Beberapa jam yang lalu, setelah Zehra selesai mengompres punggung Athan, pria itu ternyata sudah tertidur karena rasa nyaman tersebut. Zehra langsung membaringkan suaminya secara perlahan agar Athan tidak terbangun. Dan setelah puas tertidur, Athan pun terbangun dari tidurnya lalu menoleh sedikit ke arah sofa. Dilihatnya sang istri masih tertidur pulas di sana dalam posisi duduk bersandar. Athan mencoba untuk duduk dan sesuai dengan perkataan Zehra, rasa sakit di tulangnya sedikit berkurang, tidak separah sebelumnya. Ternyata ucapan mendiang orang tua Zehra itu benar. Pikir Athan.
Athan tampak tersenyum saat menatap Zehra. Untuk pertama kalinya Athan menampilkan senyuman tulusnya, namun sayang Zehra tidak melihatnya. Senyuman tulus itu sangat langka sekali, bahkan para anggotanya juga jarang sekali melihat Athan tersenyum seperti itu. Sikap pria satu ini memang tidak bisa ditebak sama sekali. Terkadang ia bisa melunak, walaupun lebih sering menunjukkan sisi egoisnya.
Dan dalam sekejap, senyuman Athan hilang, berganti dengan raut kecemasan. Telinganya mendengar suara dentuman yang cukup besar dari arah luar. Athan yakin, pasti sedang ada p*********n dari musuhnya. Pria itu mulai panik karena dirinya masih belum pulih, terlebih lagi ada Zehra di dekatnya. Athan kehabisan akal saat ini.
Boom!
Suara ledakan terdengar di dekat lorong rumah sakit dan hal itu membuat Zehra terbangun dari tidurnya. Wanita itu langsung mendekati Athan, dengan raut wajah ketakutan. Ia bahkan sampai menggenggam tangan kiri Athan. Athan bisa merasakan ketakutan istrinya, karena tangannya gemetar dan berkeringat.
"Bersembunyilah di tempat yang aman," ujar Athan.
"Kau bagaimana?" tanya Zehra panik.
"Aku akan baik-baik saja. Cepatlah pergi."
Zehra lantas menggeleng. Ia justru semakin menggenggam erat tangan suaminya. Zehra tidak mungkin pergi meninggalkan Athan sendirian dalam situasi buruk saat ini. Lebih baik Zehra mati daripada harus pergi dari sisi Athan. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Athan. Aku akan tetap di sini."
"Di sini terlalu berbahaya untukmu, Zehra. Turuti saja perintahku," ujar Athan sedikit kesal, karena Zehra tidak menurutinya. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Bagaimana bisa kau menjaga dirimu, Athan? Kau bahkan kesulitan untuk bergerak. Musuh pasti akan menyerangmu dengan mudah. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Boom!
Ledakan itu kembali terdengar dan kali ini Zehra sampai meringkuk di bawah, namun tetap menggenggam tangan Athan. Athan pun sudah tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya Michaël akan datang membantunya. Tapi sejak tadi, Michaël tidak muncul. "Zehra, kumohon pergilah. Aku tidak apa-apa. Pergilah."
"Tidak, Athan!"
Boom!
Lantai yang dipijak oleh Zehra sudah sangat bergetar. Bahkan sebagian tembok juga sudah mulai retak dan serpihan kecil dari atap pun sudah berjatuhan ke bawah. "Cepat pergi!" bentak Athan kesal.
"Tidak! Aku akan pergi jika kau juga ikut bersamaku!" Zehra tetap pada pendiriannya.
"Zehra, di sini sangat berbahaya! Kau harus mengerti itu!"
Zehra menggeleng. "Aku akan tetap di sini. Walaupun kau selalu kasar padaku, tapi kau tetap suamiku. Aku harus selalu ada untukmu. Masalah tidak akan bisa selesai jika kita terus menghindarinya."
"Ck! Kau tidak mengerti sedikitpun. Musuhku tidak akan mungkin mengampunimu. Mereka juga sama bengisnya seperti aku. Jadi lebih baik, kau berlindung di tempat lain dan tinggalkan aku sendiri. Pergi!"
Tiba-tiba saja atap yang berada tepat di atas kepala Zehra terjatuh. Athan langsung menarik Zehra dan kini kepala Athan yang terkena atap tersebut. Seketika Zehra terkejut lalu melihat kondisi suaminya. Ada sedikit darah yang muncul di sudut dahi Athan. Darah itu mengalir membasahi pipi hingga ke rahang Athan. Zehra pun panik dan bingung harus berbuat apa.
"Kita harus keluar dari sini," ujar Athan yang langsung mencabut jarum infus di tangannya kemudian menarik tangan Zehra untuk ikut bersamanya.
Setelah berada di luar, seluruh lorong rumah sakit sudah hancur dan banyak sekali teriakan dari orang-orang yang berada di sana. Athan pun mencoba mencari jalan keluar untuk bisa meninggalkan rumah sakit ini. Ia pun mencari pintu emergency yang langsung menuju ke arah basement rumah sakit tersebut. Athan tetap menggenggam tangan Zehra walaupun sesekali tulangnya terasa sakit. Tapi Athan berusaha keras menahannya.
Sesampainya di basement, Athan memecahkan salah satu mobil yang terparkir dengan alat bantu seadanya. Athan membuka pintu mobil tersebut dan meminta Zehra untuk naik ke kursi belakang. Setelah memastikan Zehra berada di posisi yang aman, Athan langsung menghidupkan mesin mobil tanpa kunci. Athan memang sempat belajar tentang otomotif dengan temannya di Santorini semasa muda dulu. Keahlian itulah yang digunakan Athan dalam posisi genting seperti ini.
Mobil tersebut melaju kencang meninggalkan area basement. "Kau harus tetap menunduk, Zehra. Musuh bisa saja menembaki kita."
"Baiklah."
Zehra menuruti perintah suaminya. Sementara itu, Athan berusaha menghindari beberapa musuh yang mengetahui kepergian Athan. Beberapa dari mereka bahkan menembaki mobil yang dikendarai oleh Athan. Sebisa mungkin Athan menghindari tembakan tersebut.
"Sial!" Athan mengumpat kesal saat salah satu peluru mengenai kaca mobil yang ia kendarai. Untung saja Athan segera menghindar. Jika tidak, mungkin Athan akan mati detik itu juga. "Tetaplah menunduk, Zehra. Jangan mengangkat kepalamu. Mengerti?"
"Aku mengerti," jawab Zehra dengan suara bergetar karena ketakutan.
Sementara itu, Damien melihat dari kejauhan mobil yang dikendarai Athan telah diserang banyak musuh. Damien langsung menghubungi para sniper dan juga Alexandre untuk membantu Athan. Michaël yang sejak tadi mencari keberadaan Athan pun akhirnya mengetahui kepergian Athan bersama Zehra saat keluar melalui basement. Lengan kanan Michaël sedikit terluka akibat serangan tiba-tiba tadi. Michaël menyiapkan senjatanya lalu mulai menyerang para musuh sambil bersembunyi di balik tembok basement.
Setelah berhasil kabur dari para musuh, Athan kini harus mengalami kendala pada ban mobilnya. Sejenak ia menepikan mobil tersebut di tepi jalan yang sepi untuk memeriksanya. Zehra ingin turun namun Athan melarangnya, karena situasinya masih belum aman. Sesekali Athan memeriksa area sekitar, barangkali ada musuh yang berhasil mengikutinya. Dan setelah ia memastikan keadaan di sekitarnya, Athan membuka bagasi mobil secara paksa, kemudian mengambil ban cadangan untuk mengganti ban sebelumnya.
Disaat inilah, ada sebuah taksi yang lewat dan menawarkan tumpangan pada Athan. Semula Athan mengabaikannya, namun pengemudi taksi itu terus membunyikan klaksonnya untuk menarik simpati Athan. "Ayolah! Terima saja tumpanganku!" teriak sopir tersebut agar Athan bisa mendengarnya.
"Maaf, aku tidak tertarik," jawab Athan singkat.
"Lihatlah dari arah belakang! Ada empat mobil yang mengikutimu! Cepat! Kau tidak punya banyak waktu untuk memperbaikinya!"
Athan langsung melihat ke arah belakang mobilnya dan ternyata ucapan pengemudi taksi itu benar. "Zehra, cepat keluar dan naik ke taksi!"
Zehra dengan cepat turun dari mobil dan masuk ke dalam taksi, diikuti Athan. Setelah itu, taksi tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Ada dua mobil yang berhasil mengejar taksi yang dinaiki oleh Athan, sedangkan dua mobil lainnya masih tertinggal jauh di belakang. Berulang kali Athan menoleh ke belakang untuk mengawasi mobil tersebut. Beberapa tembakan pun terdengar dan mengenai badan taksi tersebut. Athan sebisa mungkin melindungi Zehra agar tidak terluka. Bahkan Athan mengabaikan rasa sakit di punggung serta kepalanya yang terkena atap saat di rumah sakit tadi.
"Ayo lebih cepat lagi!" perintah Athan.
"Maaf, Athan. Aku sudah mencapai kecepatan maksimal. Lagipula, kau juga akan tetap mati meskipun menghindar dari kejaran mereka."
Athan terdiam sejenak, berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan oleh pengemudi taksi itu. Beberapa saat kemudian, barulah Athan tersadar bahwa dirinya sudah dijebak. Pria yang sedang duduk di kursi kemudi itupun membuka topinya lalu menyeringai. Seringaian itu terlihat jelas dari kaca spion dalam taksi.
"Sial! Ternyata kau menjebakku!" teriak Athan.
To be continue~