41. Nugas-main bareng

1902 Kata
Kenapa hatiku dapat dengan mudah ditarik ulur oleh orang lain. Benar-benar sosok Alvin yang datang ke rumahku. Saat ditemui cowok itu duduk di teras mengamati taman depan rumahku. Alvin menggunakan kaus putih dan jaket abu-abu, kacamatanya dipakai entah maksudnya apa, padahal aku sudah tahu aslinya mata cowok itu tidak minus. Mungkin Alvin hanya ingin gaya-gayaan. Alvin tidak berbicara banyak, hanya memandangi lampu taman, tanaman hias, dan kadang melihat ke arahku. Tidak lama dia akan mengalihkan memandang ke arah lain lagi. Aku juga tidak banyak bicara, enggan memulai percakapan duluan. Karena aku tidak tahu harus bicara apa. Aku masih kikuk karena salah kirim pesan. Di kepalaku ada banyak pertanyaan atas mengapa tiba-tiba dia muncul. Aku menahan tidak banyak tanya, karena Alvin terlihat lagi malas ngomong. Selama satu jam aku dan dia hanya duduk diam tanpa kata-kata. Cowok itu baru pulang ke rumah saat aku menguap ngantuk dan mengingatkannya jika ini sudah malam. Besok kami harus berangkat pagi. Sampai Alvin pergi aku masih memandang teras tak percaya, hari ini terlalu banyak kejadian aneh. Namun Alvin yang paling aneh, dia datang tanpa mengatakan apa-apa hanya memandangiku. Aku juga tak kalah anehnya ikutan diam. Perasaanku lagi kacau balau lebih banyak menyelami pikiran sendiri. Entah mengapa kami berdua menjadi aneh dan berbeda. Kalau Alvin tidak datang, aku sudah tidur nyenyak. Tidur adalah obat paling mujarab untuk melupakan (sementara). Aidan, Mama, dan Papa heran karena aku dan tamuku tidak ada suara sama sekali. Mereka malah mengira aku diajak pergi keluar saking sunyinya suasana di luar tadi. *** Pagi ini aku menyimpulkan bahwa hubunganku dengan Rafael hanya kekhawatiran yang aku buat sendiri. Nyatanya Rafael masih bersikap biasa saja saat menjemputku. Setelah kemarin tanpa kabar, cowok itu minta maaf ponselnya tidak bisa dinyalakan sejak dicharge kemarin siang. Rafael memang selalu bisa mengambil hatiku dan aku lega kata putus tidak terucap kemarin sore. Aku memang selalu menuduhnya tanpa bukti. Dalam perjalanan menuju sekolah cowok itu bercerita banyak tentang masa sekolahnya dengan Lyra. Aku baru tahu setelah keluar dari panti, Rafael tinggal bersama keluarga barunya itu di Batam. Saat SMP, Rafael kembali ke Jakarta dan satu sekolah dengan Lyra. Mereka harus pisah saat Lyra pindah ke Medan. Mereka hanya teman tidak lebih. "De, kita lupa beli kertas folio. Lo mampir yak sama Rayn. Soalnya kita udah sampe di depan rumah lo, nggak tau toko fotokopian di mana!?" seru Jojo di seberang sana lewat sambungan ponsel Rayn. Ponsel Rayn berdering panjang minta diangkat cowok itu menepikan motor dan memberikan ponselnya padaku. Kami ber-enam kali ini akan ngerjain tugas karya ilmiah PKN di rumahku. Tugasnya membuat esai di kertas folio. Aku dibonceng Rayn karena hanya dia yang mau menungguku ngaret beberapa menit, gara-gara Fahri memanggilku membahas ekskul jurnalistik yang kekurangan pengetik, aku diminta membantu mereka. Aku bukan anggota inti dan jarang ikut ekskul, mungkin ini cara supaya nilai ekskulku tetap baik. Sementara aku dan Rayn bertemu dengan Fahri, Jojo-Dika-Rina dan Della cabut duluan ke rumahku. Alvin tidak masuk sekolah hari ini jadi tidak akan ikut ke rumahku. Aku mengirimnya pesan, menganggap dia sudah bisa bersikap biasa saja setelah datang ke rumahku tadi malam. Namun, pesanku diabaikan hanya dibaca. "Iya, ini masih di jalan nanti lewatin toko yang biasa langganan gue. Hm, Jo, Alvin bakal dateng nggak?" tanyaku agak keras suara bising kendaraan bersautan. "Oke. Cie, ngarep Alvin dateng nih ye!!!!!! EH b*a-BRO, DEA NANYAIN ALVIN!" seru Jojo pada yang lainnya. Setelah itu ada suara bersahutan menggoda cie cie. Aku mengepalkan tangan geram. "Jo, lo ngajak ribut mulu!" pekikku kesal. "Biar beli kertasnya nggak ngepas banget." Jojo tertawa keras. "Alasan bisa aja lu. Ngaku aja sih, nanti gue suruh dia dateng kalo dia nggak mau berarti Alvin maunya lo yang ngajakin langsung." Aku mendecih disuruh ngajak Alvin langsung ke rumahku, padahal pesanku saja hanya dibaca olehnya. "Gue tutup. Ngeselin banget sih lo," kataku lalu menutup sambungan hape Rayn. Aku mencolek bahu Rayn menyodorkan ponselnya. Namun, cowok itu menolak dan meminta aku memegangi ponselnya. "Pegangin bentar, takutnya mereka nelepon lagi." Setelah itu Rayn ngegas motornya gila-gilaan. Berbeda dengan Jojo yang taat dan lembut dalam berlalu lintas, Rayn s***s banget kalau bawa motor. Namun, masih lebih parah Alvin. Rayn masih ragu-ragu saat nyalip truk besar. Lagi-lagi aku teringat Alvin. Sebenarnya pacarku itu Alvin atau Rafael sih? *** "Psssst, ada yang bohay!" Rayn tiba-tiba bersiul dan merapikan rambutnya. Kami sedang antre menunggu penjaga toko mengambil kertas folio dan buku gambar pesananku. Aku menoleh ke arah Rayn yang langsung pasang wajah sok ganteng. Rayn mengadahkan tangan minta ponselnya. Aku mengikuti arah tatapan matanya yang tertuju ke sekelompok cewek anak SMA yang cantik-cantik mempesona. Aku langsung paham fokus Rayn pada cewek yang paling cantik dan seksi. Cewek paling mencolok itu tertawa lebar. Rayn bersiul lagi dengan mata berbinar. "Tobat weh, playboy amat lu!" celetukku menyodorkan ponselnya. "Gue aduin kelakuan lo sama Jojo dan Dika. Inget Kelyn!" "Kelyn nggak bakal tau. Ini cadangan, De, masih zaman punya gebetan cuma satu?" Rayn tersenyum penuh makna. Aku memutar kedua bola mata. "Punya satu aja syukur." Aku menjawab dengan gumaman pelan dan tidak digubris Rayn yang sudah berjalan gagah dan tengil ke sekelompok cewek yang nongkrong depan warung capucino cincau. Aku menghela napas lesu, kepala menggeleng pelan rada heran dengan kelakuan Rayn. Di mana pun dia berada kalau lihat cewek cantik langsung disamperin dan minta nomor. Rayn lumayan ganteng dan baik, gampang bergaul jadi wajar cewek-cewek akan langsung tertarik. Di antara tiga teman cowokku itu, Rayn yang paling tidak ingin aku jadikan pacar. Aku tidak suka bad boy, ingat? Kecuali bad boy-nya itu setia, perhatian dan tipe pelindung. Yang hanya ada di teenlit. Aku menoleh kembali ke kelompok cewek bohay itu. Di sana Rayn sudah menyatu dengan para cewek dan tertawa riang. Si cewek-cewek menatap Rayn memuja. Dasar