Bab 35

1654 Kata
Sore hari, Zehra ingin sekali berkeliling di Roma. Sejak datang ke kota tersebut, Zehra belum berkunjung ke tempat-tempat wisata yang indah di sana. Dengan penuh kehati-hatian, ia mencoba meminta izin pada suaminya. Sungguh, Zehra sangat bosan jika terus berada di dalam mansion besar itu tanpa melakukan aktifitas apapun, karena pekerjaan di sana tidak ada selain hanya memasak. Semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh para pekerja yang memang ditugaskan oleh Athan. Saat Zehra ingin membantu saja, para pekerja selalu menolak karena takut Athan akan memarahi mereka. Zehra mencari Athan yang sejak tadi tidak kelihatan. Itu karena Athan seharian ini terus berada di ruang biliard. Bermain biliard adalah salah satu hobinya jika sedang merasa bosan. Bahkan Athan tidak terasa lapar karena permainan tersebut. Zehra yang harus menanggung rasa lelah dalam mencari suaminya di mansion besar itu. Mansion itu memiliki banyak ruangan dan Zehra harus memeriksa setiap ruangan untuk menemukan Athan. Dan sampailah Zehra di lantai tiga. Ia membuka salah satu ruangan yang berada di ujung lorong sebelah kiri. Saat membuka pintu, terlihatlah perawakan suaminya tengah bermain biliard sendirian. Sebelum masuk, Zehra mengetuk pintu yang sudah terbuka dan suaminya pun menoleh ke belakang. Ia menggigit bibir bawahnya sejenak karena gugup melihat ketampanan Athan. "Ehm, boleh aku masuk, Athan?" "Hhm." Setelah mendapat izin, Zehra pun masuk dan menutup kembali pintu tersebut. Ia berjalan menghampiri Athan, kemudian memerhatikan permainan biliard Athan yang begitu mahir. Sebelum berbicara, Zehra menarik napas sejenak dan menghembuskannya secara perlahan. Entah kenapa, jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. "Ada apa?" tanya Athan setelah menyadari keheningan diantara mereka. "Apa kau ingin bicara sesuatu padaku? Jika ada, katakan saja. Tidak perlu ragu." "Ehm, bolehkah aku berjalan-jalan mengunjungi tempat wisata di sini?" Athan mengernyit. "Sendirian?" "Ah, tidak. Jika kau ingin menyuruh Michaël untuk ikut denganku, tidak masalah. Aku tidak keberatan, Athan," jawab Zehra berhati-hati sekali. "Tapi, aku tidak akan memaksa jika kau tidak mengizinkanku pergi." Athan terdiam sejenak, kemudian berucap, "Bersiap-siaplah. Aku yang akan menemanimu." "Hah? Ka-Kau serius?" tanya Zehra tak percaya. "Kenapa? Kau tidak percaya? Atau kau lebih suka Michaël yang menemanimu daripada suamimu?" Zehra langsung menggeleng setelah mendengar pertanyaan Athan. "Tidak, bukan begitu. Aku hanya terkejut saja. Kukira kau tidak mau menemaniku." "Hhm. Cepat bersiap-siap. Aku akan menunggu," ujar Athan. "Baiklah. Tunggu sebentar ya." Zehra bergegas keluar dari ruangan tersebut dengan sedikit berlari kecil dan masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia langsung mengganti pakaiannya dengan cepat dan sedikit memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh pakaiannya. Setelah selesai, Zehra kembali ke ruangan biliard untuk menemui Athan. "Athan, aku sudah siap." Melihat penampilan Zehra yang tampak casual membuat jantung Athan berdetak kencang. Istrinya sangat cantik meski dengan tampilan make-up sederhana. Baru kali ini, Athan melihat seorang wanita yang cantiknya begitu natural seperti Zehra. "Athan," panggil Zehra sambil melambaikan tangannya di depan wajah suaminya. Athan pun tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya. Ia berjalan keluar terlebih dulu, meninggalkan Zehra di belakangnya. Akan tetapi, langkahnya kembali terhenti setelah mendengar pertanyaan sang istri. "Bagaimana dengan penampilanku? Apakah tidak buruk?" "Tidak," jawab Athan tanpa menoleh ke belakang. Pria tersebut tampaknya berusaha menjaga image-nya di depan sang istri, karena image kasar dan kejam sudah ia bangun sejak mendirikan kelompok Raid King. Athan akan merasa malu pada anggotanya jika image tersebut tiba-tiba lenyap hanya karena Zehra Ergen. Tidak. Athan tidak bisa menghilangkannya. Para musuh pasti akan memandangnya lemah terhadap wanita dan mereka akan memanfaatkan Zehra untuk menghancurkan kelompoknya. Di sepanjang perjalanan, Athan hanya diam sambil tetap fokus menyetir. Sementara Zehra menikmati udara sore hari di Roma dengan perasaan senang. Apalagi Athan memilih mobil yang tepat untuk berjalan-jalan sore ini. Mobil sport dengan atap yang memang sengaja dibuka oleh Athan agar Zehra bisa menikmati keindahan Kota Roma selama di perjalanan. Athan mendengar Zehra berdeham. Ia seakan tahu, wanita itu hendak memulai pembicaraan. Athan pun berpura-pura untuk mengabaikannya. Athan merasa tingkahnya selalu aneh belakangan ini setiap kali berinteraksi dengan sang istri. Seperti seseorang yang gelisah saat berhadapan dengan orang yang dicintai. Tapi sayang, berulang kali Athan menepis perasaan itu. Ia seolah tidak siap untuk membuka hatinya. "Athan," panggil Zehra. "Hhm." Zehra menatap ke arah Athan. "Jika kondisi sudah membaik, apakah kita akan kembali ke Perancis?" "Ya," jawab Athan singkat. "Ehm, tidak bisakah kita tinggal di sini saja? Aku sangat suka dengan kota ini," ujar Zehra yang telah memandang ke arah depan. "Sejak kecil, aku sangat menyukai Italia, terutama Roma. Cita-citaku adalah ingin tinggal di sini seumur hidupku. Dan kau mewujudkan cita-citaku. Terima kasih." "Hhm." "Ck!" Zehra mendecak kesal karena terus mendengar ucapan singkat dari suaminya. Percakapan pun menjadi tidak seru jika terus seperti ini. Bahkan ia tidak tahu lagi harus berbicara apa agar suasana mereka tidak secanggung ini. "Athan, apa kau tidak suka dengan perbincangan ini?" "Apa maksudmu?" Athan bertanya balik. "Ehm, maksudku, kau selalu menjawabnya dengan singkat. Kukira kau tidak menyukai perbincangan ini," jelas Zehra. "Hhh!" Athan menghela napas berat. "Aku hanya tidak ingin banyak bicara. Tolong mengerti itu." Zehra hanya mengangguk pasrah dan membiarkan keheningan di antara mereka terus terjadi seperti sebelumnya. Padahal Zehra ingin sekali berbagi cerita dengan suaminya. Tapi karena karakter suaminya yang seperti itu, Zehra tidak dapat memaksakan kehendaknya. Beberapa saat kemudian, Athan menghentikan mobil sport hitamnya di tepi jalan. Mereka tiba di sebuah tempat wisata umum yang selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung lokal dan turis asing. Athan turun bersamaan dengan Zehra. Piazza Navona merupakan alun-alun yang begitu terkenal di Roma. Alun-alun ini dibangun di Stadion Domitian. Salah satu bagian terindah dari alun-alun ini adalah terdapat tiga buah air mancur di sana. Ketiga air mancur tersebut masing-masing memiliki nama yang berbeda, Fontana dei Quattro Fiumi, Fontana del Moro dan Fontana del Nettuno. Tempat ini merupakan tempat yang ingin sekali dikunjungi oleh Zehra sejak kecil. Dulu, ia sering sekali mendengar nama Piazza Navona dari teman-teman satu sekolahnya yang sudah berkunjung ke tempat itu saat libur sekolah. Karena merasa penasaran dengan tempat tersebut, Zehra selalu meminjam komputer temannya untuk mencari tahu tentang tempat terindah itu. Setelah mengetahuinya, ia pun menjadi ingin pergi berkunjung dan sekarang keinginannya terwujud berkat Athan. Selama menjadi seorang model, Zehra tidak sempat pergi ke Roma karena banyaknya pekerjaan di Perancis. Tapi Zehra selalu berharap akan ada sesi pemotretan di Italia, namun kenyataannya tidak ada. "Hhh! Akhirnya aku berdiri di tempat ini, Athan. Aku sangat senang bisa berada di sini," ujarnya. Athan hanya diam dan membiarkan Zehra berkeliling di tempat tersebut, sementara dirinya memilih untuk menunggu di dekat mobil saja. Sembari menunggu, Athan memeriksa ponselnya yang sejak tadi terus saja berdering. Natàsa berulang kali menghubungi dan Athan memutuskan untuk menghubunginya kembali. "Kak, kemana saja kau? Kenapa tidak menjawab panggilanku?" Mendengar pertanyaan adiknya, Athan mendengus kesal. "Aku sedang di jalan dan tidak sempat untuk menerima panggilanmu. Ada perlu apa? Jika kau ingin menyuruhku kembali menemui mereka, aku akan menolak." "Ck! Dasar keras kepala!" Natàsa mengumpat kesal. "Terserah," balas Athan. "Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu." "Kudengar, kau pergi ke Italia. Apa itu benar?" Athan mendecak kesal. Adiknya itu selalu saja mengetahui setiap pergerakannya. "Itu bukan urusanmu. Jika kau menelepon hanya untuk menanyakan itu, sebaiknya aku tutup sekarang." "Tunggu, Kak!" cegah Natàsa. "Hhh! Apa lagi?" tanya Athan lelah. "Jika kau punya waktu, tolong temui Mama. Kami juga berada di Milan. Mama sedang sakit dan dia terus saja memanggil namamu, Kak." Athan tampak tidak fokus dengan ucapan adiknya, karena ia tidak melihat istrinya di dekat air mancur tersebut. Kedua matanya terus mengitari area sekitar, namun Zehra tidak terlihat di sana. Tanpa pikir panjang, Athan mematikan panggilan tersebut dan memutuskan untuk mencari Zehra. Ia sudah berpikiran buruk, barangkali ada musuh yang berhasil mengetahui keberadaannya di Italia. Athan berlari menyusuri Piazza Navona sambil berteriak memanggil nama Zehra. "Zehra!" Athan kembali ke tempat mobilnya terparkir, berharap Zehra sudah ada di sana. Tapi sayang, harapan itu terwujud. Athan memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Zehra yang kebetulan sudah ia simpan sebelumnya. Panggilan pertama tidak dijawab oleh istrinya. Athan mencoba kembali namun hasilnya tetap sama. Dan di panggilan ketiga, akhirnya dijawab oleh Zehra. "Athan, tolong aku...." Pria itu terkejut mendengar suara parau istrinya. "Kau dimana sekarang?" "Aku sedang bersembunyi di tempat sampah. Ada tiga orang berandalan yang mengikutiku sejak tadi. Tolong aku, Athan." "Sialan!" umpat Athan geram. "Kau tetap di sana dan jangan keluar. Aku akan melacak GPS-mu." Athan mematikan panggilannya dan bergegas melacak lokasi istrinya saat ini. Perlahan ia berjalan mengikuti petunjuk di ponselnya. Setelah berjalan sedikit jauh dari lokasi awal, akhirnya Athan menemukan sebuah tong sampah berwarna hijau yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Di dekat tempat sampah itu, memang ada tiga orang pria berandalan yang sedang berjalan mendekat ke arah tempat sampah. Athan bergegas menghampiri ketiga berandalan itu. "Hai, Bung. Kalian sedang apa?" tanya Athan dalam bahasa Italia. Salah satu berandalan itu menjawab, "Kami sedang mencari seorang wanita cantik di sini. Sepertinya dia keturunan Turki. Wajahnya sangat cantik dan kami ingin berpesta bersama dengannya." Mendengar ucapan itu, darah dalam tubuh Athan seketika mendidih, namun ia berusaha untuk menahannya. Tampaknya, ketiga berandalan itu tidak mengenali Athan sama sekali. Padahal Athan termasuk salah satu Godfather yang juga terkenal di Italia, salah satunya adalah Roma. Demi menyelamatkan Zehra dari tiga orang tersebut, Athan harus bisa mengendalikan emosinya untuk saat ini. "Ya. Kami ingin sekali merasakan tubuhnya yang indah. Kami pasti orang yang beruntung setelah ini. Benarkan teman-teman?" sahut berandalan lainnya. "Apa kau melihatnya?" tanya berandalan satunya lagi kepada Athan. Athan langsung mengangguk. "Apakah wanita itu sangat menarik di mata kalian?" "Tentu saja. Dimana dia?" "Aku baru saja melihatnya di dekat gedung itu. Coba kalian cari di sana. Barangkali di tempat itu dia bersembunyi dari kalian," ujar Athan berbohong. Ketiga berandalan itupun bergegas menuju gedung yang ditunjukkan oleh Athan. Jaraknya sangat jauh dari tempat Athan berdiri. Setelah memastikan ketiga pria itu menghilang dari pandangannya, Athan pun bergegas membuka tempat sampah tersebut dan panik saat melihat Zehra sudah tidak sadarkan diri. Pasti wanita itu kesulitan untuk bernapas di dalam sana. Athan bergegas mengeluarkannya dan membawanya ke mobil. Pria itu memutuskan untuk kembali pulang ke mansion. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN