40. Nyasar pesannya

1880 Kata
Suasana di lantai dasar sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan mendadak penuh tidak seperti biasanya. Mal ini biasanya ramai kalau menjelang hari raya, liburan, dan ada event tertentu seperti kedatangan artis. Sore ini padat sekali karena alasannya ada di atas. Di mal ini ada sebuah acara konser kecil yang diadakan produk kecantikan brand ternama yang biasa mengeluarkan body lotion, parfum dan sampo cewek. Aku diajak oleh Julia, pacarnya Dika untuk menonton acara ini karena bintang tamunya adalah Adara Emeren. Tuhan memang punya seribu satu cara untuk membuat semangatku bangkit. Tiba-tiba saja pukul 3 sore aku dichat oleh Julia dan Dika diajakin untuk ke mal menonton acara itu bersama, yang akan mulai pukul 5 sore. Acara ini gratisan makanya area depan panggung sudah penuh para fans bintang tamu yang kabarnya mengisi acara, yaitu: Adara, Isyana, Chelsea Islan, Prilly, Ariel Tatum, dan GAC. Namanya juga acara gratisan pasti fans bahkan non fans datang untuk nonton. Aku dan Julia janjian di pintu samping. Dika yang tinggi menjulang mencari titik yang strategis bisa menjadi tempat kami nonton acara ini. Jujur baru pertama kali aku nonton Adara nyanyi secara langsung, biarin deh bawain hanya satu atau dua lagu. Yang penting aku bisa lihat, meski jaraknya jauh banget begini. "Penuh amat lebih padet dari acara Jakarta Marathon. Gue sih bisa lihat sambil jingkat-jingkat dikit. Kalian ini yang susah liatnya. Mau nonton dari atas?" tanya Dika, jangan heran mengapa dia mau repot desak-desakan sama kami padahal penampilannya sudah cowok banget. Tipe cowok yang memang mau repot sama cewek-cewek. "Mau nonton dari lantai atas?" "Nggak seru," jawab Julia sambil kedorong-dorong. Dia lebih tinggi dariku tidak perlu cemas. Aku yang harus ekstra jingkat-jingkat nanti supaya bisa melihat ke panggung. "Iya, mana seru dari atas keliatan ujung kepalanya doang." "Jangan di atasnya banget, kita nonton di seberangnya. Kan sama aja kayak diri di sini," jelas Dika di tengah kebisingan. "Susah mau ke sananya. Di sini strategis kok." Aku menghela napas. Pasrah. "Oke, apa kalian mau gue gendong? Eh, kalo Jules mah gue kuat. Kalo Dea nggak kuat berat." Dika terkekeh. Aku menginjak kaki Dika karena dia nyebelinnya kumat di tengah suasana mendesak begini. Dika meringis kencang sampai cewek-cewek menoleh heran. Soalnya Dika suaranya tuh cempreng banget kalau teriak. "Kamu berisik banget si, pssst diem!" omel Julia melirik Dika dan panggung gantian. Dika jadi cemberut diomelin sama pacarnya. "Kalo gue tau infonya dari kemarin kita bisa dateng lebih awal." Julia ngomong padaku. "Kalian kenapa nggak nonton berdua? Gue kayak nyamuk jadinya nyempil di antara orang pacaran," gerutuku. "Iya tadinya gitu, tapi pas gue bilang sama Dika mau nonton acara Lovely Day ini kita tiba-tiba keingetan lo. Dika juga nyuruh ngajak lo juga. Gue setuju aja kan lo fans beratnya Adara." Cerita Julia. Dika memiringkan kepalanya supaya bisa melihat wajahku. Suasana saat ini sesak banget. Aku mencari wajah Dika juga. "Cie, lo inget gue, Brader? Thanks yo!" seruku senang. "Besok kalo gue pamer abis nonton ni acara nggak bilang ama lo takut dijambak. Abisnya gue kalo liat ni artis dan iklannya yang cewek rambut pirang keingetan sama lo. Gue aja apal jingle iklan parfumnya 'Semprot sana! Semprot sini! Cowok nempel deh'. Kasian lo nonton yang gratis aja nggak kesampean apalagi yang bayar." Dika terkekeh ingin aku menghajarnya, namun dia habis berbuat baik. Lebih baik aku manis sedikit saja. "Kok kamu apal sih? Jadi suka banget pelototin cewek di iklan?" goda Julia pada Dika yang langsung cemberut. "Jangan-jangan kamu suka juga sama Adara? Kamu harus saingan sama Dea dan aku loh!" "Nggak bakal gue rela bagi-bagi sama lo, Dik! Lo cari artis lain aja deh," keluhku. Dika mengerutkan kening. "Lah, gue cowok, tar Adara lebih milih gue daripada lo, De. Nih ya, masa kita rebutan artis cewek?" "Gue pernah rebutan Shawn Mendes sama Dika," tambah Julia dengan raut serius. "Dia baru ngefans masa langsung ngerebut aja, nggak rela tar dika rebut Adara lagi." Dika memasang ekspresi masam sementara aku dan Julia tertawa memperhatikan wjaah kusutnya. "Aku baru suka tau, maksudnya biar si Shawn nggak ngisi hati kamu utuh. Aku kan juga lagi antre ngisi hati kamu." Dika memang mulutnya luar biasa. Aku tertawa ngakak. "Antre isi hati? Isinya full tank gak?" "Lucu lo kayak Alvin!" celetuk Dika membuat aku kesal disama-samain dengan Alvin. Belum sempat protes terdengar suara MC-nya yaitu Prilly Latuconsina dan Ariel Tatum. Prilly dan Ariel membuka acara dengan menyapa para penonton, dibalas oleh teriakan pengunjung mal heboh seketika aku merasa sedang di stadion bola. "Ya ampun, Ariel dari jauh aja gemay sekali," komentar Dika dengan mata melototin panggung. Aku menyipitkan mata ke arahnya. Tahu banget maksud omongan cowok itu, meski kelihatannya baik-baik tetap saja Dika usil. "Huuu, dasar cowok!" balasku. "Kamu harusnya pake kacamata item deh biar liatnya nggak ke mana-mana!" maki Julia membuat Dika cemberut. Aku ketawa mendengar Julia ngomelin Dika. "Salahin Rayn tuh suka nunjukin artikel dan fotonya Ariel. Temen sebangku lo juga suka nanyain artis gemay loh. Hati-hati aja sama Jojo yang keliatannya sok polos itu," kata Dika ketawa lebar. "Alvin aja suka loh, De." "Alvin terus kenapa sih?" sahutku sewot. Kami terpaksa harus berhenti ngobrol karena acara benar-benar dimulai dengan sambutan oleh seorang perempuan cantik yang merupakan CEO perusahaan brand produk kecantikan Pretty tersebut. Sambutan, games, pengisi acara yang tidak terlalu terkenal sudah aku lalui. Aku mulai bosan menunggu puncak acaranya di mana penyanyi terkenal bermunculan. Setelah menanti dan kaki mulai linu semangatku langsung terpompa kembali antusias saat MC memanggil Adara Emeren. Aku ikutan berteriak memanggil namanya dengan suara sekeras mungkin. Aku bisa melihat wujud asli penyanyi kesukaanku meski jaraknya sangat tidak layak begini. Pokoknya yang penting aku bisa lihat penyanyi yang usianya empat tahun lebih tua dariku itu. Aku terkesima melihat penampilannya yang selalu bisa menyihir para penonton. Kali ini rambut Adara dicat hitam dan panjang lurus melewati bahu. Wajahnya masih sama dengan gadis yang sering aku lihat di layar ponselku. Aku menggigit bibir masih tidak percaya bisa nonton dia secara langsung. Aku ikut bernyanyi-nyanyi mengikuti dengan fasih bahkan mengikuti nada tingginya. Aku bukan Julia atau Dika yang suaranya masih enak didengar. Suaraku sangat pas-pasan tapi maksa banget. Kapan lagi aku nyanyi bareng dengan Adara? Mama, aku tidak mau pulang. Kapan bisa nonton konser solonya? Aku masih pelajar dengan uang saku seadanya, mungkin kalau nabung setahun baru bisa terkumpul sementara konser Adara tidak lama lagi. "YAAAAAH, KOK UDAHAN? LAGI!!! LAGI!!! WOI LAGI DONG!" "HEH, DUGONG, EMANG KONSER LO YANG NGADAIN?" Dika menoyor kepalaku pelan menyadari teriakanku keras, percuma tidak bakalan terdengar sampai ke panggung. Sementara Adara di sana melambaikan tangan ke seluruh penggemarnya. Aku lambaikan tangan supaya dia menyadari kehadiranku. "KKYAAAA, KAKAK KANDUNG DI SINI ADA GUE LIAT SINI KEK!" "Heh, bacot amat lo!" seru Dika geleng kepala. Aku nyengir membentuk peace sign. "Ck, abis ini makan yak gue capek." "Aduh, gue pegel nih. Pasti penuh kalo makan di sini banyak yang makan juga. Yuk, kita cabut! Adara udah kelar." Aku tidak rela meninggalkan posisi, masih berharap Adara akan keluar lagi buat nyanyi satu album. Hari ini aku bisa melupakan kekecewaanku pada Rafael, tidak usah diingat lagi. Rafael saja tidak peduli dan lupa sama janjinya. Aku mengecek ponsel hanya ada notif spam grup dan tidak ada satu pun pesan dari nama Rafael. Sebenarnya, aku ini apa? Rafael tidak menghubungiku sama sekali saat aku tahu ada cewek lain di rumahnya. Apa aku salah terlalu curigaan dan cemburu? Aku memandangi punggung Dika dan Julia yang jalan di depanku sambil tertawa dan bercanda. Dika pasti menjadi tipe cowok yang tidak akan membiarkan ceweknya diam atau sedih, dia berusaha memecahkan suasana dengan ocehan tidak pentingnya itu. Bertanya-tanya dalam hati sendiri, mengapa aku mempertahankan Rafael? Aku seperti berdiri sendiri membangun jembatan itu. Aku rasa ini untuk yang terakhir kalinya aku dipermainkan. Sepanjang perjalanan menuju foodcourt aku berdebat dengan hatiku sendiri. Aku sudah tidak kuat lagi berpacaran dengan Rafael. Apa begini yang disebut sebagai pacaran? Rafael muncul dan menghilang sesukanya tanpa ngabarin. Aku mau pulang sendiri, dia tidak menahanku. Dia tidak mengabari, asyik ngobrol sama Lyra. Sampai sore begini dia tidak ada kabarnya juga. Aku mengambil ponsel mengetikkan kalimat dengan segera. Dea Sagita: Raf, aku mau putus. *** Dea Sagita: Raf, aku mau putus Alvin Matt: Hah, lo ngigo? Dea Sagita: Sori sori salah kirim   Bodoh banget sih, saking buru-burunya ngetik terbawa perasaan aku mengirimnya ke kontaknya Alvin. Aku mendesah berat tidak percaya pada diri sendiri yang sudah salah kirim pesan. Pesan penting itu tidak sampai ke Rafael, pantas saja aku menunggu respons balasan tak kunjung datang. Aku tidak mengecek pesannya lagi, karena hatiku sakit setiap membaca kalimat itu. Sampai aku pulang ke rumah, aku tidak sadar bahwa pesan itu nyasar ke kontak Alvin. Aduh, malu banget. Keputusanku di mal tadi sudah bulat untuk minta putus. Sekarang jadi galau lagi. Julia mengatakan ingin berkenalan dengan kekasihku. Gara-gara itulah aku terjebak dalam pembicaraan tentang Rafael. Aku cerita pada Julia dan Dika bahwa lagi-lagi aku ngambek dengan Rafael dan pacarku itu cuek tanpa berusaha mengejar atau menghiburku. Dika tidak banyak bicara, namun aku bisa menangkap arti tatapannya yang kasihan dan kesal. Dia pasti juga sama dengan Della, menentang hubunganku dengan Rafael. Sebagai cowok, Dika ingin bersikap tidak berlebihan, makanya dia menyerahkannya ke Julia. Julia yang memberi petuah banyak tentang hubunganku. Kata Julia, aku ini juga manusia yang memiliki perasaan, kalau pacaran terlalu banyak makan hati dan kesal lebih baik diakhiri. Aku sudah mencoba mempertahankan dan mengerti Rafael, tapi menurut Julia cowokku itu tipe cowok yang cuek dan sulit ditebak. Julia pun meragukan apa Rafael benar menyayangiku, karena menurutnya sikap Rafael sama sekali tidak seperti cowok yang menyayangi perempuan. Alvin Matt: Ada masalah? Dea Sagita: nggak kok Alvin Matt: Boong Dea Sagita: Knp peduli? Alvin Matt: Ga juga, ok ya udh Dea Sagita: Vin ;(((( *** Aku mengusap wajah dengan tangan sambil merebahkan diri di kasur dalam kamar. Pesan terakhirku hanya dibaca oleh Alvin. Karena mempertahankan satu orang aku nyaris kehilangan semuanya. Mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan. Aku sama sekali tidak mengenal sisi dalam Rafael, aku tidak bisa memahaminya dan bayanganku terhadap Rafael hanya harapan belaka. Aku kira cinta itu saat aku dan dia menjadi kita. Cinta tanpa pertahanan sama saja bangunan tanpa pondasi. Tanpa pondasi mana kokoh. Status ternyata tidak penting amat, masih bisa dikelabui. Air mata turun melewati pipi, aku mengusap air mata yang hangat memejamkan mata berusaha menahan rasa sakit dan kecewa. Aku ingin tidur sebentar. Berharap habis itu aku terbangun dari mimpi buruk yang awalnya aku anggap indah ini. "Mbak Dea ada tamu!" Dari pintu ada suara Mbak Nurul berteriak. Aku mendengar suaranya yang mengangetkan, baru tidur beberapa saat dikejutkan oleh teriakannya dari luar. Aku mengusap mata yang bengkak dan tersisa air mata kering. Sekarang mataku jadi perih dan sakit. Aku bergegas menuju pintu penasaran siapa yang datang. "Iya, Mbak. Siapa yang dateng?" Aku siap jika Rafael yang datang malam ini, lebih baik diselesaikan dengan cepat dibicarakan langsung. Sudah tidak ada tolerir lagi aku mau langsung putus saja. Capek dengan semua ini. "Temen Mbak, ganteng kayak artis, tinggi banget, putih kayak koko Cina, dan idungnya mancung banget loh pasti kalo ketusuk pake idungnya sakit." Aku mengernyitkan dahi mendengar ciri-ciri yang disebutkan Mbak Nurul. Siapa orang yang disebut memiliki ciri-ciri begitu, tidak mirip dengan Rafael. Jojo tidak terlalu tinggi, Rayn hidungnya kurang mancung, sedangkan Dika kulitnya rada gelap. Alvin? Yang bener aja? Ngapain dia ke sini? TBC *** 7 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN