Marliana dan Luca tampak sibuk memeriksa beberapa dokumen di tangan mereka. Mereka berdua sedang berdiskusi tentang sesuatu, mungkin ada kaitannya dengan kondisi Zehra yang sudah mengalami kemajuan. Zehra sudah bisa berjalan sendiri dan sudah mulai mau berbicara, tidak seperti sebelumnya. Luca tidak menyangka jika istri dari Athan itu mampu melewati masa sulit tersebut. Marliana memang sangat berkompeten dalam merawat pasiennya. Tak heran jika Luca percaya pada wanita tersebut. Di tangan Marliana lah kini Zehra mulai berani melihat dunia luar sendirian, namun tetap dalam pengawasan. Selain itu, Zehra juga sudah mulai dekat dengan Alexa, si pemilik penginapan.
Saat ini, Zehra tengah duduk sendiri salah satu kursi yang berada di halaman depan penginapan. Ia menatap lurus ke depan sambil menikmati semilir angin sore yang menerpa rambut serta tubuhnya. Bibir Zehra tampak mengukir senyuman setelah melihat beberapa anak laki-laki sedang bermain bola di tanah lapang yang berada di dekat penginapan. Zehra bahkan membayangkan bagaimana jika dirinya mempunyai seorang anak, pasti hidupnya yang hampa akan menjadi lebih berwarna. Tapi setelah mengetahui fakta bahwa janinnya sengaja digugurkan, membuat senyuman Zehra kembali luntur. Ya, Luca memberitahu semuanya setelah kondisi Zehra mulai membaik. Sebenarnya, Marliana melarang Luca untuk mengatakan semuanya, namun Luca tidak ingin menyimpan hal besar seperti itu, karena lambat-laun, Zehra pasti akan mengetahuinya sendiri dan itu malah membuatnya merasa semakin sedih. Lebih baik bersedih di awal daripada di akhir. Begitulah menurut Luca. Itu sebabnya, Marliana tidak bisa berkata apapun lagi.
"Athan, bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah melupakanku? Kau tahu, kita hampir saja menjadi seorang ayah dan ibu, tapi janinku tidak dapat dipertahankan karena kekerasan yang kau lakukan padaku waktu itu. Kenapa kau tega padaku, Athan? Walaupun aku tidak mencintaimu, tapi aku juga ingin diperlakukan dengan baik oleh suamiku, sama seperti kau memperlakukan wanita lain. Tidak bisakah kau melakukan kebaikan padaku?"
Zehra menarik napas kemudian membuangnya secara perlahan. Mengingat hal itu membuat napasnya terasa sesak dan airmata pun langsung turun membasahi kedua pipinya. Zehra tidak tahu, sampai kapan hal ini akan terjadi padanya. Haruskah ia kembali menjalani hidup bersama Athan di Kota Nice? Atau lebih baik ia tetap tinggal di Pulau Guadeloupe sendirian? Entahlah. Zehra masih belum bisa menentukan apapun.
Saat masih bergelut dengan pikirannya, Zehra dikejutkan oleh tangan kecil yang menyentuh lengan kirinya. Zehra langsung menoleh ke samping kiri dan melihat seorang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun tengah menampilkan senyuman manis kepadanya. Zehra pun membalas senyuman itu.
"Hai," sapa Zehra terlebih dulu. "Siapa namamu?"
Anak kecil tersebut mengambil sebuah pena dan kertas kecil lalu menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut. Kemudian, ia memberikan kertas yang berisi tulisan kepada Zehra. Zehra pun menerimanya dan membacanya. Tulisan tersebut membuat Zehra terkejut sesaat, lalu menatap anak kecil itu kembali.
"Hai, Tante! Namaku Marie Georgina. Maaf, aku tidak bisa bicara."
Begitulah bunyi tulisan yang diberikan oleh anak kecil bernama Marie itu. Marie masih menampilkan senyuman termanisnya, sedangkan Zehra menatap Marie dengan tatapan sendunya. Ternyata, Zehra masih menjadi manusia beruntung dibandingkan anak kecil tersebut. Zehra masih diberi kenikmatan untuk bisa berbicara sedangkan Marie tidak. Tapi Marie masih bisa tersenyum, seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak suka dikasihani.
"Hai, Marie. Aku Zehra. Apa kau tinggal di dekat sini?" tanya Zehra.
Marie mengangguk dan menuliskan kembali sebuah kalimat di kertasnya. "Mau jalan-jalan bersamaku, Tante Zehra?"
"Ya," jawab Zehra setelah membaca tulisan tersebut.
Mereka berdua pun akhirnya beranjak pergi meninggalkan penginapan. Tapi sebelum itu, Zehra mengatakan kepergiannya bersama Marie pada Luca dan Marliana. Untung saja kedua dokter itu mengizinkan Zehra. Lagipula, berjalan-jalan juga salah satu hal bagus untuk memperbaiki kondisi psikis Zehra agar lebih baik lagi.
Sedangkan di Kota Nice, Athan tampak murung di ruangan rawatnya. Ia merasa bosan karena terus berada di rumah sakit. Athan ingin sekali kembali ke mansion dan melalukan aktifitasnya seperti biasa. Tapi, dokter yang menanganinya justru belum mengizinkannya untuk pulang ke mansion. Seharian, Athan hanya bisa duduk dan berbaring di atas tempat tidur rawat. Tulang punggungnya juga masih sering terasa nyeri saat ia bergerak sedikit.
"Hhh!" Athan menghela napas kasar, sehingga menarik perhatian Michaël yang sedang duduk di sofa. Athan pun menatap Michaël. "Sampai kapan aku harus berada di sini terus, Michaël? Aku benar-benar bosan," ujarnya.
"Anda harus bersabar, Monsieur. Dokter masih belum mengizinkan karena anda masih sering merasakan sakit. Dokter tidak mungkin mengambil keputusan yang salah, ujar Michaël.
Athan mendecak kesal. "Aku sudah tidak apa-apa, Michaël. Untuk apa berlama-lama di sini? Aku pasti akan cepat sembuh jika berada di mansion."
"Tapi, Monsieur, keputusan untuk tinggal di mansion tidak tepat, karena Ichida sedang mengintai anda. Kita harus tetap berada di sini sampai kondisinya benar-benar membaik," nasehat Michaël.
"Kenapa kau begitu cerewet padaku, hah? Apa kau sudah lupa siapa aku?"
Michaël menghela napas lelah. "Saya tidak mungkin lupa akan hal itu, Monsieur. Saya melarang anda demi kebaikan anda sendiri. Percayalah, Ichida pasti sudah bersiap-siap untuk menyerang jika anda kembali ke mansion sekarang. Saya sudah menyebar beberapa mata-mata untuk mengintai pergerakan mereka. Informasi terbaru yang saya dapatkan, mereka sudah menyiapkan berbagai jenis senjata dan beberapa sniper di sekitaran mansion anda, Monsieur. Itu sebabnya saya melarang anda untuk kembali."
"Sialan!" Athan mengumpat kesal. "Berani sekali mereka menempatkan sniper di dekat mansionku. Apa kita hanya akan diam saja di sini tanpa melakukan perlawanan, hah? Harga diri kita bisa jatuh di mata mereka."
"Maaf, Monsieur. Tapi sekarang ini, nyawa anda lebih penting daripada harga diri. Anda bisa saja tewas di tangan mereka. Saya tidak bisa mengambil resiko sebesar itu, Monsieur."
Athan kembali mendecak kesal. "Dasar pengecut! Seorang mafia tidak akan pernah takut mati! Justru dengan menghindar seperti ini, musuh menganggap kita sebagai orang lemah dan penakut! Aku lebih baik mati di tangan mereka daripada harus bersembunyi seperti ini!"
"Monsieur, Konselor juga melarang semuanya untuk kembali ke mansion. Jumlah anggota kita tidak sebanyak mereka. Apalagi sekarang, Ichida bekerjasama dengan kelompok mafia wanita terbesar di Jepang, yang diketuai oleh Kaneko Ayaka. Bahkan Konselor pun tidak ingin siap menerima resiko sebesar itu. Jadi lebih baik, kita tetap berada di sini," ujar Michaël menjelaskan.
Athan justru melengos dan memilih untuk tidur dalam posisi duduk bersandar. Sedangkan Michaël hanya bisa geleng kepala melihat sikap keras kepala yang masih melekat pada diri Athan.
***
Saat ini, Zehra masih berdiri di tepi pantai sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a, menatap lurus ke arah pantai indah di Guadeloupe. Sementara Marie sibuk dengan rumah pasir yang dibuatnya. Sesekali, Zehra melihat Marie lalu tersenyum. Sepintas teringat dibenaknya tentang sosok Athan. Beberapa hari ini, pria itu sangat mengganggu pikiran Zehra. Apa mungkin Zehra merindukan Athan? Mungkinkah ia sudah mencintai Athan? Zehra langsung menggelengkan kepalanya, menepis kemungkinan yang buruk itu dari pikirannya. Ia tidak mungkin mencintai pria yang sudah sangat menyakitinya, sampai membuat psikisnya memburuk. Ditambah lagi, ia harus kehilangan anaknya karena ulah suaminya sendiri. Jadi, tidak ada alasan apapun untuk mencintai pria kejam itu.
Zehra memutuskan untuk mendekati Marie. Ia masih penasaran dengan anak kecil tersebut. Zehra pun duduk di hadapan Marie lalu mengelus rambut pirangnya yang berantakan terkena angin. "Marie, dimana orang tuamu?"
Marie tersenyum lalu menggali pasir cukup dalam. Ia memasukkan dua buah patung berukuran kecil ke dalam pasir yang sudah digalinya, kemudian menguburnya. Setelah itu, Marie menatap Zehra dengan tetap menampilkan senyumannya. Seketika Zehra mengerti maksud dari Marie. Airmata Zehra pun menetes saat mengetahui nasib Marie sama dengan dirinya. Bedanya, Zehra bisa bicara sedangkan Marie tidak. Zehra langsung memeluk Marie sambil menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka, Tuhan mempertemukan Marie dengannya di pulau ini.
Marie mencoba melepas pelukan Zehra lalu menatapnya. Kepalanya langsung menggeleng, sementara kedua ibu jarinya mengusap airmata yang membasahi kedua pipi Zehra. Senyumannya masih belum pudar sedikitpun. Zehra mengerti apa yang dimaksudkan Marie. Anak kecil itu tidak mau melihat Zehra menangis. Marie ingin menunjukkan kepada Zehra bahwa hidup itu harus terus berjalan dan jangan memandang ke belakang, apalagi menyesalinya. Takdir seseorang sudah ditentukan Tuhan sejak masih dalam kandungan.
Zehra mencoba mengontrol kembali dirinya. Ia menarik napas kemudian membuangnya secara perlahan. Zehra harus tegar seperti Marie. "Kau tinggal dengan siapa di sini?"
Marie menuliskan sebuah kalimat di atas kertas. "Aku tinggal bersama nenekku di sini."
"Ah, begitu." Zehra mengangguk paham setelah membaca tulisan tangan Marie. "Ayo, kita pulang. Hari sudah mulai gelap. Aku akan mengantarmu pulang."
Marie pun mengangguk dan langsung menggandeng tangan Zehra. Mereka berdua berjalan berdampingan dengan riang gembira. Dari Marie, Zehra belajar bahwa kesedihan tidak akan menyelesaikan suatu masalah. Menghindar juga tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik jalani saja sesuai skenario yang telah dibuat, karena Tuhan pasti akan memberi jalan yang terbaik untuk ke depannya.
Setelah mengantarkan Marie pulang, Zehra pun kini tiba di penginapannya. Rumah Marie tidak jauh dari tempat ia menginap sekarang. Saat bertemu dengan Luca, Zehra langsung mengajaknya untuk berbicara serius di teras depan penginapan. Luca menyetujuinya dan mengikuti langkah Zehra. Mereka berdua pun duduk di dua kursi rotan yang saling berhadapan.
"Aku ingin bicara sesuatu," ujar Zehra.
"Ada apa, Madame?"
Zehra menghela napas sejenak, memastikan dirinya sudah siap dengan segala resiko yang akan ia ucapkan nanti. "Aku ingin kembali ke Kota Nice dan tinggal bersama suamiku. Aku tahu resiko apa yang akan aku terima nantinya. Tapi, pergi diam-diam seperti ini bukanlah cara yang baik, Luca. Bagaimanapun juga, dia tetap suamiku."
"Madame, saya tahu bagaimana perasaan anda. Tapi, kondisi anda belum sepenuhnya pulih. Anda pasti akan mengalami trauma saat bertemu dengan Monsieur," ujar Luca merasa tidak setuju dengan keputusan Zehra. "Lagipula, situasi di sana masih belum kondusif, Madame."
Zehra mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
"Maaf, Madame. Sebenarnya... mansion di serang saya membawa anda ke tempat ini. Dan Monsieur terluka parah dibagian punggung sebelah kanannya. Saat ini, beliau masih berada di rumah sakit, karena menurut info yang saya dapat dari Michaël, mansion sedang dikepung pihak musuh. Itu sebabnya, Monsieur tidak diperbolehkan kembali ke mansion oleh Michaël. Dokter yang menangani Monsieur juga belum memberi izin."
"Ya Tuhan!" Zehra menutup mulutnya sendiri karena terkejut mendengar kabar tersebut. Mungkinkah ini balasan dari Tuhan? "Kenapa kau tidak mengatakan masalah ini padaku? Dan kenapa Athan bisa terluka? Bukankah anggotanya banyak?"
"Menurut Michaël, beberapa anggota penting Raid King sedang berada di Philadelphia dan musuh Monsieur memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang mansion. Incarannya adalah Monsieur. Beliau ditusuk dari belakang dengan pisau beracun dan mengenai tulang di bagian punggungnya. Karena hal itu pula, Monsieur saat ini menjadi tidak leluasa dalam bergerak. Gerakan kecil saja bisa menimbulkan rasa sakit di tulangnya."
"Kalau begitu, malam ini kita kembali ke sana. Aku ingin melihat suamiku," ujar Zehra.
Luca menatap Zehra sambil terdiam beberapa saat. "Apa anda yakin dengan keputusan ini, Madame? Selain nyawa Monsieur, nyawa anda juga akan berada dalam bahaya. Saya yakin, Monsieur tidak akan mengizinkan anda untuk berada di sana, karena resikonya sangat besar. Para anggota Raid King juga sudah berkurang."
"Aku yakin dengan keputusanku. Sekarang juga, kita harus segera kembali ke sana. Dokter Marliana juga harus ikut bersama kita."
"Hhh! Baiklah, Madame."
Dengan sangat terpaksa, Luca pun menuruti keinginan Zehra. Ia mengajak Marliana untuk bersiap-siap. Setelah itu, ia memesan tiket penerbangan malam menuju Kota Nice. Untung saja masih tersedia tiket penerbangan malam hari. Luca berharap, ini keputusan yang terbaik untuk Zehra.
To be continue~