manusia. Setelah say goodbye Rayn kembali dengan senyuman lebar super cemerlang dan tangannya menggenggam ponsel. "Dapet dong, deket rumah lo banyak cecan ya? Gue pernah juga dapet kenalan di mini market depan kompleks lo. Di Bank, warteg, dan oh ya di warung makanan Padang juga pernah, dia makan sama cowoknya." Aku melotot lebar. "Gila apa lu, ada cowoknya digodain?!" "Yoi, awalnya gue godain dia cuek. nggak lama cowoknya dateng kan ya, gue balik ke meja gue. Pas cowoknya ke toilet dia nyodorin kertas ada nomornya sambil senyum-senyum gitu." Cerita Rayn, aku makin tak habis pikir. "Stres kayak nggak ada cewek single. Kasian cowoknya," omelku. "Males sih lebih seru yang udah ada pacar, gue pernah dilabrak cowok anak kuliahan gara-gara godain ceweknya. Gue sih ketawa aja baru pacaran pada serius amat," kata Rayn. "Kalo sama pacar orang chatting seru gitu godainnya, apalagi kalo mereka sampe putus." Senyuman merekah di bibirnya bangga. "Parah banget. Pantes aja dulu Rina baper sama lo. Della juga deh sama Dika. Tapi kayaknya sampe sekarang Rina yang masih kikuk sama lo. Pasti dia sakit hati beneran lo PHPin." Rayn tertawa geli. "Ini nih, kadang gue bayangin kalo kita jadi pacaran ber-enam. Pas banget tiga-tiga. Lo sama Jojo gue bakal dukung banget. Lucu anjir, kalo kita pacaran bertiga bisa tukeran pasangan." "Mimpi aja lo sono!!" Aku memukuli lengan Rayn dengan kertas folio dan buku gambar. Cowok itu meringis menerima serangan dariku. "Dasar d***o banget sumpah lo!!! Yuk, cabut, keburu sore dan Jojo ngomel karena ngaret." "Halah, bilang aja mau ketemu Ayang Jojo atau Ayang Alvin." Rayn berjalan ke motornya, saat dia hendak memakai helm para cewek di depan tukang capcin berteriak memanggilnya dengan nada centil dan menggoda. Rayn balas melambaikan tangan plus tersenyum miring mautnya. Aku gagal ngomel nyahutin ucapan terakhir Rayn karena memperhatikan kelakuannya itu yang menggelikan. "Heh, mau pulang kagak buru naik!" *** "Huaaaa, pegel." Aku memijat jari-jemari menghasilkan bunyi yang berasal dari sendi-sendi. Tugasku akhirnya selesai, padahal yang lain sudah selesai menyelesaikan tugasnya sejak tadi. Aku terlalu asyik menulis esai sampai lembaran demi lembaran penuh dengan kalimat buatanku. Temanku yang lain menulisnya singkat-singkat dan on point. Aku nulis kebanyakan, barang kali ada nilai plus dari gurunya. Aku mengedarkan pandangan mencari teman-temanku mereka duduk di karpet bawah mainan dengan membentuk lingkaran kecil. Sayup-sayup aku mendengar mereka tertawa. Di sofa panjang Alvin tiduran sambil mendengarkan lagu lewat earphone, cowok itu sudah selesai tugasnya karena menulis pendek, singkat, dan apa adanya. Tipe Alvin banget. "De, lo udah selesai? Sini dong sama Alvin juga!" seru Della. Aku bangun dari duduk membangunkan Alvin yang matanya terpejam. Dia mendecak dan menatapku tajam dan sepertinya terganggu. "Bangun, disuruh ke sana," kataku berusaha bersikap biasa saja. Dengan bersikap biasa saja, kami tidak akan canggung lagi. Padahal jantungku sudah jumpalitan ngomong ke dia. Alvin melepas earphone-nya dan mengikutiku pergi ke karpet di mana