43. Penawaran

1751 Kata
"Siapa cinta pertama lo?" Aku tersentak mendengar pertanyaan Alvin, cowok itu menatap lurus padaku. Kenapa dia peduli dengan fakta tentang siapa cinta pertamaku? "Pas gue kecil pernah ketemu anak cowok di sebuah panti, gue lagi kunjungan sama nyokap. Gue sama dia main bareng sekitar tiga kali, gue lupa nama dan wajahnya. Masih bocah nggak bisa disebut sebagai cinta, ‘kan? Konyolnya pas gue mulai dewasa keingetan dia lagi dan nganggep dia sebagai cinta pertama gue." Sekarang anak cowok itu udah jadi pacar beneran gue. Tentu aku harus merahasiakan bagian ini. "Sebelum pergi, dia nitipin robot ke Ibu yayasan. Itu benda yang gue simpen terus sampai gue gede." Alvin tiba-tiba tersentak dan memajukan tubuhnya. Kening cowok itu berlipat beberapa lapis. "Robot?" Suara dia lebih tinggi dari biasanya. "Iya, padahal robot itu temen mainnya pas kecil. Dia harus pisah sama pemiliknya karena berpindah tangan ke gue." Aku tersenyum lebar. "Oh." Alvin manggut-manggut pelan sudah mengontrol ekspresinya. "Kok gue baper ya denger ceritanya?" gumam Della. "Sama, feel-nya udah dapet banget tuh tadi," tambah Rina. Aku tidak terpengaruh oleh ucapan teman-temanku, karena sekarang pusat perhatianku pada Alvin yang lagi memikirkan sesuatu melamun. Tidak sadar aku sedang mengamatinya. Apa Alvin juga punya cerita sendiri, yang tidak bisa dia bagi pada siapa pun? Apa dugaanku selama ini benar? *** Hawa dingin habis hujan membuatku menggigil. Langit sudah gelap jam menunjukkan pukul 6 kurang. Aku berdiri di teras dan Alvin duduk di kursi santai. Aku masih kagok saja bertatapan dengannya setelah mendengar pengakuan itu langsung. Aku harus menjaga hatiku sendiri supaya tidak terjebak dalam dilema. Alvin sama sekali tidak gugup usai mengatakan suka padaku, cowok itu memang nerd palsu. Bad boy yang nyamar jadi nerd. Motor Alvin masih terparkir di depan garasi sementara yang lain sudah pulang. Cowok itu tidak terlihat mau pulang dan asyik main ponsel. "Lo mau ngapain nggak pulang? Ini udah mau malam loh," ucapku takut dia susah diusir. "Masih sore, gue biasa nggak pulang." Alvin mendongakkan kepala. "Gue laper. Rumah lo juga udah ada orang, nggak usah takut gue apa-apain." Mama dan Aidan sudah pulang jadi aku tidak perlu cemas seperti waktu itu mengira Alvin akan berbuat tidak sopan. Aku terenyak mendengar pengakuan Alvin. Kalau tidak pulang, dia ke mana? Sama siapa? Kenapa aku peduli? Bodo amat. "Laper ya makanlah, Vin." "Iya, paling bentar lagi pesenan dateng." Aku mengangkat sebelah alis. "Maksud lo?" "Gue pesen pizza. Gue nggak akan nyuruh lo masak mie." "Aneh, lo kenapa pesen pizza di sini, nggak di rumah lo aja?" Alvin menoleh raut wajahnya sendu. "Kenapa emang nggak boleh? Suka-suka gue dong, mau pesen di mana kek. Kalo gue maunya makan bareng lo gimana?" Aku terdiam menahan napas dan membanting b****g di kursi sebelahnya. Alvin menunduk lagi dengan wajah terkena sinar layar ponsel. "Lo bilang nggak suka sama gue waktu itu, tadi kenapa harus ngaku-ngaku gitu sih? Lo seneng ya bikin gue sedih dan bingung!?" tanyaku menggigit bibir dan menahan air mata tidak keluar. "Belum selesai ngomong. Gue nggak suka sama lo, tapi … sayang." "Sikap dan kata-kata lo nggak pernah nunjukin kalo lo suka sama gue. Gue-" Aku sampai gagap dan gugup begini karena tiba-tiba Alvin bilang sayang. Aku langsung ketar-ketir karena nada dan tatapan Alvin tadi sangat berbeda dari biasanya dan membiusku. Aku membaca kejujuran di matanya tadi dan hasilnya dia tidak bohong. "Kita jarang ngomong dan terlibat dalam kejadian yang bisa bikin timbul rasa cinta, ya kan? Lo kebanyakan diem, kayak kemarin padahal ada banyak waktu untuk ngomong." Alvin membuang napasnya kasar. Bukan aku yang tidak peka, Alvin yang tidak pernah menunjukkannya. "Sori, kalo gue jarang ngomong malah liatin lo doang. Gue suka liatin lo. Dan, mastiin lo baik-baik aja, nemenin lo meski nggak jelas. Lo baik-baik aja dalam pengawasan gue itu udah cukup." "Cewek mana peka kalo cuma diliatin doang, woy," sergaku langsung sambil menahan degub jantung yang berdetak tak karuan. "Bodo. Yang penting gue seneng bisa liatin lo," tukas Alvin nyolot. Suara motor berhenti depan rumahku, Alvin melongokkan kepalanya. di balik pagar ada abang-abang pengantar Pizaa sedang membuka Box di boncengan motornya. Alvin bangkit dari duduknya menuruni tangga pergi menjemput pesanan. Mataku membulat saat pengantar Pizza tersebut menyerahkan beberapa box pizza ukuran besar-besar. Satu, dua, tiga .... HAH? Alvin membayarnya terlihat mereka berbincang sebentar, tanpa menerima uang kembalian Alvin berbalik kembali ke teras. Melihat makanan aku langsung ngiler dan laper berat. "Vin, banyak banget lo mau bikin gue gendut?" tanyaku terpana. Dia meletakkan box di meja teras, dua box paling atas dia ambil lalu ngasih kepadaku. "Buat keluarga lo nih di dalem." "HAH? Kebanyakan. Buat lo di rumah aja satunya, aduh!" Kalau di rumah ada banyak makanan tidak bisa control makanan nih. "Nggak ah, males bawa-bawa. Udah sono bawa masuk terus kita makan yang ini." "Ck! Iya-iya," aku menyahut dan masuk ke dalam rumah membawa dua box pizza itu. Alvin memang gila beliin makanan kebanyakan. Di dalam rumah makanan itu langsung disambut hangat oleh Aidan dan mama yang lagi asyik nonton TV. Aku buru-buru kembali ke teras takut Alvin sudah bete nungguin padahal dia lagi laper berat. *** "Vin, kenyang, ih!" "Abisin tuh satu lagi." Alvin mengendikkan dagunya ke sepotong pizza yang tersisa di meja. Cowok itu menuangkan air dari ceret dan tersenyum diam-diam habis menyiksaku. Aku menyipitkan mata memegang perutku yang sudah buncit dan pegah banget. "Nggak mau, lo aja biar gendut." "Males gendut, nggak bisa lari kalo lagi tawuran." Usai minum dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan kepalanya menyentuh kaca jendela. "De-" "Hm?" Mulutku masih gatel buat mengunyah sehingga potongan terakhir yang untukku sudah berpindah tangan sampai ke mulut. "Apwa?" "Gue nunggu lo putus." Uhuk. Aku berusaha keras menelan makanan dan melotot ke Alvin yang memiringkan kepalanya menatapku. "Kalo gue putus emang lo mau ngapain, Vin?" "Nggak gue apa-apain, males aja gue sekarang suka sama cewek yang punya pacar." Dia menghentikan ucapannya sesaat. "Kalo kita sama-sama sendiri kan enak." "Ya, lo cari cewek lain dong," kataku. "Gue udah sama Rafael." "Nggak mau. Gue duluan yang suka sama lo, bukan dia. Gue nggak mau nyerah." "Terus lo aneh, kalo gue udah sendiri nggak diapa-apain." "Lo mau gue apa-apain?" Senyum Alvin misterius. Aku berdecak langsung malu banget. "Bukan itu, tadi lo bilang-" Senyuman tipis terukir di bibirnya, mata Alvin yang sudah kecil lenyap membentuk sebuah garisan lurus dengan bulu mata saling beradu. Senyuman itu hanya terjadi beberapa detik. "Apa lo nggak bisa lepasin Rafael dan milih sama gue? Gue bisa jagain dan lo nggak makan hati lagi. Kita bakal makan beneran," kata Alvin mengundangku mendengus geli. Perasaan tadi sudah romantis kenapa dia malah ngelantur? Otakku belum bisa berpikir jernih. "Intinya, I will treat you better. Gimana?" lanjut ucapan Alvin lagi. “Udah paham kan setelahnya gue bakal bertindak gimana kalo lo putus.” *** "Apa lo nggak bisa lepasin Rafael dan milih sama gue? Gue bisa jagain dan lo nggak makan hati lagi. Kita bakal makan beneran," kata Alvin mengundangku mendengkus geli. Perasaan tadi sudah romantis kenapa dia malah ngelantur? "Kenapa lo suka sama gue? Nggak inget lo pernah nyuruh gue ngaca?" "Lo bikin gue nyaman, lucu, dan cocok aja kita kalo ngomong tuh asal tapi gue suka. Random talk? Meski nggak penting amat kita tetep lakuin itu. Inget perang stiker?" Meski Alvin jarang ngomong dan hobinya ngeliatin aku doang, ada sesuatu yang pernah aku rasa beda di dia. Random talk ala kita. Di kolom chat kami banyak sekali pesan yang berupa gambar, emotikon, stiker, atau satu huruf. "Gue nggak suka ngomong nggak penting, tapi sama lo gue bahkan bela-belain ngetik titik doang." "Iya, cuma sama lo doang gue gila ngirim pesan berupa tagar sama s***h. Gendeng emang. Tapi kenapa lo tiba-tiba ngomongin ini, sebelumnya lo nyuruh gue nggak usah peduli dan jauhin lo." "Gue mau rebut lo dari Rafael. Kalo lo mau liat apa yang gue bakal lakuin setelah ini." Aku diam setelah Alvin mengungkapkan ingin merebut diriku dari Rafael. Ini mimpi sudah semakin ngelantur dan parah. Sekarang aku direbutin sama dua cowok paling terkenal di sekolah. Kapan aku bangun dari mimpi yang kelewat indah ini? Aku membuka mulut namun tidak ada kata-kata yang keluar. "Jangan. Lo juga mau rusak kebahagiaan gue? Plis, jangan ganggu gue sama Rafael, jahat banget sih kalian!" "Kenapa? Lo belum nikah, sebelum janur kuning melengkung masih bebas tikung." Buset, aku benar-benar tidak bisa menebak isi otak Alvin. Kalau dia punya pemikiran begitu pasti jati dirinya memang bad boy, kacamata, dan kancing atas itu hanya kepalsuan. "Gue sayang banget sama Rafael, lo jangan gila ah. Pulang aja dah sana!" Alvin memajukan wajahnya mendekat kepadaku. "Ya, nanti bakal terbukti lo bakal kegoda apa enggak? Gue izinin lo buat Kiss dulu dong, nih." Dia mengarahkan pipinya. Aku mendorong pipinya, cowok itu memejamkan mata dan meringis. Tindakanku sangat refleks karena kaget. Alvin menyeringai menyeramkan. Aku memundurkan kepala, takut dia melakukan hal yang lebih berani lagi. Bibirnya tersenyum miring jahat. "Lo—" "Oh, jadi gini kamu nggak respons pesan dan teleponku karena lagi berduaan sama cowok ini?!!" Aku kaget bukan main saat ada seseorang datang dan berteriak marah. Rafael berdiri di teras menatapku tajam dengan kedua alis meruncing. Wajah marah Rafael seram sekali. Aku bangun dari duduk kaget seperti kepergok selingkuh langsung panik. "Raf, kamu ngapain ke sini?" tanyaku gemetaran. Rafael menunjuk Alvin yang lagi menopang kaki sebelah santai seolah menunggu keributan gara-gara Rafael marah. Itu cowok nantangin banget sih, mentang-mentang tenaganya lebih kuat. "Lo ngapain di sini godain cewek gue? Lo nggak tau kalo dia pacar gue!?" "Nggak, enggak tau." Alvin geleng kepala dengan amat polos. "Pergi lo dari sini!" seru Rafael beranjak mau narik Alvin. Aku menahannya. Gawat kalau kejadian di rumah Terry terulang lagi. "Raf, kamu kok tiba-tiba dateng?" "Siapa lo? Emaknya Dea aja nggak ngusir tamu!" balas Alvin tengil. "b******k! Dasar biang onar. Jangan deketin Dea lo bikin masalah doang!" Wajah Rafael terarah padaku sekarang. "Aku nungguin kamu chat dari sore. Aku telepon nggak diangkat. Lupa sama aku gara-gara dia?" "Aku banyak tugas, kenapa nggak chat duluan kalo gitu? Baru malam chat aku? Harus banget nunggu aku duluan yang mulai? Kamu tuh—" Aku jadi ikutan emosi. Kemarahan hari Minggu meluap lagi. Rafael ngeselin banget semakin lama. "Vin, lo pulang sekarang, plis." Aku memohon dengan mata melotot agar cowok itu segera pergi. Alvin bangun dari duduknya mengambil tas dan melirik Rafael dengan mata setajam siletnya itu. tatapan yang hanya dimengerti cowok-cowok. Rafael juga balas menatap Alvin marah. Alvin pergi menuju motornya di garasi. Dalam hitungan menit dia sudah pergi. Kini menyisakan aku dan Rafael, yang menatap satu sama lain seraya menahan kekesalan masing-masing. TBC *** 10 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN