Seminggu berlalu setelah kejadian menyedihkan itu, Athan pun sudah dipindah ke ruang perawatan VVIP oleh para medis. Luka di punggungnya masih belum sembuh dan terkadang Athan sering mengeluh kesakitan pada bagian tulangnya. Ia menjadi tidak leluasa bergerak, karena jika bergerak sedikit saja, rasa sakit di tulangnya akan menjalar ke seluruh tubuhnya. Setiap kali ingin mengambil sesuatu, Athan harus meminta bantuan pada Michaël. Pernah tiga hari sebelumnya, Athan mencoba untuk mengambil buah di atas nakas tanpa meminta bantuan siapapun. Alhasil, ia berteriak sekencang-kencangnya karena rasa sakit tersebut. Athan benar-benar merasa tersiksa dengan keadaan yang ia alami saat ini. Bahkan dokter sampai harus menyuntikkan obat pereda rasa sakit di punggungnya.
Michaël sendiri merasa iba melihat keadaan tuannya yang begitu menderita seperti itu. Tapi jika dipikirkan kembali, rasa sakit itu belum sebanding dengan rasa sakit yang dialami oleh para korban Athan, termasuk Zehra. Michaël tahu, Tuhan sedang memberi hukuman berat ini untuk Athan. Semoga saja, Athan segera menyadari semua kesalahannya dan meminta maaf pada semua orang yang telah dirugikannya. Itulah harapan Michaël saat ini.
"Arrgghh!"
Athan kembali merintih kesakitan karena berusaha untuk sekedar memiringkan tubuhnya ke arah kiri. Michaël pun mencoba membantu, namun Athan menolaknya. Athan merasa dirinya masih mampu untuk melakukan itu sendiri.
"Monsieur, anda belum boleh banyak bergerak," ujar Michaël mengingatkan.
"Aku tahu, Michaël. Tapi aku merasa lelah terbaring seharian seperti ini."
Michaël menghela napas berat. "Saya tahu bagaimana perasaan anda. Dokter juga sudah berusaha melakukan segala cara untuk menyembuhkan anda. Tapi, luka yang dialami anda cukup serius, karena tusukan pisau itu mengenai salah satu tulang anda, Monsieur. Itu yang menyebabkan rasa sakit setiap kali anda bergerak. Terlebih lagi, nyawa anda hampir melayang karena pisau itu beracun."
"Ah, begitu. Pantas saja tubuhku terasa panas dan aku kesulitan bernapas saat itu. Jadi, racun itu penyebabnya?" tanya Athan yang memang baru mengetahui penyebabnya.
"Ya, Monsieur," jawab Michaël. "Beruntungnya, dokter berhasil menyelamatkan nyawa anda saat itu. Saya benar-benar tidak bisa berpikir jernih jika nyawa anda tidak tertolong."
Athan menghela napas berat. "Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit."
"Sudah menjadi tugas saya, Monsieur."
"Lalu, apa kau sudah mengetahui siapa yang menyerang kita?" tanya Athan.
Michaël mengangguk. "Sudah, Monsieur. Dia salah satu musuh anda yang berasal dari Jepang. Mereka sengaja melakukan p*********n secara mendadak setelah tahu, beberapa anggota kita sedang berada di Philadelphia. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk melenyapkan anda."
"Siapa dia? Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya," ujar Athan.
"Namanya Ichida Ikurō, Monsieur. Dia termasuk salah satu orang yang iri pada keberhasilan anda dalam menyelundupkan narkotika. Ichida juga berniat untuk memasok narkotikanya ke Philadelphia, tapi anggota kita sudah lebih dulu bergerak ke sana. Itu sebabnya mereka menyerang anda di mansion saat tahu anda tidak ikut ke Philadelphia," ujar Michaël menjelaskan. Informasi ini ia dapatkan saat Athan masih dalam masa kritis. "Belakangan ini, Ichida sudah tiba di Perancis bersama anggotanya."
Athan mengernyit. "Jadi maksudmu, dia tidak ada di Perancis saat p*********n itu terjadi?"
"Itu benar, Monsieur. Dia sengaja mengirim anggotanya lebih dulu untuk menyerang anda di mansion. Setelah memastikan anda berhasil dilumpuhkan, barulah Ichida menyusun strategi lain dan bergegas ke Perancis. Tapi saya masih belum tahu mengenai strategi apa yang dia rencanakan," jawab Michaël.
"Hhh! Apa anggota kita sudah kembali?"
Michaël mengangguk. "Sudah, Monsieur. Mereka sedang berjaga di luar kamar dan luar rumah sakit. Saya yang meminta mereka untuk segera kembali, karena kita tidak tahu kapan musuh akan menyerang anda."
"Baiklah. Apa ada kelompok mafia lain yang bekerjasama dengan Ichida?" Athan bertanya kembali.
"Ada, Monsieur," jawab Michaël. "Dia seorang wanita bernama Kaneko Ayaka. Mereka berkomplot untuk menghancurkan Raid King, terutama anda. Saya juga baru mengetahuinya kemarin."
Athan pun mengangguk paham. "Perketat seluruh keamanan, karena jumlah anggota kita sudah berkurang. Mintalah bantuan pada kelompok mafia yang bekerjasama dengan kita untuk berjaga-jaga saja. Pastikan juga mereka tidak menyerang sampai kondisiku kembali pulih. Jika mereka tetap menyerang, maka jagalah setiap sisi rumah sakit agar mereka tidak bisa menemuiku."
"Baik, Monsieur."
"Ah, iya, bagaimana dengan Zehra? Dimana kau sembunyikan dia?" tanya Athan setelah teringat akan keberadaan Zehra.
Michaël menunduk sambil meminta maaf. "Maaf, Monsieur. Saya tidak bisa memberitahukan keberadaan Madame pada anda. Tapi, ada hal buruk yang harus saya sampaikan pada anda tentang Madame."
"Apa itu?"
"Hhh! Madame Zehra hamil dan janinnya terpaksa diangkat karena menyebabkan kondisi Madame semakin menurun. Sudah terjadi pendarahan sebanyak dua kali dan itu bisa mengakibatkan hal yang fatal jika tidak segera ditindak," ujar Michaël.
"Jadi, bagaimana kondisinya?" tanya Athan penasaran.
"Sekarang ini, kondisi Madame sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi beliau masih harus menjalani beberapa terapi psikis bersama dokter ahli," jawab Michaël.
Athan mengangguk. "Baiklah. Biarkan dia di sana karena situasi di sini juga tidak memungkinkan baginya. Lalu, bagaimana dengan kondisi mansion? Apakah tawanan kita aman?"
"Semuanya sudah aman terkendali, Monsieur. Saya juga sudah meminta pihak arsitek untuk memperbaiki kondisi depan mansion yang rusak akibat ledakan waktu itu."
"Bagus. Aku percaya pada kesigapanmu dalam mengambil tindakan," puji Athan. "Sekarang, kau tunggulah di luar. Aku ingin istirahat."
"Baik, Monsieur."
Michaël membungkuk sedikit untuk memberi hormat, kemudian bergegas keluar meninggalkan Athan yang hendak tertidur. Michaël menunggu di luar bersama Damien yang kebetulan berjaga di depan kamar rawat Athan. Mereka duduk berdampingan sambil memperhatikan keadaan sekitar.
"Kudengar, kau membawa Madame keluar dari mansion tanpa sepengetahuan Monsieur. Apa itu benar?" tanya Damien yang memulai percakapan.
Michaël mengangguk. "Itu benar. Aku terpaksa melakukan itu demi keselamatan Madame. Kau sudah tahu kan bagaimana kondisi terakhir Madame setelah disiksa berjam-jam oleh Monsieur?"
"Ya, aku tahu. Aku merasa sakit saat mendengar kondisinya."
"Aku juga merasakan hal itu," ujar Michaël. "Biarlah aku yang mendapat siksaan dari Monsieur, asalkan Madame selamat. Aku tidak tahu bagaimana jika Madame tetap berada di mansion. Sudah pasti, kondisinya akan semakin memburuk dan nyawanya tidak akan tertolong."
Damien mengangguk setuju. "Watak Monsieur sangat keras dan tidak mau mendengar nasehat orang lain. Segala keinginannya harus terpenuhi dan itu yang membuatku tidak sejalan dengannya."
"Tapi bagaimanapun juga, beliau sudah mempekerjakan kita. Anggap saja, ini menjadi balas budi kita terhadapnya, walaupun hati kita tidak menginginkannya," kata Michaël.
"Ya, kau benar."
Sementara di Santorini, Natàsa terlihat cemas di kamarnya. Wanita itu sudah mengetahui kabar p*********n yang mengakibatkan Athan terluka. Tapi, ia enggan memberitahukan hal ini pada Teresa dan Chris karena tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya itu. Natàsa mendapatkan informasi ini dari mata-matanya, Gianluca. Natàsa terus menanyakan informasi tentang Athan pada Gianluca karena hanya itulah satu-satunya cara terbaik bagi Natàsa. Tapi sayangnya, informasi mengenai pernikahan Athan dan Zehra tidak diketahui oleh Gianluca. Itu sebabnya, pria itu tidak memberikan kabar apapun mengenai pernikahan. Sampai detik ini, keluarga Carras tidak mengetahui bahwa Athan sudah menikahi seorang wanita keturunan Turki.
Natàsa tampak mondar-mandir di ruangannya dan dilihat oleh Konselornya yang bernama Lysandra Dimitriou, seorang wanita berusia 45 tahun berkebangsaan Yunani. Lysandra sampai pusing melihat Natàsa yang mondar-mandir seperti itu.
"Ada masalah apa, Kyrìa? Kenapa anda seperti cemas begitu?" tanya Lysandra.
Natàsa menghela napas lalu duduk di sofa yang berdekatan dengan sofa yang diduduki oleh Lysandra. "Athan diserang secara tiba-tiba dan dia terluka, Lysandra. Aku ingin memberitahukan hal ini pada orang tuaku, tapi aku tidak sanggup melihat kesedihan mereka. Apa yang harus kulakukan?"
"Lebih baik jangan diberitahu, Kyrìa. Anda juga tahu bagaimana kondisi kesehatan Kyrìa Teresa. Saya khawatir kondisinya akan memburuk setelah mengetahui keadaan Kýrie Athan di sana," ujar Lysandra memberi saran. "Tapi jika anda ingin memberitahu mereka, saya tidak akan melarang. Semua kembali ke anda sendiri. Saya hanya memberi saran."
"Hhh! Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu. Terima kasih sudah membantuku."
Lysandra mengangguk sambil tersenyum. "Sudah menjadi tugas saya, Kyrìa."
"Ah, iya, bagaimana dengan persiapan ke Italia? Semua sudah beres? Atau ada hal lain lagi yang harus kita persiapkan?" tanya Natàsa yang rencananya dalam minggu ini memang akan berkunjung ke Italia bersama kedua orang tuanya, karena Teresa sangat merindukan kampung halamannya.
"Semua sudah dipersiapkan, Kyrìa. Saya juga meminta dokter pribadi keluarga Carras untuk ikut di penerbangan bersama anda dan keluarga," jawab Lysandra.
Natàsa pun mengangguk. "Siapa saja yang ikut bersamaku dari Mávro Chéri?"
"Avelio dan Eirênê, Kyrìa."
"Baiklah. Kau tidak ikut?" tanya Natàsa lagi.
Lysandra lantas menggeleng. "Saya akan berjaga di sini bersama yang lain, Kyrìa. Tidak baik meninggalkan mansion begitu saja tanpa penjagaan. Musuh bisa saja menyerang secara tiba-tiba, seperti halnya yang dilakukan oleh musuh Kýrie Athan."
"Kau benar. Ya sudah, aku akan bersiap dan memberitahukan hal ini pada orang tuaku. Tolong suruh Avelio dan Eirênê untuk menghadapku di ruang pribadi," perintah Natàsa.
"Baik, Kyrìa."
Natàsa pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian meninggalkan Lysandra sendiri. Ia berjalan menuju kamar kedua orang tuanya untuk memberitahukan keberangkatan mereka. Sementara Lysandra melakukan tugasnya untuk menyampaikan pesan dari Natàsa kepada kedua Don Mávro Chéri yang masing-masing bernama lengkap Avelio Vergio dan Eirênê Manolas.
To be continue~