teman-temanku sudah berkumpul dan ketawa. Aku duduk di antara Rina dan Dika sedangkan Alvin nyelip di antara Rayn dan Jojo. Posisi duduk menjadi aku, Dika, Della, Jojo, Alvin, Rayn dan Rina. Alvin duduknya tepat di depanku. Perasaan was-was menyelimuti hati saat melihat raut wajah mereka mencurigakan banget. Aku curiga akan diseret dalam permainan aneh misalnya pemanggilan arwah atau judi. Habis ekspresi wajah mereka berubah jadi serius dan berbeda. Muka-muka evil. "Ngapain sih ini?" tanyaku memecahkan keheningan. "Sekali-kali kita duduk kayak gini berhadapan satu sama lain." Jojo menjawab dengan mimik serius. "Iya, kapan lagi biasanya pada sibuk sama dunia sendiri," jawab Della. "Ayo, kita bakal mainan apaan?" Rayn bersuara. "Yang seru dan bakal mengesankan," sahut Dika memainkan alisnya. Aku mengerjapkan mata. "Apaan tuh?" "Truth or dare." Rina tersenyum lebar. "Kita tadi main gituan seru banget deh." Aku tidak terlalu suka mainan itu, kalau tidak dikerjain melakukan hal yang aneh pasti bakalan disuruh buat pengakuan. Eh? "Eh, botol Fresh care-nya mana tadi?" Jojo mengangkat paha celingukan mencari sesuatu. Alvin mengambil sesuatu dari bawah kakinya dan menyodorkan botol minyak papermint itu ke Jojo. "Tengs brader. Btw, kita bakal main Truth or dare. Nih ya, gue bakal puter botolnya yang ditunjuk tutup botol harus milih Truth or dare." "Udah tau!!" Dika, Rina, dan Rayn kompak berseru. "Yang udah tau iya diem aja, kan Dea sama Alvin kali aja belum ngerti," sahut Jojo dengan nada tinggi karena disela omongannya. "Oke paham?" "Hukumannya kalo boong?" tanya Della. "Yang bohong soal Truth—" "Bakal mandul?" sahut Rayn langsung menerima tabokan panas di paha dari tangan Rina yang kecil tapi kayak gebukan kasur. Rayn misuh-misuh merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya. "Sumpah, masa hukumannya kejam gitu? Takut ih!" kilah Rina. "Makanya jangan boong," tandas Rayn. "Bukan gue yang ngomong loh! Salahin Rayn nanti kalo kalian—" Ceplos Dika namun segera berhenti saat mendapat pelototan tajam dari kami. Dika nyengir polos. "Canda, elah." Aku diam tidak banyak komentar, jujur saja perasaanku sudah buruk sejak diajak main Truth or dare ini. Tidak sengaja aku melihat ke arah Alvin yang lagi memandang ke arahku juga dengan tatapan tajam. Entah maksud tatapannya itu apa. Apa dia juga memiliki feeling yang buruk dengan permainan ini? "Karena pemain kita banyak, hanya ada satu orang yang ngajuin pertanyaan Truth atau tantangan Dare. Setuju nggak? Lagian seru gitu, nggak usah mikir keras ngasih ide," ujar Jojo. Aku mengangguk setuju. Bayanganku akan dikerjain enam anak ini langsung buat takut. "Eh, no v****r ya!" kecam Rina langsung. "Yah, nggak seru!!!" balas Rayn cengengesan. "Canda kok canda, pada takut banget, ih mukanya kayak suzana!" Para cewek langsung memasang wajah dan tanduk marah saat Rayn protes begitu. "Oke, ayo, lo gimana Vin keberatan nggak mainan ini?" Della memandangi Alvin yang belum mengeluarkan satu kata pun sejak masuk dalam lingkaran. "Nggak. Ya udah mulai," kata Alvin santai. TBC *** 8 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN