"Awas!" Aku menubruk tubuh Alisha yang kehilangan keseimbangan menyenggol tubuh Tara. Aku tidak mau percaya dengan Alisha karena dia sangat berbisa, namun hatiku mengiyakan semua ucapan Alisha.
Di koridor Rafael muncul dan menarik tanganku, aku mengusap mata yang basah. Rafael memandangiku cemas. Aku tidak butuh dia lagi setelah mendengar cerita dari Alisha, kepercayaanku sudah runtuh.
"Dea Sayang, kamu kenapa?" tanya Rafael menyentuh pipiku. Matanya menyorotkan sinar khawatir. Rafael itu lebih sulit ditebak dari puzzle, apa yang aku dengar dari orang lain kadang berbeda dengan ekspresi yang aku tangkap darinya langsung. Orang lain bilang dia bohong dan mempermainkanku, aku tidak percaya karena saat melihat matanya, dia benar-benar menyayangiku.
"Lepasin, Raf." Aku menjauhkan tubuh darinya lalu melayangkan tanganku. Kesal. Aku tak bisa menahan kekesalan ini lagi.
Plak!!!
Aku tidak percaya bisa melakukan hal ini padanya. Baru saja aku menampar pipi cowok itu. Apakah setelah ini akan baik-baik saja? Astaga, apa yang baru saja aku lakukan. Aku tak berani lagi untuk mencari tahu bagaimana reaksi Rafael setelahnya. Sungguh aku takut. Tetapi jika kali ini memang akhirannya, aku tak apa-apa. Aku lelah dengan semua ini.
Satu hal yang aku sesali sekarang, menjadi pacar cowok populer dan nyaris sempurna tidak selalu menyenangkan. Aku mulai merasakan keraguan dan penuh rasa curiga.
Lalu aku harus bagaimana? Menyesali apa yang pernah aku harapkan ini?
Aku terisak menahan tangis lari sejauh-jauhnya menghindari tatapan mata orang yang menonton kejadian ini. Aku rasa ini sudah jadi batas kesanggupanku mempertahankan Rafael. Aku yakin sekarang cowok itu memang hanya mempermainkanku. Mimpiku tentang anak kecil cowok, robot, dan pengakuan Rafael apa semuanya juga palsu? Permainan otakku sendiri?
Rafael, lo siapa sebenarnya? Apa lo beneran orang yang gue cari selama ini?Kenapa semuanya jadi kacau antara fakta dan mimpi? Ini hanya delusi dan harapan saja? Mana yang sebenarnya?
***
Rafael kali ini mengejarku terus, dia berusaha ingin menjelaskan. Tidak seperti sebelumnya dia yang cuek dan mengulur waktu menjelaskan, masalah yang ini membuat Rafael terus bertanya, menghubungiku, spam chat dan maksa ngomong padaku. Aku tidak menggubrisnya sama sekali. Rafael kehilangan respek dari teman-temanku, merekalah yang biasa melindungiku jika Rafael berusaha mengajakku berbicara padahal aku tak ingin. Tiga lawan satu, Rafael kalah pergi sambil mengumpat kasar tiap tidak berhasil mengajakku berbicara.
Aku belum ingin mendengar penjelasannya, biar dia rasakan sendiri bagaimana saat ada waktu menjelaskan namun aku tidak peduli.
Ingat dulu dia selalu ada banyak waktu untuk menjelaskan dan membiarkan aku menunggu penjelasannya? Aku hanya ingin Rafael tahu bagaimana rasanya tidak dianggap ada dan keseriusan masalahnya.
***
Di depan orang lain aku berusaha baik-baik saja, tapi tidak seperti dulu aku lebih banyak diam sekarang. Rina dan Della yang cewek lebih peka pada keadaanku menghibur diriku dengan ngajak jalan-jalan dan nonton film. Aku lumayan terhibur. Andai, dari awal aku mendengarkan omongan mereka.
Alvin menjauh, dia tidak pernah menempel lagi, padahal katanya dia ingin memanfaatkan situasi lengahnya hubunganku dengan Rafael untuk merebut. Alvin hanya mengamati dari jauh dengan tenang. Kalau begini, aku ragu padanya, dia juga mau mempermainkanku, huh? Aku belum tahu bagaimana kelanjutan dengan Rafael. Aku ingin memutuskannya segera. Daripada terlalu lama aku sakit hati dan kecewa. Mataku sudah bengkak tak karuan menangis setiap malam di kamar dengan ponsel terus berbunyi banyaknya pesan dari Rafael yang ingin didengar.
Sudah lima hari aku mendiami Rafael, setiap cowok itu datang ke rumah aku selalu menolak tidak mau bertemu. Sabtu ini tiba-tiba saja hatiku tergerak untuk segera memutuskan Rafael. Aku mengambil robot yang berdiri di atas meja belajarku, memasukannya ke dalam tas. Lebih baik aku menghentikan anganku dari sekarang dan meminta penjelasan agar semuanya berakhir sore ini. Kalau robot itu sudah kembali ke Rafael tentu tidak akan ada beban lagi.
Pintu rumah Rafael terbuka saat aku tiba di terasnya. Aku ketuk pintunya tidak ada yang datang juga. Pelan-pelan aku masuk ke dalam mungkin Rafael sedang ketiduran di ruang keluarga. Kalau Rafael di kamarnya, mengapa pintu terbuka lebar. Kecuali pembantunya lupa menutup pintu. Aku menggendong ransel karena membawa robot miliknya. Napasku tercekat saat melihat bayangan Rafael sedang memeluk dan mengelus puncak kepala Alisha. Aku yakin sekali cewek itu Alisha, bukan Lyra. Tangan Alisha melingkar di pinggang Rafael. Mereka saling bertatapan dan melempar senyuman bahagia.
"Maafin aku, Sha. Aku kangen kamu," kata Rafael mengecup puncak kepala Alisha. "Kita baikan ya, kamu jangan marah-marah lagi?"
"Aku kangen kamu, Rafael. Jangan jauhin aku, maaf aku meledak emosinya karena udah nggak kuat nahan kesal ke kamu. Aku kangen kita yang dulu sebelum ada cewek itu. Saat semua perhatian kamu hanya untuk aku."
Hah, gila saja! Apa sih rencana dan rahasia mereka ini! Kenapa Rafael bisa bersikap sama semua cewek begitu mudahnya!
Hatiku sakit sekarang lebih dari kejadian yang sebelumnya. Air mata mengalir deras membasahi pipi. Aku mencengkeram kuat tali tas, masih memandangi dua manusia yang meneruskan kegiatannya berlanjut sampai ke ciuman bibir. Mereka menautkan bibir tidak sadar aku di sini. Sedang melihat mereka.
"Raf, belum cukup nyakitin aku?" Aku bertanya dengan suara parau dan berat. Rafael menoleh terkejut bukan main melihatku yang tengah berdiri. "Aku kira kamu udah berubah ngejar aku berusaha mau jelasin. Dan lo—" Aku mengalihkan pandangan ke Alisha yang kesal karena kegiatan mereka aku ganggu. "Sukses banget lo hancurin ini semua."
"Gue udah kasih peringatan sama lo!" jawab Alisha keras.
"Lo lebih kasihan dari gue." Aku menatap Rafael berapi-api marah. "Aku benci kamu Rafael." Aku membalikkan punggung berlari keluar dari rumah Rafael.
"Dea! Aku mau jelasin semuanya, tunggu!!" seru Rafael keras berlari mengejarku. Aku berlari mengabaikan ucapannya. Rafael menarik tanganku dan berusaha mendekap diriku erat dlaam pelukannya. "Dea, maafin lagi-lagi aku nyakitin kamu. Tadi aku refleks—"
"Bullshit! Kamu tuh b******k banget, Raf. Gini kalo nggak ada aku, bener kan kamu masih suka berduaan sama dia? Saat masalah kita belum selesai dan butuh kamu. Kamu asyik sama cewek lain. Apa selama ini juga, kalo nggak ada aku, kamu akan larinya ke dia? Gitu?" Rafael mematung meresapi kata-kataku. "Aku belum bisa ngomong sama kamu lagi untuk saat ini. Tapi, aku makin yakin untuk menyelesaikan hubungan ini sekarang. Aku udah capek hadepin kamu yang nggak punya perasaan!" Aku memberontak berlari menuju pagar rumahnya.
Rafael tidak mengejarku diam membeku pada posisinya. Aku mengusap air mata yang tumpah ruah di pipi. Cowok itu memang nyata menjadi milikku, bukan khayalan atau sekadar mimpi lagi. Tapi aku tidak bisa memiliki hatinya. Pikiran dan hatinya terbagi ke orang lain. Kecurigaanku selama ini benar, semua misteri dan sikap anehnya terkuak. Rafael tidak mencintaiku sama sekali. Aku tersenyum miris menikmati rasa sakit di dadaku yang sudah puncaknya. Masih ada satu pertanyaan lagi yang belum aku dapatkan jawabannya.
Apa kamu juga bohong tentang pertemanan masa kecil kita? Kalo kamu benar-benar sayang aku, hubungan kita tidak akan serumit ini. Kamu yang memberi harapan indah tentang hubungan ini, namun hanya aku yang selalu berjuang sendiri. Mungkin aku saja yang berharap berlebihan pada semua ini.
***
ANU INU
Dea Sagita:
Semua selesai.
Andai gue dengerin kalian dari awal.
Thanks guys.
Andella Jenny:
Dea, lo okay?
Karina Yessi:
Maksud?
Serius?
Ada apa?
Andella Jenny:
Lo di mana skrg?
Kita ke rumah lo yak.
Tenang Dea
Karina Yessi:
Iya kita ke rumah lo, okey biar lo nggak sedih lagi.
Dea Sagita:
nggak usah. Jgn dateng skrg
Andella Jenny:
Tapi lo tenang okey?
Brengsek jga Rafael.
Karina Yessi:
Duh, gue jadi ikut sedih u,u
Joshua Diantoro:
Sori baru baca, gue abis futsal nih sama anak2.
De, lo serius?
Rayn Ghali:
Bangsyuuuuut!
Sok ganteng tuh cowok anjeng.
Liat aja senin gue hajar
Dea Sagita:
Serius, Jo ☺
Gak usah Ayen ;))
biar Tuhan aja yg bales dia.
Dika Prayogo:
Butuh hiburan dari abang Dika gak?
Kita mau ke sono nih kalo lo bolehin mumpung msh di luar bru banget ganti baju.
Dea Sagita:
Makasih, brader kalian pasti capek nggak usah. Gue butuh sendiri dulu.
Karina Yessi:
Besok kita dateng ke rumah lo :(
Andella Jenny:
Gue maunya sekarang tp nggak boleh sama Dea -__-
Joshua Diantoro:
Emotnya jgn gitu.
Ikutin aja maunya dea dulu
Rayn Ghali:
Sabar de, moving on.
Byk cowok baik yang layak :*
Dika Prayogo:
Padahal pengen hibur dea :’(
Joshua Diantoro:
Biarin yg org yg berhak hibur dea maju duluan
Andella Jenny:
Uwo, dia nggak baca pasti udh keluar dr grup kmaren
Aku mematikan data seluler supaya pesan tidak masuk lagi dan mengganggu. Di layar muncul ada nama Rafael meminta aku segera mengangkat panggilannya. Aku melempar ponsel ke kasur kesal banget dan tidak kuasa lagi menahan air mata turun tanpa bisa dicegah.
Sudah sekiranya tiga jam aku mengurung diri di kamar menangis, aku mencoba menghentikan tangisku dengan membuka grup barangkali aku sedikit terhibur. Tapi, kalau aku memegang ponsel akan melihat nama Rafael lagi yang berusaha menghubungiku.
Saat ini aku mencoba tidak merespons chat, telepon, dan sms Rafael. Aku sengaja meninggalkan benda itu di kamar, dan sekarang lagi di halaman samping rumah menatap langit sore. Mataku bengkak dan sakit terlalu lama menangis.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Ada suara kaca diketuk dan pintu terbuka. Aku menoleh, di pintu Alvin berdiri memegangi kenop pintu dengan raut wajah cemas. Aku bangun dari duduk menghadap ke arahnya.
"Lo ngapain ke sini emang gue izinin lo dateng? Gue nggak mau ya lo dateng tapi diem aja," ketusku dan cowok itu tidak peduli berjalan ke arahku.
Alvin menubruk diriku dan mendekapku erat, dia mendorong kepalaku untuk lebih dekat dan menempel di dadanya.
"Smile and laugh. No matter what happens. It will heals. Nangis kalo yang lo mau itu sekarang," bisik Alvin tepat di telingaku.
Aku mengerjapkan mata yang sudah menampung banyak air mata sejak dipeluk olehnya. Air mataku turun lagi tak berhenti sambil memeluk Alvin erat. Tubuhku terguncang hebat, bahuku naik turun dalam dekapannya.
"Alvin, hiks, hiks, hiks ...." Aku memejamkan mata membiarkan ketenangan dari Alvin melingkupi diriku saat ini. Aku tidak percaya bahwa Alvin-lah yang berhasil membuatku tenang. "Apa salah gue sampe disakitin begini? Gue tulus sayang sama dia, pengorbanan gue buat bertahan dan mimpi yang jadi kenyataan."
Alvin diam saja.
"Rafael cium Alisha depan gue," kataku dengan bibir bergemetar.
Kudengar Alvin mengumpat kasar dan pelan tertahan. "b******k banget!" Alvin membeku sesaat, dia mengelus kepalaku. "Ini yang bikin lo akhirnya nyerah?"
Aku mengangguk sebagai jawaban. Alvin melepaskan pelukan dan menangkup kepalaku dengan kedua tangannya supaya kami bisa saling menatap wajah.
"Cowok kayak dia nggak perlu ditangisin. Gue nggak janji bisa hibur lo, tapi gue akan nemenin lo sore ini. Apa pun yang mau lo lakuin supaya lo nggak mikirin dia lagi."
TBC
***
12 Nov 2021