zehra mendekati Athan untuk membangunkannya. "Athan, ayo bangun."
Athan menggeliat lalu mengusap kedua matanya. "Ah, kau sudah kembali."
"Iya, aku sudah kembali sejak tadi. Aku juga sudah selesai memasak. Ayo, kita makan. Michaël juga ada di sini bersama kita," ujar Zehra.
"Michaël? Bagaimana dia bisa tahu kita ada di sini?"
Zehra menaikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu secara detail. Yang jelas dia mengikuti kita dan aku bertemu dengannya di supermarket tadi."
"Ah, begitu."
"Ayo, kita makan. Mari, aku bantu."
Zehra membantu suaminya yang kesulitan untuk berdiri. Athan juga berjalan sedikit pincang karena kakinya terasa sakit. Setelah makan nanti, Zehra berencana menyuruh Athan untuk mandi, setelah itu ia akan mengobati luka di tubuh suaminya itu.
"Michaël," panggil Athan.
"Ya, Monsieur?"
Athan meminum sejenak minumannya, kemudian kembali berbicara, "Aku tadi dijebak oleh Marco. Dia menawarkan tumpangan padaku dan bodohnya aku tidak mengenali wajahnya."
"Maksud anda, Marco Pasquier?"
"Ya."
"Ya Tuhan!" Michaël terkejut mendengarnya. "Jadi, p*********n itu bukan berasal dari kelompok Ichida, Monsieur?" tanyanya kemudian.
Athan menggeleng. "Bukan. Aku juga baru mengetahuinya dan sempat memikirkan hal yang sama sepertimu. Aku tidak menyangka jika Marco selicik itu memanfaatkan situasi ini."
"Memangnya, Marco itu siapa, Athan?" Kali ini Zehra yang bertanya.
"Marco adalah musuh bebuyutanku. Dia sudah lama ingin menyerangku tapi rencananya selalu berhasil kugagalkan. Tapi sekarang, dia memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkanku," jawab Athan.
"Itu benar, Madame," sahut Michaël. "Marco sudah lama sekali mengincar nyawa Monsieur dan inilah saat yang sangat tepat baginya. Tapi untungnya, dia sudah tewas sekarang karena kecelakaan itu."
Zehra mengangguk paham. "Kami juga hampir tewas bersamanya, Michaël. Tapi Athan langsung menarikku keluar dari mobil."
"Astaga. Maafkan saya, Monsieur. Saya terlambat melindungi anda," ucap Michaël menyesal. "Saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Ck! Sudahlah. Kau juga sedang terluka. Nanti obati lukamu dan beristirahat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Semoga saja tidak ada hal buruk lagi."
Athan berdiri kemudian beranjak ke kamar mandi. Padahal Zehra baru saja ingin menyuruh suaminya itu. Zehra dan Michaël membereskan meja makan. Zehra meminta Michaël untuk segera mengobati lukanya agar tidak infeksi, sedangkan dirinya masih harus mencuci piring kotor di dapur.
To be continue~