46. Teman galau

1833 Kata
"Vin, jangan terlalu baik. Gue nggak mau tau kalo lo sama aja kayak dia. Gue trauma sama cowok baik sekarang!" seruku mengempaskan kedua tangannya. Aku melangkah mundur mejauh darinya. Alvin menarik napasnya sebelum menjawab, "Gue nggak janjiin apa-apa. Kalo nggak bisa bikin bahagia, seenggaknya jangan bikin nangis. Gue nggak bakal bikin lo nangis dan ngemis kayak dia. Karena cinta itu give and give, tanpa perlu diminta. I'll treat you better." Aku belum bisa percaya dan yakin akan memberikan cintaku ke Alvin setelah apa yang menimpa pada hubunganku dengan Rafael. Alvin bilang dia tidak akan membuat aku nangis. Aku berharap dia bisa bikin aku bahagia dan tenang. Kebahagiaanku tidak disangka datangnya dari orang yang tidak terduga. Aku melihat manik mata Alvin yang menyorotkan sinar hangat dan ramah. "Gue bisa percaya sama lo?" tanyaku dengan hati berdebar keras, sekujur tubuh seperti diselimuti hawa menggoda. "Lo percaya sama gue sejak pertemuan pertama kita." Seketika mataku membulat. Pertemuan yang mana? “Mau cokelat? Nih gue kasih karena kayaknya lo butuh sesuatu yang bisa bikin tenang,” ucap Alvin mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Plastik di sana berisi beberapa makanan jajanan dari minimarket, salah satunya yang mencolok mataku berupa pemandangan adanya seplastik cokelat payung. “Kali ini gue mau berbagi cokelat payung punya gue. Tahu pertanda apa?” Aku masih belum paham, seraya mulut ini masih terbungkam sebab tak bisa berkata-kata lagi aku memandangi manik mata hitam milik Alvin. “Artinya ya, kita udah mulai berbagi makanan.” Alvin berbicara pelan. Ngeselin. Wajahnya sudah datar ditambah kata-kata yang keluar menyebalkan juga. Aku kira akan mendengar jawaban penjelasan yang lebih bermakna, tetapi begini saja sudah membuatku tertawa pelan. *** Permen cokelat payung milik Alvin sudah aku makan tiga bungkus. Cowok itu menghela napas melihatku mengambil cokelat miliknya di meja untuk yang ke-empat. Aku senyum kecil menutupi rasa bersalahku sudah menghabiskan cokelat payung miliknya. Alvin saja baru makan cokelat keduanya. Dia bilang suka cokelat sejak kecil bahkan sampai sekarang. Katanya, cokelat itu manis dan bikin tenang. Kalau tidak merokok, Alvin akan melepaskan stresnya dengan makan cokelat payung. "Gue baru dua dan lo ngambil cokelat yang terakhir." Alvin menggerutu melihat isi plastik sudah kosong. "Makasih, enak loh ternyata cokelatnya. Kapan-kapan beliin yang dibanyakin ya?" godaku malu-malu sudah lebih senang daripada sebelum kemunculan dia. Alvin mendecih. "Beli dong!" serunya menggeleng. Aku perhatikan Alvin memakan cokelat itu pelan-pelan dengan gigi depannya dan mengemutnya. "Kok cara makan kamu aneh, pantes lama ya!" celetukku mengamati Alvin yang wajahnya berubah jadi kikuk. “Kok kayak kelinci?” "Kamu? Hah, nggak salah denger? Baper gue denger waktu lo nyebutnya gitu," ucap Alvin. "Gue suka gigit pake gigi depan terus diemut. Pas kecil gue masih kekeuh mau makan cokelat padahal gigi udah bolong. Temen gue nangis gara-gara giginya sakit. Gue ditakutin bakal kayak gitu juga. Gue udah suka banget cokelat nggak bisa dilarang. Akhirnya gue makan pake gigi depan terus diemut di lidah. Terbiasa nggak ngunyah cokelat pake gigi dalam." Aku tersenyum perasaanku mendadak hangat menikmati menghabiskan senja duduk di halaman samping dengan Alvin dengan sebuah gagang cokelat payung di tanganku masih tersisa setengah cokelatnya. "Kadang aku mikir, kenapa kamu bisa suka sama aku. Dan, tadi adalah kalimat terpanjang dari Alvin di tahun 2017," candaku membuatnya menarik dua sudut bibirnya barengan membentuk lengkungan senyum dan kedua kelopak matanya merapat menenggelamkan bayangan bola matanya. "Bisa lebih senyum, ketawa, dan bercanda lebih banyak lagi?" "Nggak perlu alasan. Nggak perlu ngomong banyak asal bisa ngeliatin lo kayak gini. Kalo alasan gue senyum dan ketawa adalah lo. Lo bakal seneng?" tanyanya langsung membuat degub jantungku semakin parah detaknya. Tubuhku membeku dengan pipi mendadak panas. Aku salah tingkah. Payah, Alvin jago sekali membuatku kalang kabut begini. Diam-diam dia jagonya menggoda. "Iya juga, kamu padahal nggak bawel kayak yang lain, tapi bisa bikin tenang. Vin, dulu pas kecil ada yang pernah ngasih cokelat payung. Tapi dulu cokelatnya yang ukuran segini." Kutunjukkan jari kelingkingku. Kecil banget. "Wajar sih dulu masih kecil. Saat duduk sama kamu kayak begini, entah mengapa jadi ngingetin aku sama kejadian itu. Nggak inget jelasnya karena itu cuma mimpi, aku lupa kalo nggak diingatkan sama mimpi." "Gimana sih lo percaya sama mimpi? Siapa orangnya?" Alvin menggigit cokelat sisanya menatapku penasaran. Aku mengangkat bahu tidak tahu. "Aku juga nggak tau itu beneran kejadian atau mimpi dari khayalan. Mimpinya berasa nyata. Jadi, menurutku itu memori, Vin." Kuhela napas pelan-pelan, "Aku nggak bisa bedain lagi. Perasaanku dekat banget sama dia. Bener atau nggaknya, tapi aku senang bertemu dia." Aku tersenyum kecil bisa membagi ceritaku dengannya, Alvin pun mendengarkan terdiam seakan ikut hanyut dalam nostalgia yang aku ceritakan. Sisa sore ini kami habiskan duduk tertawa, bercerita, dan menikmati perubahan warna langit menjadi gelap. Hingga aku lupa, hari ini seharusnya hatiku hancur karena disakiti Rafael. Aku melupakan perasaan hancurku karena Rafael untuk sementara, Alvin pergi aku kembali hancur dan menangis di dalam kamar. Bagaimana besok aku menyambut hari tanpa cowok yang sangat aku cintai? Aku kembali melepaskan Rafael disukai, dikejar, dan digosipi banyak perempuan. Mengubah status sama sekali tidak berarti apa-apa, namun pelajaran yang aku dapat mencintai tidak harus memiliki. Yang bisa memiliki belum tentu mencintai. Bodohnya aku bisa berpacaran sama orang yang sama sekali tidak pernah mencintaiku. Bukan cintanya yang salah, hanya orangnya yang salah. Aku harus bisa melepaskan Rafael, karena dia bukan untukku. Dia butuh atau tidak denganku terlihat nanti saat kami sudah berpisah dan kehilangan. Karena, kehilangan satu-satunya cara menyadarkan bahwa kita mencintai. Kalau pun Rafael sama sekali tidak merasa kehilanganku, aku sudah benar melepasnya. Dia berhak dengan orang lain, aku pun juga begitu. Melepas memang sakit tetapi bertahan untuk seseorang yang menganggapmu tidak ada sama saja menyakiti diri sendiri. *** "De, lo oke sekarang? Satu pun chat dari kita nggak ada yang digubris nih?" Itulah kata-kata yang aku terima usai menerima tamu di Minggu pagi secerah ini, yaitu Della dan Rina. Dua cewek itu serius datang hari Minggunya setelah aku menolak untuk ditemui Sabtu kemarin. Aku membawa keduanya masuk dalam kamar agar pembicaraan ini tetap menjadi rahasiaku. Rina menatapku cemas. "Sumpah, jahat banget si dia! Ceritain dong, lo kenapa akhirnya bisa nekat ambil keputusan buat putusin dia. Gue masih nggak percaya kalo lo berani ambil tindakan," katanya duduk di kasurku. Aku merabahkan diri memeluk bantal menutup wajah agar air mata tidak tumpah ruah lagi. "Kita cuma liat dia dari luarnya doang, nggak tau aja dalemnya gimana. Nyesel gue pernah suka, tapi gue akuin sih waktu itu norak banget suka karena nggak pernah liat cowok seganteng itu." Della menjawab. Aku menatap keduanya, masih merebahkan diri di kasur. "Udah, jangan gitu. Dia manusia bukan dewa yang tak luput dari dosa. Gue capek, dibegoin mulu, dan makin lama sama dia makan hati. Gue nggak bisa memahami dia, nggak bisa bikin dia cinta sama gue. Apa sih kurangnya gue? Hiks, hiks," isakku tertahan. Maunya tidak menangis lagi tetapi aku tidak bisa menahannya. Aku mengusap pipi yang basah. "Gue lihat dia pelukan sama Alisha bahkan cium bibir. Gue curigaan salah? Kecurigaan gue sekarang terbukti, ‘kan? Kalo temen ceweknya Rafael bukan kayak Alisha yang gatel, gue bisa biasa-biasa aja percaya pertemanan mereka. Kalau Rafael bisa tau posisinya yang udah punya pacar, dia bisa jaga jarak jauhin cewek itu. Tapi tuh mereka tetap aja lengket dan mesra, sampe Rafael meluk Alisha nenangin cewek itu dan ngomong janji nggak bakal ninggalin gitu. Gue nyesek banget dikhianatin begini." Rina dan Della terdiam, membiarkan aku menangis sesenggukan. Terlalu sakit apa yang aku rasakan sampai dua cewek yang tidak bodoh soal cinta itu saja tidak bisa berkomentar apa-apa. "Lalu gimana sekarang, dia nggak berusaha buat memperbaiki hubungan? Gila, dia cowok apa bukan sih nggak ada gentle-nya sama sekali. Kagak ngomong, kabur, dan nggak merasa bersalah apa-apa!" maki Rina kesal. Marahnya semakin imut. Della mendekatiku dan berusaha menenangkan. Sangat berbeda dengan Della yang dulu nyebelin, dia bisa aku percaya sekarang. Seharusnya aku percaya dengan ucapannya dulu. "Lupain aja masih banyak cowok yang bisa ngerti lo," kata Della tersenyum kecil. Aku tahu siapa yang akan dia maksud. "ALVIN!" cetus Rina polos tidak menyadari nama itu akan membuatku canggung. Della langsung pasang wajah menggoda. Aku mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan senyuman dua gadis itu. "Cie, Alvin ke sini kan kemarin? Tau nggak katanya dia langsung berubah panik pas dikasih tau lo ngechat ngomong kayak gitu di grup," kata Della. "Jodoh emang nggak ke mana, De. Asal lo tau dulu dia pernah kita sindir: nggak laki biarin Dea sama cowok lain. Tapi, dia tetep cool jawabnya 'biarin aja dea sama cowok lain'. Meleleh gue nggak nyangka dia udah manusiawi sejak gabung ama kita." "Loh? Emang dia sama Jojo lagi main futsal?" tanyaku. Pantesan kemarin dia datang lumayan cepat dan aku lupa dia tahu dari mana aku sedang ada maslaah. Padahal dia keluar dari grup. Astaga, aku payah banget. Harusnya aku bisa lebih menghargai upaya Alvin yang datang menghiburku di saat dunia sedang ingin aku bersedih. Terima kasih, Alvin. *** Aku tersenyum lebar menghirup udara pagi yang segar. Baru saja aku turun dari mobil bersiap memasuki gerbang lobby. Ini hari baru yang akan menjadi lebih indah. Say no to galau! Mataku menangkap siluet sosok cowok melipir ke pintu samping. Menahan senyuman di bibir agar tidak tercetak cengiran lebar aku mengendap-endap mengikuti cowok tinggi itu. Siapa lagi kalau bukan Alvin? Aku mengintip cowok itu berjalan santai, gayanya seperti biasa dengan sepatu diinjak bagian belakang, tas hitam dibawa hanya dengan satu tangan dan rambutnya acak-acakan seperti baru bangun tidur. Melihat Alvin di pagi hari moodku langsung naik dan semangat. Tidak tahu mengapa kini Alvin menjadi bagian yang lumayan penting dalam hidupku, padahal dulu aku selalu mengelak jika dipasangin dengannya. Di depan sana Alvin menolehkan kepala, cowok itu tidak mengenakan kacamata dan menyipitkan matanya melihat ke arahku. Saat mengetahui akulah yang mengintipnya dia tak acuh melangkah ke depan. Aku lupa mengingatkan bahwa di depannya ada. Jendela. "AWH, AWAS ALVIN!" Aku berseru namun telat kejadiannya, Alvin sudah menabrak jendela dan merintih memegangi keningnya ngomel-ngomel dalam bahasa yang sangat kasar. Hatiku tergerak ingin melangkah menujunya, namun itu hanya akan jadi keinginan terpedam karena sosok guru berwajah khas Batak muncul di ujung berkacak pinggang. Tangan Alvin ke belakang memberiku kode supaya cepat kabur daripada ketangkep guru itu. "ALAMAK! KAU LAGI! TERNYATA KAU YANG TERIAK TADI!" seru Pak Gultom, aku mengintip sedikit guru itu nyamperin Alvin yang masih memegangi kepalanya dengan tangan dan meringis. "SINI IKUT BAPAK. KAU NAKAL MAKANYA TUHAN KASIH KAU PELAJARAN." "Pak, jidat saya boyot ini jangan dihukum ya, Pak! Ampun, saya nggak lagi-lagi lewat sini," kata Alvin penuh nada permohonan. "Poin saya udah banyak, Pak." "Mana dasi dan topi kau?" Suara Pak Gultom terdengar lagi. Aku senyum-senyum menahan tawa. Perasaan senangku mendadak hilang berganti dengan hati yang mencelus sakit layaknya ditikam belati ketika melihat Rafael turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Alisha, layaknya dia seorang putri yang dicintai pangeran. Rafael tersenyum pada Alisha, mereka berdua bertatapan penuh cinta, dan tangan Rafael merangkul erat di bahu cewek itu berjalan beriringan membuat mata-mata yang melihat mereka bersorot iri. Apa aku tidak penting? Tidak bisakah kamu hargai perasaanku sedikit saja. TBC *** 13 Nov 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN