"Aku nggak suka kamu deket-deket sama dia. Jangan temenan sama dia!" seru Rafael.
"Loh? Dia temennya Jojo dan kita semua akrab kok."
"Kalo gitu kamu jangan main sama Jojo lagi," tandas Rafael kekanakan.
"Nggak bisa gitu, mereka temen deketku."
"Terus kamu lebih milih mereka daripada aku? Kamu suka sama Alvin, tadi aku liat dia mau cium kamu, 'kan?" Mata Rafael menajam memperlihatkan sinar kilatan kemarahan.
Aku mendongak. "Kalo aku lebih milih mereka daripada kamu memang kenapa? Kalo aku suka sama Alvin juga kenapa? Terus kalo dia mau cium aku … kenapa?" balasku bersusah payah tidak nangis duluan. Biarkan saja aku ngomel panjang lebar dulu. "Bukan urusan kamu. Karena urusan kamu nggak pernah jadi urusanku. Kamu sendiri yang ngajarin aku begitu, Raf. Kamu yang nyontohin itu."
Aku mau marah.
Rafael merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel, dia membacakan sesuatu di sana. "Teman kamu ada yang tag akun kamu di sebuah foto nih. Isinya: Tanda cowokmu nggak dewasa saat pacaran, saat ada masalah dalam hubungan dia menghindar dan menghilang untuk mengulur waktu menyelesaikan masalah. Justru kamu sebagai cewek yang menyelesaikan masalah duluan dengan baik-baik dan jatuhnya mengalah. Andella Jenny teman kamu ya kan?"
Aku tidak tahu bahwa Della menandai akunku di foto itu agar aku bisa membacanya. Apa benar Della menandaiku untuk membuatku sadar?
"Terus? Kamu ngerasa gitu? Aku capek, Raf, itu kalimat bener banget buat nyindir kamu. Ini mungkin keputusanku untuk kita, aku mau putus, sekarang. Oke?"
Rafael menyimpan ponselnya ke saku dan langsung menarikku. Dia memelukku erat-erat seakan tidak mau kehilangan. Aku kalau sudah diperlakukan begini jadi lemah lagi. Rafael mengusap rambutku lembut dan menenangkan.
"Aku nggak mau putus. Jangan putus, Dea. Aku sayang sama kamu. Aku mohon jangan ya? Aku nggak tau bakal gimana setelah ini kalo kehilangan kamu."
Aku berontak sehingga tangan Rafael mengendur. Dia menatapku sedih seolah tak menyangka aku berani menolak dirinya.
"Aku capek, Raf. Hubungan ini kayak aku terus yang berjuang dan rasain. Cuma aku doang yang senang, sedih, dan kesal. Kamu kayak nganggep ini status mainan doang. Daripada status ini jadi beban buat kita, lebih baik nggak ada hubungan apa-apa. Kita masih bisa berteman baik. Karena kita kenal pas kecil dan terpisah bertahun-tahun pisah, lantas nggak berarti aku kenal sama kamu. Kita udah pisah lama banget. Dan, aku sadar pertemanan kita nggak bisa sampai tahap pacaran. Temanan aja cukup deh. Cukup kayaknya sampai di sini, biar kita bisa sama-sama lepas."
"Maaf."
Semudah itu hanya bilang maaf? Maaf doang???
Aku tidak yakin dia benar-benar tulus. Kalau dia serius seharusnya kata yang keluar sangat panjang. Aku membahas banyak hal namun hanya dibalas dengan 'maaf'. Banyak orang di luar yang berbohong mengandalkan kata 'maaf'.
"Kamu setuju kita putus, ‘kan?" Aku memastikan keputusan ini.
Rafael menggeleng kuat-kuat. "Nggak. Kita nggak akan putus. Aku nggak mau! Kamu cuma boleh sama aku, nggak semudah itu aku lepasin. Kamu bukannya cinta sama aku, Dea?"
"Aku pikir kamu cuma obsesiku, Raf. Kamu memang pinter, ganteng, kaya, dan bikin aku naksir banget dulu. Tapi setelah kita pacaran, ada bagian yang masih kamu tutupin dari aku, ada yang aneh. Aku kayak nggak kenal kamu. Aku sendiri ragu, apa kamu benar-benar cinta atau ada tujuan lain?"
"Aku nggak ada tujuan lain, aku beneran cinta dan sayang sama kamu. Emang aku salah kalo aslinya orangnya cuek? Aku ngerasa biasa-biasa aja kok. Kamu lama-lama pasti akan bisa memahami aku. Kita masih dalam tahap belajar. Aku minta maaf kalo memang aku masih childish menghindar setiap ada masalah. Kita butuh waktu untuk berpikir jernih, nggak kayak sekarang. Aku lebih suka kamu jujur gini."
Lagi-lagi gagal putus. Aku berharap Rafael akan berubah demi menyelamatkan hubungan ini.
Setiap hubungan memang ada fasenya. Semoga, ini yang terakhir aku berantem dengannya. Pacaran lebih sering berantemnya daripada mesranya. Lebih baik bersusah payah dahulu bersenang-senang kemudian.
"Aku sayang sama kamu. Kalo enggak, mana mungkin aku bertahan sejauh ini?" Aku mendesah lesu.
"Ganti aku yang belajar memahami kamu, ya, Sayang. Abis ini jangan ribut-ribut karena hal sepele kayak begini lagi, ya?" Rafael meminta dengan tatapan yang lembut
Aku mengangguk setuju. Hubungan ini pasti akan tetap baik-baik saja selama kami masih selalu sabar saling memahami.
***
"Joshua, tolong ya itu … ambilin peta di ruang Tata Usaha ya?" Pinta guru Geografi tersebut dari depan kelas.
Aku melirik Jojo yang lagi buru-buru menyalin tugas di LKS dan panik takut ketahuan guru itu. Aku kasihan sama Jojo dia belum selesai isian LKSnya, kalau nilainya dia jelek bagimana? Sedangkan untuk dapat nilai bagus minimal harus diisi setengah dari total soalnya. Aku lihat dia masih mengerjakan soal nomor 6.
"Baik, Bu. Saya aja yang ngambil."
Jojo tersentak, karena aku yang menyahut sambil bangun dari duduk kursiku.
Bu guru mengerutkan kening melihat aku yang akan ngambil peta besar itu. "Kamu bisa bawanya, Dea?" tanyanya heran dan curiga.
"Bisa Bu, saya setrong!" kekehku pelan dan segera pergi keluar dari kelas menuju ruang tata usaha.
Peta itu cukup besar meski digulung aku agak kesulitan membawanya, dalam perjalanan kembali membawa peta tersebut aku melihat Alvin sedang cuci muka di keran dekat lapangan.
"Pst! Pst!" desisku agar tidak berisik, takut ganggu kelas yang dekat lapangan. Alvin mengusap wajahnya yang basah, matanya mengerjap kayak habis bangun tidur. "Lo ngapain di sini?"
"Diusir sama tuh guru gara-gara tidur." Alvin berjalan mendekatiku dan mengambil alih peta besar itu.
Aku memegang bagian ekor peta tersebut sambil menahan senyuman, bala bantuan memang datang dari mana saja.
"Lo sendiri? Jojo nggak ngambil? Biasanya kalian berdua." Alvin bersuara tanpa menoleh dia berjalan di depanku.
Aku memandangi punggungnya yang lebar. "Jojo lagi sibuk."
Kami menaiki tangga demi tangga.
"Lo punya gue yang bisa diandelin kalo lo lagi susah atau butuh bantuan. Jangan lakuin sendiri," ujar Alvin sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya.
Aku terpana karena cowok itu mendadak jadi romantis dan baik.
"Ini apa?" Kami berhasil menapaki lantai atas berjalan layaknya kereta-keretaan. "Lo ada maksud pasti."
Alvin tertawa kecil. "Taktik."
"Untuk?"
"Gue nggak bakal ngerebut lo secara kasar dari Rafael. Gue masuk ke hubungan kalian saat lagi lemah. Yang salah bukan gue loh, tapi kalian yang nggak bisa pertahaninnya." Ada nada senyum dan sombong dari ucapan Alvin. Begini nih mengapa PHO banyak sekali, karena orangnya mudah digoda. Aku tidak mau hubunganku dengan Rafael hancur begitu saja karena ada Alvin yang masuk dan aku lebih nyaman dengannya. "Kalo lo udah bergantung sama gue—"
"Vin, tolong jangan bikin gue bingung. Gue sayang sama Rafael. Jangan nungguin kita hancur plis, gue nggak suka dengernya. Lo temen gue, kenapa nggak biarin gue bahagia sama Rafael?" keluhku mendesah berat.
"Kenapa lo harus bingung? Gue udah bilang berapa lama bertahannya lo dan Rafael nanti bakal terbukti. Apa lo ada perasaan juga sama gue, makanya lo ketakutan bakal lebih nyaman sama gue?" Alvin bersuara dengan wajah congkak. “Tergoda ya?”
Aku diam ucapan Alvin memang benar. "Gue nggak bakal putus sama dia, sini gue yang bawa aja makasih udah bantuin dari bawah."
Aku merebut kasar peta dari tangan Alvin. Cowok itu membeku dengan mata mengerjap. Alvin mengejar langkah berjalan di sisiku. Aku tahu sekarang mengapa teman-temanku langsung berpihak ke Alvin dan menentang hubunganku dengan Rafael. Alvin yang sudah mempengaruhi mereka dan memanfaatkan teman-temanku.
Karena banyak orang nyebelin yang tidak suka pada hubunganku dengan Rafael semakin kuat keinginanku untuk menunjukkan kami bisa bertahan. Saat ini hubunganku dengan Rafael baik-baik saja, jangan sampai gara-gara Alvin berusaha menggodaku jadi berantem lagi.
"Jangan deket-deket!" bentakku kasar saat kami sudah depan pintu.
Aku membuka pintu membawa peta tersebut. Jojo langsung sigap datang menerima peta untuk menggantungnya di papan tulis. Jojo melirik Alvin yang berdiri di dekatku dengan kedua alis bertautan. Alvin tidak ngoceh lagi hanya menatapku datar. Memang Alvin memiliki kualitas apa, sehingga dia merasa lebih baik dari Rafael dengan berusaha merebutku dari pacarku? Aku tidak mudah percaya, mungkin setelah puas didapat aku akan dibuang sesukanya.
Aku hanya memiliki feeling itu. Dan, biasanya aku tidak pernah salah.
***
"Heh, gue mau ngomong sama lo!" Alisha dan kedua sohib lengketnya menarikku ke dalam gudang. Alisha berdiri di tengah melipat kedua tangannya depan d**a.
"Ngomong apa? Kan bisa baik-baik," jawabku menatap dirinya yang menyipitkan mata tajam. Aku akan berani melawannya kali ini. Kalau dia mau menyerangku, akan kutendang dirinya duluan.
"Lo tuh susah dibilangin ya? Kenapa lo nyolot malah pacaran sama Rafael? Gara-gara lo, Rafael sekarang jadi cuek dan jutek." Alisha mengibaskan rambutnya. Aku mencibir karena dia yang mendapat giliran ditolak sama Rafael, aku senang karena Alisha sudah dijauhi oleh pacarku. "Lo putusin Rafael kalo nggak mau sakit hati lebih lama. Asal lo tau aja, dia tuh ada rencana lain. Dia cuma jadiin cewek-cewek yang deket sebagai pelampiasan. Dia masih sayang sama cinta pertamanya."
Aku tertawa penuh kemenangan merasa di atas awan. "Asal lo tau ya, gue sama Rafael itu udah ketemu dari kecil. Cinta pertama dia itu gue. Makasih udah ngasih tau, gue jadi sadar begitu pentingnya gue di mata Rafael. Pacar gue cerita tentang cinta pertamanya dulu ke lo? Wah, lo emang cewek spesial. Sayangnya cuma diPHPin. Cewek itu gue, hehehe." Aku ngasih tahu tanpa menjelaskan detailnya, biar Alisha terpana saat tahu bahwa cinta pertama Rafael adalah diriku.
"Bukan. Bukan lo cinta pertamanya Rafael yang bikin dia susah buka hati lagi. Mukanya beda. Udah pasti bukan lo," tandas Alisha tegas dengan kening berkerut. Baru pertama kali aku melihat wajah Alisha kikuk. Biasanya cewek itu sangat menjaga ekspresinya di depan orang.
Aku terenyak saat mendengar penjelasan Alisha tentang Rafael.
Ada fakta di mana Alisha lebih tahu tentang Rafael, seperti yang sudah aku curigai selama ini mereka dekat lebih lama dariku. Mereka sudah menghabiskan waktu lebih lama dan Rafael dekat banget dengannya. Aku saksi kedekatan mereka sejak dulu. Hatiku mencelus sakit seperti ada yang menusuknya beribu-ribu kali. Tidak bisa dibohongi aku jadi tertegun gara-gara ucapan Alisha.
"Lo ngimpi ketinggian! Gue yakin kalian jadian gara-gara lo neror dia mulu, ‘kan? Lo ngancem dia ya punya s*****a rahasia? Rafael berubah banyak sejak kenal sama lo. Dasar perebut! Tapi gue kasian sama lo ntar harus nerima kenyataan kalo Rafael cuma jadiin lo pelarian."
"Lo lagi ngomongin diri sendiri, 'kan? Rafael itu cinta pertama gue. Dia susah lupain gue dan sejak SMA kenal sama lo tapi nggak ngefek apa-apa lo ini. Dia jadiin lo pelampiasan dan lo kena PHP jadi nyari alasan buat bikin hubungan kita hancur. Ya kan?" Aku tertawa sinis menutupi rasa gelisah dan perasaan tidak enak ini.
"Masih aja halu! Selamat, lo cuma dimainin sama Rafael. Dia masih belum bisa lupain cewek itu dan melampiaskan ke lo. Karena lo belum tau apa-apa sedangkan gue lebih pinter buat nyari tau tentang dia terlebih dahulu." Senyuman miring terukir di bibir Alisha. Tara dan Linda tidak ambil bagian bicara hanya bisa menonton dengan senyuman jail terukir, mentertawaiku. "Oh. Kasian banget lo!"
Mataku sudah panas berusaha kutahan tidak mau menangis atau ketahuan mataku berkaca-kaca. Apa benar Rafael cuma membodohiku? Aku mendapat jawaban pertanyaan selama ini mengapa Rafael seperti menutupi sesuatu dan tidak butuh waktu lama otakku langsung mengambil kesimpulan cewek itu adalah … si Lyra.
TBC
***
11 Nov 2021