42. Truth or dare

1748 Kata
"Oke!!" Jojo memegang botol dan memutarnya searah jarum jam. Kami semua tegang melihat botol itu terus berputar dan pada akhirnya berubah pelan. Aku menahan degub jantung takut tutup botol itu berhenti di arahku. Lama-lama botol itu berhenti berputar dan berhenti menunjuk ke ... Alvin. Namun botol tersebut tidak langsung berhenti dan akhirnya bergeser menunjuk ke Jojo. Jojo mengerang ngacakin rambutnya dengan kesal. "Bangke gue yang muter kena duluan!" dumelnya. "Gue pilih truth deh. Masih malu gue tadi nelepon mantan karena dare bilang kangen." Tawa membahana dari sekelilingku. Aku terlalu asyik menulis tidak sadar Jojo dikerjain begitu karena milih dare. "Kali aja hubungan lo jadi baik," cetus Della ketawa. "Hm, siapa yang mau ngasih Truth ke Jojo?" "Gue! Gue!" seru Rina semangat. Dia menatap serius Jojo dan dibalas tatap serius juga, Rina membersihkan kerongkongan dengan berdeham. "Gue mau nanya, kenapa lo temenan sama Dika dan Rayn yang otaknya sengklek banget padahal di kelas kita ada geng cowok yang lo lebih cocok masuk ke sana, Tristan cs?" "Yah, gitu doang? Alasannya gue udah kenal sama mereka dari MOS, tapi nggak sekelas. Pas kelas 10 kita cuma tegur-sapa doang. Kenaikan kelas gue liat ada nama mereka. Gue kan pendiem nggak cocok main sama Tristan cs yang sok elit itu." "Pendiem? Nggak salah, hah?" sahut Dika. "Lo emang pendiem tapi isi otak lo absurd parah." Kami pun tertawa. Jojo tertawa sumbang. "Biarin weeeek, ini tuh ide sumber kesuksesan meski gue absurd. Ya, gitu deh gue lebih seneng main sama Dika dan Rayn, mereka nggak gila popularitas tapi asyik." Kami mendengarnya manggut-manggut. "Terus lo nyesel nggak duduk sama cewek?" tanya Rina lagi seketika semuanya melirik ke arahku. Aku tersentak menoleh ke Jojo menunggu jawabannya. "Awalnya gue males duduk sama cewek, pasti manja, berisik, banyak maunya dan tukang ngomel. Dea enggak kok, meski suka ngomel kalo gue ngilangin alat tulisnya, dia nggak manja dan berisik." Oh, aku lega karena Jojo tidak memandangku menyebalkan. "Tapi gue suka kesel ama Dea, dia nggak peka sama sekitar dan agak egois. Cuek banget." "Gue nggak egois, tauk. Cuma nggak peka." Aku memeletkan lidah. "Gara-gara lo anak sekelas ngajuin gue jadi wakil. Soalnya pas abis liat lo, mereka langsung liat gue." "Bagus dong lo jadi terkenal meski cuma di kelas. Nih ya, gue nggak tau loh gue kira Dea anak baru. Wajahnya asing banget. Kalo Rina atau Della sih eksis di Twitter sering liat mention sama anak-anak Merbu. Dea ini gue nggak nyangka ada cewek spesies kayak gini di sekolah." Jojo bercerita panjang lebar dan yang lainnya mendengarkan sambil senyum-senyum, kecuali Alvin yang wajahnya lempeng banget. "k*****t lo, Jo!" pekikku namun setelah itu tertawa malu. Aku jadi tertawa bersama Jojo. Aku memang tidak terkenal dan aku akui. "Heuh, gue aja lama nginget nama dan muka Dea," gumam Rayn. "Jangankan lo, gue pas pulang hari pertama sekolah aja liat Dea di lobby udah lupa namanya," ucap Dika ketawa ke arahku. Semuanya ketawa kecuali Alvin. "Dika itu emang jahat banget, kita udah tatap muka tapi dia melengos. Ngeselin kan gue pengen nyapa nggak jadi!" keluhku mengingat kenangan itu. "Sori, Bebeb, sori. Gue lupa banget waktu itu." Dika nyengir lebar. Aku misuh-misuh buang muka sebal. "Puter lagi," ucap Jojo mengatur botol di tengah lagi dan memutarnya kencang. Tutup botol menunjuk ke arah Rina. "Truth deh." *** "Demi lo beneran pernah sampe suka sama Rayn bukan cuma baper doang?" seruku kemudian tertawa sepuasnya setelah Rina ngangguk malu-malu dengan wajah merah. Rina mengaku sendiri dia pernah suka sama Rayn. "Nggak acih ini, gue udah tau. Nggak berkesan sama sekali!" Rayn menyela serius. "Kok tau? Gue nggak pernah ngaku tuh sama siapa-siapa." Rina mengerucutkan bibir. Rayn mengangkat bahunya. "Tau aja." "Lo udah tau? Sok ganteng lo, anjir!" cela Dika menoyor kepala Rayn yang tersenyum pongah. "Gue kira Rina cuma sebatas jaim tapi baper pas dulu di grup. Taunya suka beneran!" Della juga tidak percaya menghela napas lelah. "Harusnya kalian jadi pasangan pertama di kelompok ini. gue bakal dukung sepenuh hati. Rayn nggak bakal genit sama cewek lain kan ada dalam pengawasan Rina," tambah Della. "Dih, apaan, pasangan pertama di kelompok ini tuh nanti Dea dan Alvin!" seru Rayn. Aku segera melotot ke arahnya dan dia harus menerima tatapan menusuk juga dari Alvin. Aku salah tingkah digoda oleh tatapan teman-temanku. Alvin melirikku saat aku diam-diam mencoba meliriknya. "Rayn nggak pacaran sama anak skeolah sini biar bisa nemplok sana-sini tuh," ungkap Dika untungnya. Seperti mengalihkan suasana yang aneh. "Wah, nggak CeEs lo bongkarin rahasia gue! Fixed banget, Dik, kita cukup selesai sampai di sini," sahut Rayn. Permainan berlanjut Della memilih dare, dia mendapat tantangan dari Jojo menelepon mantan yang paling Della benci dan ngajak balikan. Di telepon Della dimarahin oleh pacar mantannya karena dia menelepon tepat sang mantan sedang bersama kekasihnya. Aku kasihan melihat wajah sedih Della, namun tak lama dia ketawa ngakak ada kesempatan ngerjain mantan pacarnya itu. Sadar bahwa tindakannya tadi seru banget. Selanjutnya Dika yang kena, dia memilih dare. Aku yang mengajukan tantangan, dia harus memasang foto pribadinya di Instagramnya dengan caption: Mabok Janda. Janda? Call me: (nomor Dika). Postingan Dika langsung banjir komentar yang kebanyakan ngetawain. Julia juga ikutan komen ketawa. "Pacar seneng amat liat gue tersiksa." Dika gelengin kepala melihat komentar dari Julia. Aku was-was tidak mendapat giliran juga saat tinggal aku, Rayn dan Alvin yang belum mendapat giliran. Tutup botol putaran selanjutnya berhenti menunjuk depan Jojo. Karena cowok itu sudah kena terpaksa diputar lagi untuk mencari korban selanjutnya. Botol berhenti menunjuk ke Rayn. Cowok itu memilih dare pingin yang seru-seru. Jojo yang memberi dare untuk Rayn yaitu mengganti Display Name LINE dengan kata-kata: Kebelet Kawin. Aku ngakak tidak berhenti beberapa saat karena respons teman-teman cewek Rayn sangat beragam. Rayn mendengus malu karena imejnya tercoreng di depan cewek-cewek kenalannya. Dia harus memakai nama itu sampai malam nanti. *** Aku benar-benar takut karena sekarang sudah sisa dua orang. Aku dan Alvin. Cowok itu belum mengajukan tantangan atau pertanyaan, bagaimana jika saat aku yang kena dia yang mengajukannya. Putaran botol selanjutnya berhenti menunjuk ke Alvin. Deg. Jantungku berdegub keras. Alvin mengerjapkan matanya dia kini menjadi pusat perhatian kami semua. "Lo milih apa?" tanya Jojo. "Truth." "Oke, siapa yang mau ngasih pertanyaan?" Jojo mengedarkan pandangan. Rayn segera menunjuk dirinya. "Gue, gue mau nanya." "Oke!" Rayn berdeham sebentar menghela napas dan melihat ke arah Alvin serius. Alvin tetap tenang dan dingin menanti kata-kata Rayn. Sial, habis ini giliran aku dan bagian Alvin yang memberi tantangan. "Ada yang lo suka di sini siapa? Suka dalam arti perasaan spesial." Hawa dingin Alvin segera menular menciptakan efek keheningan dan beku. Layaknya Alvin adalah Elsa si tokoh yang bisa membuat apapun jadi es dan beku. Aku tidak bisa bergerak sekarang mendadak kaku. Aku meneguk ludah perlahan, aku tatap wajah Alvin sedikit gugup. *** "Ada yang lo suka di sini siapa? Suka dalam arti perasaan spesial." Rayn mengeluarkan pertanyaan super maut dan ngeselin. Aku saja sudah membatu gara-gara cemas dengan pertanyaan itu. Hawa dingin Alvin segera menular menciptakan efek keheningan dan beku. Layaknya Alvin adalah Elsa si tokoh yang bisa membuat apa pun jadi es dan beku. Aku tidak bisa bergerak sekarang mendadak kaku. Aku meneguk ludah perlahan, aku tatap wajah Alvin yang sudah sedikit gugup. Tak biasanya cowok itu menjadi mudah terbaca olehku. "Dea," jawab Alvin dengan suara rendahnya. Satu kata tapi efeknya bagai mampu membuat sarafku putus semua. Lemas. Karena namaku yang disebut. Aku menutup mulut tidak percaya bahwa dia mengaku suka padaku. Mataku kontan membulat dan memandang ke Alvin yang tampak tenang habis membuat pengakuan itu. "Nggak bener ini pasti, lo bohong, ‘kan?" tudingku kepada Alvin. "Elah, udahlah terima aja masih ngelak. Alvin ngaku tuh akhinya!" seru Jojo kesal. "Tuh beneran Alvin suka, Dea nggak percaya sih." Della menyahut. "Lo suka sama Dea sejak kapan?" tanya Rayn mewakili raut penasaran Dika. "Bilang sama Dea gih sejujurnya. Lo cuma pernah bilang suka tanpa jelasin. Wajar Dea nggak percaya." "Iya, lo cuma bilang suka doang tiba-tiba tanpa cerita jelasnya." Wajah Alvin sedikit merona, dia mengalihkan wajahnya dengan menunduk memperhatikan tembok. Aku juga menanti-nanti dia cerita lebih jelasnya. Setelah menunggu cukup lama Alvin menggumam, "Gitu deh, sejak gue gabung sama kalian dan ada Dea juga." Aku sama sekali belum percaya bahwa Alvin menyukaiku. Raut wajah teman-temanku tidak terlalu kaget mengisyaratkan mereka sudah tahu sejak lama. Jelas aku masih kaget sekali mendengarnya secara langsung dari bibir Alvin. Belum ada yang bicara lagi sibuk dalam pikirannya masing-masing. Aku tidak lupa saat degub jantung Alvin berdebar keras sore itu di tanganku. Hubunganku sekarang dengan Rafael bisa dikategorikan baik-baik saja, kami masih dalam nuansa harmonis. Aku berharap dengan pengakuan Alvin tidak terlalu ganggu pikiran dan hubungan kami. "Makasih, Vin, tapi lo tau kan kalo gue—" Alvin menatapku tajam dan memotong pembicaraan ini. "Dare buat lo dari gue, putusin Rafael sekarang juga." *** "Dare buat lo dari gue, putusin Rafael sekarang juga." Alvin sepertinya berbicara demikian tanpa berpikir sama sekali. Ini gila. Aku menatap Alvin tidak percaya gara-gara permintaannya untuk mutusin Rafael sekarang juga lewat dare. Bukan hanya aku yang mangap speechless, yang lainnya sampai tidak bisa berkomentar hanya memandang Alvin. Alvin mengangkat kedua bahunya dan agak risih ditatap dari sana-sini, dia mengalihkan tatapan dariku. "Lo gila banget, Vin! nggak mungkin gue-" Alvin langsung memotong, "Iya, iya, nggak mungkin. Gue emang gila. Gue cuma bercanda, elah, serius banget hidupnya!" Decakan terdengar dari bibir Alvin. Aku kesal banget karena ternyata cowok itu cuma bercanda. Ini sama sekali tidak ada lucunya. "Tau ah! Suka-suka lo aja," omelku. Tidak ada yang mulai bicara daritadi baru aku dan Alvin yang bersuara. "Gak lucu!" "Cool man, kalo lo tadi serius lo keren Vin!" decak Rayn mengangkat dua jempolnya. Alvin tertawa pelan dan sinis. "Sadis." Rina berdesis pelan geleng kepala. "Gue ngarepnya beneran," kekeh Della langsung diam setelah aku lihatin. "Hehe." "Ehem, ya udah lo mau ngasih dare apa?" tanya Jojo. Aku benar-benar berterima kasih pada Jojo yang bisa mengendalikan suasana. Aku masih dongkol banget dikerjain kayak tadi. "Serius deh, kalo tadi Alvin serius Dea bakal berani nggak ya mutusin Rafael?" terka Dika. Aku kontan menoleh ke arah Dika. Memang tidak ada yang tahu rencanaku kemarin, kecuali Alvin gara-gara salah kirim chat. Kalau aku tidak kirim chat, mana mungkin Alvin bercanda seperti tadi. Cowok ini benar-benar menyeramkan. Dia jago sekali mempermainkan hatiku, jangan-jangan soal perasaannya juga bercanda? Apa hidup memang sebercanda ini? Lucu banget. "Lo minta apa?" tanya Alvin padaku. "Truth aja." "Siapa cinta pertama lo?" Aku tersentak mendengar pertanyaan Alvin, cowok itu menatap lurus padaku. Kenapa dia peduli siapa tentang cinta pertamaku? TBC *** 9 Nov 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN