Setelah tiba di rumah sakit, Luca langsung menunjukkan kamar rawat Athan kepada Zehra, sesuai dengan isi pesan Michaël. Kebetulan ruang rawat tersebut berada di lantai 2 ujung dan Zehra pun tiba di sana. Sebelum masuk ke dalam, Zehra menarik napas lalu menghembuskan secara perlahan, demi menenangkan dirinya. Setelah itu, perlahan ia membuka pintu kamar dan langsung melihat Athan yang tengah tertidur pulas di tempat tidurnya. Michaël yang menyadari kehadiran Zehra pun menyambutnya dengan baik dan mempersilahkan masuk. Zehra masuk ke dalam sementara Luca hanya menunggu di luar, sesuai dengan aba-aba Michaël.
"Monsieur baru saja tertidur, Madame," kata Michaël.
Zehra mengangguk lalu duduk di samping tempat tidur Athan. Tangan kanannya menyentuh tangan kiri Athan sambil mengelusnya. "Apa dia sudah makan, Michaël?"
"Sudah, Madame," jawab Michaël. "Bagaimana kondisi Madame?"
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
Michaël mengangguk paham. Ada perasaan lega dalam hati Michaël. "Syukurlah kalau begitu. Saya permisi dulu, Madame."
Zehra tersenyum dan membiarkan Michaël keluar dari kamar tersebut. Tinggallah Zehra bersama Athan di dalam. Untung saja Athan sedang tertidur. Jika tidak, mungkin Athan memarahi Zehra meskipun kondisinya sedang sakit.
Zehra hendak berjalan ke sofa untuk menunggu Athan terbangun, namun tiba-tiba saja tangan kanannya digenggam oleh Athan. Seketika Zehra terkejut dan langsung menoleh ke arah pria tersebut. Ternyata, kedua mata Athan sudah terbuka dan menatap Zehra cukup intens dari atas ke bawah.
"Athan, maaf sudah mengganggu tidurmu," ucap Zehra gugup.
"Darimana saja kau? Kenapa kau pergi dari mansion? Apa kau sudah tidak betah tinggal bersamaku? Jawab yang jujur." Athan mencecar Zehra dengan pertanyaan penting yang sudah seminggu ini berputar di pikirannya.
Zehra menelan ludahnya susah payah saat Athan menuntut jawaban dari pertanyaan tersebut. "Sejujurnya, aku tidak tahu karena aku saat itu sedang tidak sadar. Setelah sadar, barulah aku tahu kalau aku sedang tidak berada di mansion. Dokter yang merawatku mengatakan bahwa kesehatan psikisku terganggu dan butuh pengobatan khusus di tempat yang cukup tenang. Dan kau tahu, janin yang ada dalam kandunganku terpaksa digugurkan karena mempengaruhi kesehatan fisikku. Aku bahkan tidak tahu kapan aku tiba di tempat itu."
"Apa kau berkata jujur?" tanya Athan seolah tak yakin dengan ucapan Zehra.
"Aku berkata jujur, Michaël. Aku tidak mungkin berbohong soal itu."
"Setelah sadar, kenapa kau tidak langsung kembali ke mansion? Kenapa kau pergi begitu lama tanpa izin dariku?" Athan kembali bertanya.
Zehra menghela napas sejenak. "Saat sadar, kondisiku masih belum stabil dan aku bahkan tidak mengingat apapun. Dokter memberitahukan semuanya setelah kondisiku benar-benar stabil. Itu sebabnya aku belum bisa kembali ke mansion. Dan setelah tahu tentang kondisimu yang sebenarnya, barulah aku meminta untuk menemuimu. Tadinya aku ingin ke mansion, tapi situasinya masih berbahaya."
"Hhm."
Athan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dan sedikit meringis saat tulang punggungnya terasa sakit. Zehra yang mengetahui hal tersebut pun mencoba untuk menawarkan bantuan, namun Athan menolaknya. Athan justru memejamkan matanya kembali tanpa mengatakan apapun.
"Apa rasanya sangat sakit?" tanya Zehra.
"Tidak."
"Orang tuaku bilang, jika punggung terasa sakit, kau harus meletakkan handuk hangat di sisi yang sakit. Mau aku bantu?" Zehra menawarkan pada Athan, namun Athan malah menggeleng.
Zehra pun menyerah dan memilih untuk duduk di sofa, membiarkan Athan beristirahat. Zehra mengambil salah satu majalah dari Lemaire Entertainment dan di sampul pertama, terdapat wajah Elmira di sana. Zehra baru mengetahui kalau wanita itu bekerja di perusahaan tersebut. Pantas saja Athan mengenalnya. Zehra mengabaikan foto tersebut dan membuka halaman berikutnya. Beberapa brand ternama terpampang di sana dan dipakai oleh model-model asuhan Max.
"Hhh!" Seketika, Zehra menghela napas berat. Timbul rasa iri dalam hatinya saat melihat rekan-rekannya dulu masih bisa berpose ria di depan kamera. Ingin rasanya Zehra kembali mengulang masa dimana dirinya menjadi sorotan photographer setiap harinya dan wajahnya terpampang di majalah tersebut.
Zehra menutup majalah tersebut dan beralih membaca surat kabar yang berada tepat di samping majalah. Zehra langsung membaca berita di halaman pertama dan foto Elmira kembali terpampang di sana. Seketika dahi Zehra mengernyit saat membaca isi berita tersebut.
"Seorang model asuhan Lemaire Entertainment terkena skandal prostitusi dan jual-beli narkotika. Kini tersangka berinisial E itu sudah diamankan dan akan menjalani proses hukum," gumam Zehra saat membaca berita dari Elmira.
Zehra menatap ke arah Athan yang ternyata sudah menatapnya. Pria itu ternyata tidak tidur. Sejak tadi ia memandangi Zehra dan mendengarkan suara Zehra saat membaca berita yang mengejutkan itu. Athan juga sama terkejutnya dengan Zehra. Wanita yang masih bergelar sebagai istri itu segera menghampiri Athan dan duduk kembali di sebelahnya. "Apa kau sudah tahu berita ini sebelumnya?"
"Tidak," jawab Athan singkat.
"Aku terkejut melihat berita ini," ujar Zehra sambil terus menatap surat kabar tersebut. "Bagaimana bisa dia berbuat senekad itu? Bukankah honor yang didapat dari setiap brand yang ia promosikan cukup besar?"
"Tanyakan saja pada yang bermasalah," celetuk Athan.
Zehra mendengus mendengar ucapan tersebut. Ia lantas berdiri dan hendak berjalan menuju sofa, namun tangan Athan langsung mencegahnya. Zehra menoleh ke belakang sambil menatap kesal. "Ada apa?"
"Ambilkan air. Aku haus," pinta Athan.
Zehra menghela napas lalu mengambil segelas air minum yang ada di atas nakas. Setelah itu, ia membantu Athan untuk duduk dan meminumkan air mineral tersebut. Kemudian Zehra meletakkan gelas kosong tersebut di atas nakas dan membiarkan Athan tetap berada di posisi yang sama. Dengan cekatan, Zehra beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Setelah itu, Zehra mengambil sebuah handuk kecil dan mencelupkannya di dalam mangkuk stainless berisi air hangat tadi. Ia pun kembali duduk di samping Athan.
"Apa lukamu sudah mengering?" tanya Zehra.
Athan menggeleng. "Dokter bilang belum. Kau mau apa?"
"Mengompres punggungmu," jawab Zehra.
"Ck! Perbannya belum dibuka. Lagipula untuk apa dikompres? Itu tidak akan berpengaruh sama sekali," ujar Athan yang tampak tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan Zehra.
Zehra mendengus kesal. "Kau belum mencobanya. Jangan langsung berasumsi seperti itu. Jika sudah kau coba, aku jamin kau akan ketagihan. Aku hanya mengompres di area pinggir perban saja. Bukan di atas perbannya."
"Apa itu akan terasa sakit?" tanya Athan ragu.
Melihat wajah penuh keraguan dari Athan membuat Zehra berusaha menahan rasa tertawanya. Baru kali ini, Zehra melihat seorang ketua mafia merasa ragu seperti itu. Sangat lucu dan menghibur. "Tidak akan sakit. Percaya saja padaku. Kau justru akan merasakan sensasi hangat dan nyaman."
Athan mendecih. "Aku tidak percaya padamu."
"Terserah apa katamu. Sekarang, kau mau mencobanya atau tidak?" tanya Zehra sedikit kesal.
"Ck! Ya baiklah jika kau memaksa."
Zehra tersenyum, lalu meminta Athan untuk membuka kancing baju rumah sakitnya, lalu menurunkannya sedikit agar punggungnya bisa terlihat. Punggung Athan memang sangat kekar dan Zehra sedikit takjub melihatnya. Wanita mana yang tidak akan tergoda dengan tubuh sekekar itu. Zehra pun memeras sedikit handuk yang sudah ia celupkan di dalam air hangat sejak tadi, kemudian menempelkannya secara bergantian di sekitaran perban tersebut. Athan merasakan kehangatan dan rasa sakit di punggungnya perlahan mereda, walaupun tidak secepat yang dibayangkan. Tapi setidaknya, Athan bisa sedikit merasakan kenyamanan.
To be continue~