Bab 23

1174 Kata
Setelah beberapa saat menunggu di depan ICU, akhirnya Michaël bertemu dengan seorang dokter yang menangani Athan. Dokter tersebut langsung menghampiri Michaël dan memberitahukan kondisi Athan saat ini. Menurut dokter, luka yang dialami Athan cukup parah karena tusukan dari pisau tersebut mengenai tulang Athan. Butuh pemulihan yang cukup lama dan setelah pemulihan itu, Athan akan kesulitan menggerakkan tangan kanannya. Hal itu akan memicu rasa nyeri berlebihan pada punggungnya. Selain itu, racun yang terdapat di pisau tersebut juga hampir saja menyebabkan kematian Athan, karena seluruh tubuh Athan mendadak tidak berfungsi dengan baik. Untungnya sang dokter berhasil menyelamatkan nyawa Athan. "Kondisi pasien saat ini sedang dalam masa kritis dan dia membutuhkan istirahat yang cukup. Kita tunggu saja sampai pasien siuman kembali," ujar sang dokter. Michaël mengangguk paham. "Baiklah. Terima kasih atas bantuannya, Dokter." "Kalau begitu, saya permisi." Setelah dokter tersebut pergi dari hadapannya, Michaël pun langsung menghubungi Serge untuk segera kembali ke Perancis karena situasinya sangatlah buruk. Michaël hanya takut musuh kembali memanfaatkan situasi seperti ini. Michaël memberitahukan kondisi terakhir Athan kepada Serge dan Serge langsung memutuskan untuk kembali, padahal perjanjiannya dengan kelompok Philadelphia belum selesai. Tapi demi keamanan Athan, Serge pun mengajak semua anggota yang ada bersamanya untuk kembali ke Perancis secepatnya. Percakapan Michaël dengan Serge di telepon pun telah berakhir. Michaël memutuskan untuk pergi ke gereja yang berada di dekat rumah sakit untuk mendoakan kesembuhan Athan. Meskipun sudah diperlakukan tidak baik, Michaël tidak menyimpan dendam sedikitpun pada Athan. Ia adalah salah satu orang yang paling peduli akan keselamatan Athan. Michaël tahu, siapa saja anggota Raid King yang sering mencibirnya dan menganggapnya penjilat, karena selalu bersama Athan. Padahal itu sudah menjadi tugasnya untuk menjaga Athan. Kalau dipikirkan kembali, terkadang Michaël merasa lelah dan ingin mengakhiri semuanya, namun ia tidak bisa. Meninggalkan Athan sama saja ia berkhianat. Melindungi Zehra saja sudah dianggap sebagai pengkhianat oleh Athan. Apalagi sampai meninggalkannya. Lagipula Michaël juga masih punya tanggungjawab untuk membiayai kehidupan keluarganya, meskipun bekerja sebagai kaki tangan mafia. Michaël duduk di salah satu kursi gereja setelah berdoa pada Tuhan. Selama berdoa, Michaël meneteskan airmatanya. Untuk pertama kalinya ia menangis saat memikirkan Athan. Michaël terus memohon pada Tuhan agar kondisi Athan kembali pulih seperti sediakala. Tak lupa juga, Michaël mendoakan kesembuhan Zehra yang berada di Pulau Guadeloupe. "Hhh! Situasi ini benar-benar berat bagiku," gumam Michaël. Kondisi gereja saat ini sangat sunyi, hanya ada Michaël di sana. Michaël termenung beberapa saat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Michaël terkejut melihat kehadiran Luca di sana. Luca menaiki pesawat express untuk sampai di Nice demi melihat kondisi Athan secara langsung. "Kenapa kau ada di sini, Dok? Bagaimana kondisi Madame?" "Aku ke sini untuk melihat kondisi Monsieur, Michaël," jawab Luca. "Kondisi Madame saat ini baik-baik saja. Sudah ada dokter ahli yang merawatnya di sana." "Jadi, kau akan tetap di sini?" tanya Michaël. Luca lantas menggeleng. "Aku akan kembali ke Guadeloupe. Saat ini, aku hanya ingin memastikan keadaan Monsieur secara langsung. Setelah aku bertanya pada dokter yang memeriksanya tadi, ternyata kondisinya cukup parah." "Itu benar. Aku sampai syok mendengarnya," ujar Michaël membenarkan. "Lalu, kau tadi kemana? Kenapa tidak menjaga Monsieur di sini?" Luca balik bertanya pada Michaël. Michaël menghela napas. "Aku baru kembali dari gereja. Aku sedang mendoakan kesembuhan Monsieur dan Madame. Situasi ini benar-benar menyedihkan bagiku, Dok." "Aku juga tidak mengerti, kenapa ini semua bisa terjadi," ujar Luca. Michaël duduk di salah satu kursi tunggu sambil menyandarkan bahunya. Ia merasa lelah jika harus memikirkan segalanya. Mungkin kutukan Monica sudah didengar oleh Tuhan dan memang sudah saatnya Tuhan memberi peringatan pada Athan. "Aku yakin, hal ini terjadi karena kutukan dari Monica." "Monica? Siapa dia?" tanya Luca tidak mengerti. "Hhh! Monica adalah salah satu korban dari kekejaman Monsieur. Dia kehilangan putranya yang masih kecil dan sekaligus kehilangan suaminya. Putranya dibunuh dan organnya dijual, sedangkan suaminya menceraikan Monica karena kesalahpahaman. Monica dijual sebagai p*****r oleh Monsieur dan suaminya tidak terima dengan hal itu. Alhasil, Monica ditinggalkan begitu saja." Luca tampak terkejut mendengar kenyataan itu. "Lalu, dimana Monica sekarang? Kita harus mencarinya dan meminta maaf atas nama Monsieur." "Sudah terlambat, Dok," jawab Michaël. "Monica sudah tewas terbunuh karena Monsieur sendiri. Beliau tidak percaya pada kutukan dan akhirnya menjadi seperti ini." "Oh, Tuhan." Luca tak mampu berkata apapun lagi. Ia benar-benar syok mendengarkan penjelasan Michaël. Luca memang tidak pernah bertanya mengenai kekejaman Athan. Ia memilih untuk bungkam karena tidak ingin mencari masalah dengan Athan. Setelah mengetahui fakta tersebut, barulah Luca mengakui bahwa memang julukan kejam itu pantas untuk Athan. "Aku harus menghubungi keluarga Monsieur di Santorini. Selama ini, Monsieur selalu melarangku untuk memberi kabar pada mereka," ujar Michaël. "Kenapa?" Michaël menaikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Tapi setiap kali aku menyebut nama ayahnya, dia selalu marah secara berlebihan dan memintaku untuk tidak menyebut nama Monsieur Chris di hadapannya. Sampai detik ini, aku masih memikirkan hal itu. Apa yang salah dengan keluarganya? Yang aku tahu, semua keluarganya orang baik." "Michaël, keluarga baik belum tentu jauh dari masalah. Bisa saja mereka memiliki masalah yang serius sampai Monsieur tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka," ujar Luca dengan opininya. "Biarkan itu menjadi rahasia pribadi Monsieur dan keluarganya. Kita tidak bisa ikut campur terlalu dalam. Jika kau bersikeras menghubungi keluarganya dan mereka datang disaat Monsieur tersadar, urusannya akan lebih panjang lagi." "Ya, kau benar, Dok." Tak berapa lama setelah mereka terdiam, ponsel Luca berdering dan itu merupakan panggilan dari dokter ahli yang menangani Zehra. Luca langsung menerimanya. "Âllo, Dokter Marliana. Ada apa?" "Âllo, Dokter Luca. Aku baru saja memanggil salah satu dokter kandungan di sini dan ternyata Madame Zehra sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki empat belas hari." "Hah? Benarkah?" "Ya, benar. Aku juga syok mendengarnya." Luca menatap Michaël sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Lalu, bagaimana dengan janinnya?" "Kondisi janinnya sangat buruk, Dok. Mungkin karena pengaruh dari kekerasan yang dia alami. Jika janin ini tetap dipertahankan, itu akan semakin memperburuk kondisi Madame." "Ya Tuhan." Luca tampak lemas mendengar hal itu. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?" "Jalan satu-satunya adalah menggugurkannya. Ini semua demi keselamatan Madame Zehra, karena kondisinya semakin menurun. Sudah terjadi pendarahan sebanyak dua kali setelah kau pergi, Dok." Luca kembali menatap Michaël dengan airmata yang sudah menetes. Seketika Michaël mengernyit bingung melihat wajah cemas Luca. Luca masih terdiam, sementara Michaël membutuhkan penjelasan tentang kesedihan Luca. "Ada apa?" tanya Michaël akhirnya. "Madame hamil, Michaël," jawab Luca dengan suara parau. Michaël terkejut sekaligus senang. "Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus. Kenapa kau menangis?" "Itu tidak bagus, Michaël." "Hah? Kenapa?" tanya Michaël heran. Luca mencoba menarik napas dan membuangnya secara perlahan. Kemudian, ia bersiap untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Zehra. "Kondisi janinnya sangat buruk. Madame sudah mengalami pendarahan sebanyak dua kali dan hal itu membuat kondisi Madame juga menurun. Salah satu cara mengatasinya adalah menggugurkan kandungannya. Jika tidak, nyawa Madame yang menjadi taruhannya." "Oh, Tuhan. Kenapa tidak ada kabar baik sedikitpun?" gumam Michaël sedih. Sementara Luca kembali berbicara dengan Marliana. Ia langsung meminta Marliana untuk berkoordinasi dengan rumah sakit di sana dan segera mengambil tindakan lebih lanjut. Marliana pun mengiyakan dan mengakhiri panggilan teleponnya. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN