47. Terhangat

1749 Kata
Aku yang baru masuk ke ruangan itu jadi tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. "Pst, tiduran berdua boleh nggak? Gue udah nggak kuat nih perut sakit banget, lagi PMS." Seorang cewek bertubuh kurus dan tinggi dengan rambut lurus dan tipis, duduk di pinggiran kasur UKS. "Loh, kenapa?" Cewek berkacamata yang sudah tiduran terpaksa menggeser tubuhnya supaya si cewek yang berdiri itu bisa mengambil posisi di sebelahnya. "Di sono bukannya kosong?" "Pst, ada Kak Alvin lagi tidur," jawabnya agak cemas. "Gue takut di ranjang sebelah, gue di sini ya? Atau lo yang mau di ranjang sebelah?" Aku menutup pintu sehingga suaranya mengusik mereka berdua. Keduanya menoleh dengan raut wajah heran. "Nggak. Mending gue di sini," jawab temannya sigap. Di sebelah tirai putih UKS itu ada dua kasur untuk murid yang sakit dan butuh suasana lebih tenang. Aku yakin banyak anak murid terpaksa menahan sakit karena tempat yang paling pojok tersebut dijajah duluan oleh Alvin. Ngeri berada dekat-dekat dengan Alvin walau disekat oleh tirai. Sejak jam pelajaran pertama Alvin tidak masuk ke kelas, ada surat dari meja piket menyatakan Alvin di UKS untuk istirahat karena sakit. Mendengar Alvin sakit kesimpulan yang aku dapat kurang lebih, Alvin sok-sok menggunakan lukanya untuk tidak mengikuti pelajaran. Aku sempat melihat cowok itu jidatnya merah sangat kontras dengan kulitnya yang bersih dan putih. Di sinilah aku berada untuk mengobati lukanya, karena kata dia hanya aku yang mampu mengobati luka-lukanya. Apa yang membawaku sampai beli sebotol minuman isotonik dingin dan hansaplast. Saat aku membuka tirai, sosok Alvin tidur di kasur dengan kaki melayang di ujung kasur. Pemuda itu tidak melepas sepatunya, membiarkan kakinya melayang tidak terkena kasur. Lengan kanan Alvin digunakan untuk menutupi wajah. Pelan-pelan aku duduk di sebelahnya. "Vin, bangun dong. Gue tau lo nggak sakit," kataku menintip wajah Alvin yang tertututp tangan. Memar di kening Alvin terlihat di sela-sela helaian rambut tipis yang menyentuh keningnya. "Sakit apa ngantuk tidurnya pules amat. Orang sakit itu susah tidurnya, tau." "Jangan! Jangan bawa pergi, aku nggak mau tinggal sama orang asing. Aku mau di sini terus. Nggak mau ikut pergi!" Aku tercengang saat mendnegar suara racauan itu datang dari bibir Alvin. Masih mengamati tidak paham aku melihat cowok itu bergerak. "AHHH!" Alvin bangun dari tidur dan mengacak rambut, aku panik saat cowok itu menjambaki rambutnya sendiri seperti sedang frustrasi. "Vin, lo kenap—" Ucapanku terputus begitu saja. Tangan panjang Alvin menarik tubuhku, aku membeku dengan mata bulat dan jantung berdegub keras. Botol minuman yang tadi aku beli untuknya sudah jatuh di pangkuan. Wajahku menempel di d**a Alvin yang bidang dan menenangkan. "Sori. Kita lagi di UKS, jangan gini dong nanti bisa bikin salah paham." Aku menyadarkan dirinya. Suara serak Alvin menyela membuat sarafku lumpuh semua. "Gue sayang lo, sori kalo suatu saat nanti gue bikin lo kecewa." Apa? Kenapa Alvin sampai harus bikin aku kecewa? *** "HAHAHAHA! Lo ngigo? Alvin, Alvin, nggak gue sangka lo masih kayak anak kecil. Masih zaman apa ngigo? Sumpah lo lucu banget tau nggak!!??" Ledekku sambil menempelkan hansaplast ke luka di kening Alvin yang katanya perih banget itu. Dia meringis saat hansapalast sukses menempel di keningnya menutupi luka yang tergores. Aku tertawa keras lagi melihat benjol kecil di jidatnya. Kata Alvin yang benjol jangan diplester. Tadi aku terbawa suasana sekali saat Alvin mengatakan hal yang aneh dan tiba-tiba menjadi sweet. Lantas saat dia sadar melepas pelukanku dan menggerutu panjang lebar. Dia bilang: lagi ngigo, jangan dianggap serius. "Jangan ketawa, suara lo jelek kayak ayam. Lo ngapain tiba-tiba di sini? Makasih suster pribadi gue." Dia tersenyum, tipis, tapi bisa bikin aku gemetaran di tempat. Inikah keajaiban baru, melihatnya tersenyum. "Lo cabut, 'kan? Mana sakit, enggak panas!" seruku menyentuh pipi dan keningnya dengan punggung tangan. Cowok itu mengatupkan bibir rapat agak sedikit maju seperti mengerucut. "Sakit apanya! Abis ini lo masuk kelas, nggak mau tau." Alvin mendecakkan lidahnya. "Males aja tadi jidat gue nyut-nyutan, dan abis kena hukum si Gultom. Lo perhatian banget elah, jadi cinta nih gue," katanya diiringi tawa geli membuat bahunya naik turun. "Vin, kenapa saat dekat lo gue berasa udah kenal lama dan nyaman ya? Setiap lo genggam tangan gue, ngingetin gue sama tangan anak yang udah pernah nyelametin gue pas jatoh dulu." Aku memandangi wajah Alvin lekat-lekat, setiap garisan wajahnya yang tegas dan manik mata di antara dua kelopak matanya itu membuatku tertarik. "Lo kebanyakan ngayal dah, atau mimpi lagi?" Tawa Alvin sambil menoyor jidatku pelan. Dia meraih botol minuman isotonik itu dan bangun dari kasur UKS. "Gue laper, makan yok!" Tidak biasanya Alvin berbaik hati traktir makan di kantin. Bukan hanya aku saja yang ditraktir olehnya, teman-temanku juga jadi aku merasa ada yang aneh dengan Alvin belakangan ini. Alvin seperti sudah mencapai titik di mana dia melumer dan berbagi kehangatan dengan orang lain. Ucapan bahwa Alvin suka traktir orang yang pernah dibilang oleh Jojo beneran, tadinya aku pikir Alvin preman yang suka malakin adik kelas. Nyatanya dia memiliki banyak duit lebih sampai sering beliin kami makanan banyak. *** Sejak kemarin aku lebih dekat dengan Alvin, beberapa kali ada kesempatan aku jalan berdua mengabaikan tatapan anak murid melihatku jalan sama cowok ber-imej buruk namun penampilan bikin enek. Kali ini Alvin tidak pakai celana ketinggian dan kerah kancingan lagi, hanya kacamata bulat yang masih setia dia pakai. Saat ini kami lagi dalam perjalanan menuju kelas, masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi. Beberapa kali aku tidak sengaja melihat Rafael dan mengalihkan pandangan, cowok itu sama sekali tidak mengatakan apa-apa lagi seperti sudah benar-benar melepasku. Tapi kali ini Rafael berjalan bersama Alisha menuju ke arah kami berdua. Aku melirik Alvin yang masih berwajah datar seperti biasa. Tiba-tiba bahuku berat seperti ditimpa sesuatu, aku melirik tangan Alvin yang nemplok di sana sok akrab. Aku menatapnya meminta penjelasan namun Alvin pasang wajah malas. Alvin merangkulku mesra tidak peduli Rafael dan Alisha sedang berjalan di depannya, cowok itu sama sekali tidak ada keinginan untuk minggir seperti kebanyakan anak yang melihat Rafael jalan. Alvin tampak tak acuh santai merangkulku, aku tidak bisa melihat ekspresi wajah Rafael. Hatiku sakit menerima kenyataan pahit ini. saat tibanya Alvin berjalan berhadapan dengan Rafael cowok itu tidak mau minggir juga dan menubruk tubuh Rafael akibatnya oleng dan mengalah untuk minggir. Alvin terkekeh pelan, "Sayang, yuk kita kencan. Kamu udah nggak ada yang punya." "Eh, apaan sih!" keluhku sambil mau kabur dari rangkulannya, Alvin sengaja mengucapkan kata itu keras-keras. Aku yang malu. Alvin menarikku ke dalam pintu gudang kursi yang tidak kotor, hanya gelap. Aku sungguh ketakutan ditarik oleh cowok itu. Kalau dia mau ngapa-ngapain gimana? Di dalam gudang Alvin menutup pintunya dan tersenyum miring sembari melepas kacamatanya disimpan di saku. Aku pelan-pelan melangkah mundur sampai menabrak meja. Aku mengumpat mengapa di sini ada meja, bukannya ini gudang kursi? Jangan-jangan sering dipakai untuk ..., "Lo mau apa? Vin, jangan-" Aku panik menarik napas. Alvin makin mendekat berdiri di depanku. "Lo kenapa? Gue sih nggak bakal maksa, nunggu lo ikhlas jadi kita sama-sama enak dan seneng." Senyum Alvin terlihat m***m. Dia tertawa karena wajahku makin pucat dan tenggorokanku kering. "Nggak bakal gue apa-apain. Gue mau tau aja, cowok lo yang b******k itu akan ke sini apa nggak." Aku kaget dan perasaanku mendadak kesal karena Alvin membahas Rafael. "Hush, ngomongnya tuh di-rem. Kita udah putus kok, jadi bukan cowok gue lagi," tandasku. "Masa? Emang udah sama-sama mau putus?" tanya Alvin. "Dia nggak bakal peduli, nggak liat tadi dia sama cewek lain dan nyuekin gue. Kayak nggak merasa bersalah gitu. Gue ini apa sih? Cuma sampah yang bisa dibuang ke sana-kemari nggak berguna dan nggak dianggap. Rasanya sakit saat kita menganggap orang itu segalanya, tapi kita cuma dianggap angin lalu." Alvin menepuk bahuku pelan, "Lo bukan sampah. Gue ngerti kok rasanya jadi orang yang dibuang terus diambil lagi. Tau rasanya abis dibuang dikejar lagi? Sedih." Tatapan Alvin melembut, dia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. "Lo Dea, bintang gue. Tau nggak kalo nggak ada bintang, bulan nggak bersinar? Sama kayak hidup gue, tanpa lo gue gelap dan kesepian." "Ini apa sih? Udah jago ngomong?!" ketusku karena salah tingkah banget. "Gue lagi mau gombal, dengerin dong." "Tapi lo bukan bulan, Vin. Lo langit. Langit runtuh. Orang lain liat lo kuat, tapi gue tau segala kelemahan lo. Makanya gue bilang lo itu kayak langit yang sesekali runtuh." Tiba-tiba Alvin tersenyum lebar. "Enak ya punya satu orang yang bisa dipercaya. Oke, oke gue langit. Mau runtuh kek, bocor kek, langit tetep yang paling tinggi dan kuat." Aku terkekeh senang melihat kini Alvin banyak ngomong dan ekspresif. "Mainan yuk, sini … sini." Aku menarik tangannya menuju meja sehingga kita duduk agak menyamping namun saling berhadapan. "Main apa?" Alvin menyipitkan matanya berubah jadi serius lagi. "Truth or dare?" "Boleh, itu aja. Kok tumben lo jadi suka mainan kayak gitu? Ketagihan, hm?" Dia menggelengkan kepala pelan. "Ada yang mau gue tanyain." "Gue harus jujur dong?" Aku menebak apa yang Alvin ingin tahu dariku dan harus aku katakan dengan jujur. Kalau sudah bermain ginian minim bisa berbohong. Alvin anggukin kepalanya. "Oke, oke, lo mau nanya apa?" Air muka Alvin terlihat ada keresahan dan ragu-ragu. Tanpa sadar aku meneguk ludah ikut serius. "Lo ada perasaan buat gue sedikit aja walau lo cinta mati sama Rafael?" tanya Alvin menatap tajam tepat di mataku. Aku senang bersamanya, nyaman, dan waktu berdua dengan Alvin selalu aku tunggu-tunggu. Tapi aku takut terlalu cepat menafsirkannya. Aku tidak langsung menjawab, jantungku berdegup kencang. "Lo tau jawabannya, gue masih butuh waktu setelah kejadian kemarin sulit bagi gue percaya lagi sama perasaan sendiri." "Gue jadi makin kagum aja sama lo," kata Alvin senyum tipis. "Bagus deh lo udah pisah sama dia, lo lebih layak dapetin yang baik." Aku mengibaskan tangan supaya tidak membahas ini lagi. "Cukup, nggak penting bahas dia lagi. Sekarang gue ngasih lo-" "Gue pilih truth. Lo pasti mau ngerjain gue, ‘kan?" desis Alvin kesal. "Kesempatan." Tawaku terdengar di dlaam gudang sepi dan redup ini. "Okey, lo pilih truth." Aku menarik napas dalam-dalam mengembuskannya perlahan. Alvin menanti dengan sabar dan tidak sabar. "Vin, kenapa lo mirip teman masa kecil gue. Apa lo ada hubungan yang lebih terikat dengan panti itu, seperti misalnya lo pernah tinggal di sana?" Pertanyaanku tidak langsung dijawab, kebalikannya Alvin tercenung seperti memikirkan sesuatu dan fokusnya bukan di sini lagi. "Vin?" "Ganti, gue pilih dare." Tiba-tiba saja Alvin menggantinya tanpa mau dibantah. Aku tidak lagi ingin berdebat, lagi-lagi kesempatan untuk mengorek informasi darinya hilang. "Dare aja, buruan. Tapi jangan yang bikin malu," tambah cowok itu menyentak diriku. Aku jadi kesal namun tidak ditunjukkan karena terburu ada sesuatu yang mengejutkan kami. Braaaakkkk!! TBC *** 14 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN