39. Ada yang lain?

1740 Kata
"Kamu mau minum apa?" Suara Rafael menawarkan menyentakku. Aku menggeleng pelan. "Udah ada minuman teh botol, nggak usah deh." Rafael mengangguk pelan. Sebelum kami ke rumahnya, aku minta mampir beli minuman dan camilan. Yup, sekarang kami sedang berada di rumahnya. Rafael yang mengajak diriku main ke rumahnya. Dia beranjak mau pergi meninggalkanku sendirian di ruang keluarganya. Rumah Rafael sangat besar, banyak perabotan mewah dan antik di sekeliling. Rumahnya sepi karena tadi Rafael bilang orang tuanya sedang business trip ke Batam. "Mau ke mana?" tanyaku membuat Rafael menoleh lagi dengan cengiran terukir di bibirnya. "Ke kamar sebentar. Kamu tunggu sini ya, hapeku mati nih." Rafael buru-buru pergi masuk ke sebuah pintu kamar. Aku mengamati ruangan ini. Cukup sepi, padahal keluarga ini kaya raya. Tidak ada foto anak kecil atau sosok Rafael kecil di dinding, yang ada hanya figura-figura foto Rafael sudah remaja. Sepertinya cowok itu anak satu-satunya keluarga Rafli. Padahal aku ingin lihat wajah kecil seperti apa. Apakah seperti anak kecil dalam mimpiku? Aku tiba-tiba meragukannya. Di kolong meja ada tumpukan album foto, aku mengambil album foto yang paling besar. Mataku terbelalak saat album itu berisi foto-foto Rafael. Aku tersenyum melihat rata-rata foto tersebut diambil dengan latar berada pada tempat-tempat terkenal di benua Asia. Dari remaja saja sudah jalan-jalan jauh. Foto Rafael diambil kebanyakan sendirian dan penuh gaya. Cowok itu lumayan berbakat jadi foto model atau model sekalian, tubuhnya saja proporsional. Aku berdecak kagum melihat Rafael foto di tembok Cina, Namsan tower, menara Tokyo, patung lion maskot Singapore, Phuket, dan lain-lain. Enak banget jadi Rafael sudah ke mana-mana. Aku jadi mupeng. Di lembar berikutnya ada kumpulan foto Rafael bersama orang tuanya dan keluarga besar. Ada juga foto Rafael bersama beberapa cowok yang sepertinya sebaya. Aku tersenyum saat melihat foto Rafael dan orang tuanya bersama anak-anak kecil. Aku tahu mereka adalah anak panti. Mereka baik banget sama orang yang membutuhkan. Aku terkejut saat ada selembar foto terjatuh di dekat kakiku. Aku mengambil foto itu takut diomelin Rafael karena ada yang lembarannya lepas dari album. Di lembar foto yang tadi terjatuh, ada sosok anak kecil memakai celana jeans selutut dan kaus polo belang warna biru-kuning. Anak kecil itu berkulit gelap, kurus, rambutnya tipis, dan giginya ompong, dia tersenyum lebar menghadap ke arah kamera. Aku membalikkan foto tersebut ada sebuah nama tertulis di sana dengan tinta hitam dan sedikit pudar. Rexel Adyatama. "DOR! Kamu jangan liatin foto aku dong, malu nih," gerutu Rafael mengempaskan tubuh di sampingku. Dan, kepalanya disandarkan ke punggung sofa. Rafael tersenyum lebar kemudian ikut memperhatikan lembaran foto yang sedang aku pegang. Aku sungguh terkejut karena dikagetkan saat sedang fokus berpikir tadi. "Ini siapa?" tanyaku penasaran mengangkat lembar foto anak kecil itu. Rafael tertawa pelan. "Temenku dulu, kenapa jelek ya? Dia emang jelek." "Oh." Aku tersenyum gugup. "Sekarang dia di mana?" "Entah, kita pisah di panti. Foto dia aku bawa buat kenang-kenangan. Kenapa emang?" Nada suara Rafael penuh selidik. Aku sekali lagi mengamati foto anak kecil itu. Otakku sama sekali tidak bisa menangkap. Wajahnya bukan anak cowok yang ada di mimpiku. Seingatku anak cowok dalam mimpi itu tidak ompong, senyumnya lebar, hidung mancung, wajah oval, dan mata segaris. "Namanya Rexel Adyatama? Bagus." Kekehku pelan, dan Rafael mengulum senyuman tipis. "Kenapa nggak ada foto kamu kecil, Raf?" Aku melirik wajah Rafael mendadak jadi kikuk, cowok itu membuka mulut lalu tertutup lagi. "Kata Mama nggak punya foto aku kecil, waktu baru adopsi lupa minta. Aku sedih juga nggak punya foto masa kecil." "Sabar ya, eh, tapi kan kamu bisa foto pas udah diadopsi. Masa nggak ada fotonya juga pas kamu masih SD gitu? Aku lihat ini foto kamu pas udah SMP semua," ujarku penasaran. "Nggak ada juga. Kayaknya dulu aku susah diajak foto, dulu aku pemalu dan mungkin masih adaptasi sama keluarga ini. Pas SMP baru berani mungkin udah nyaman." "Bisa gitu ya, omong-omong foto temen kamu di panti cuma satu? Kamu dulu punya berapa teman di sana sih? Sayang banget aku cuma kenal kamu. Nggak kayak anak kecil lainnya, kamu baik suka nemenin dan ngasih permen cokelat payung dan koin." Alis sebelah Rafael terangkat dan keningnya mengerut, berubah jadi serius. "Banyak sih tapi yang deket cuma dia dan Sandy. Mereka diadopsi beberapa hari sebelum aku, makanya aku mau aja pergi dari panti." Jelas Rafael dengan nada suara sendu. Aku mengelus tangannya supaya dia tidak sedih. Oke, ini gara-gara aku yang penasaran mulu. Aku menggigit bagian dalam bibir gugup, mataku mengamati reaksi Rafael barusan yang tiba-tiba langsung diam lagi dan merenung. Daripada membuat perasaan Rafael tidak enak lagi lebih baik aku meletakkan kembali foto itu dan membuka lembaran lainnya. Di balik lembaran selanjutnya membuatku tersentak. Foto Rafael dalam balutan seragam SMP berada di tepi pantai merangkul seorang cewek cantik berambut panjang dan lurus. Foto lainnya berisi foto dalam studio, Rafael merangkul bahu dan mengecup pipi cewek itu mesra, ekspresi wajah si cewek bahagia sekali. Di foto yang paling bawah Rafael dan cewek itu memakai pakaian bebas, mereka tampak serasi satu sama lain memegang balon berbentuk hati. Hatiku mencelus seperti ada yang menguap ke udara melihat Rafael foto bersama cewek sangat mesra. Rafael menyadarinya aku sudah tegang tidak bisa bergerak lagi dengan hati tercabik-cabik, dia merampas buku album itu menutupnya kasar menaruh lagi di kolong meja. Cewek itu bukan Alisha. Bisa dibilang dia lebih cantik dari Alisha. Wajahnya tipe perempuan lembut, anggun, dan feminin. Apa lagi yang aku tidak tahu tentang Rafael? Aku sadar akan sesuatu dan menjadi membeku. "Dea." "Raf, apa kamu boong soal nggak pernah sama cewek lain selain aku? Nyatanya ada cewek itu-" Rafael mengerjapkan mata. "Dia bukan pacarku, dia cuma temanku dulu saat masih sekolah. Dea, aku nggak pernah bohongin kamu. Aku kan sayangnya cuma sama kamu," ucap Rafael menarik tanganku dan menatap di mata meyakinkan. "Aku udah nggak berhubungan lagi sama dia. Jadi, percaya sama aku, oke?" "Bohong! Kamu bohong, ‘kan?!" pekikku meronta berusaha melepaskan diri darinya. "Mana mungkin temenan tapi mesra banget? Raf, mending kamu jujur aja. Aku nggak akan marah meski itu nyakitin hati aku banget. Kamu bilang aku: one and only your love. Kamu pernah sama cewek lain, it's okay. Kamu udah bertahun-tahun sebelum ketemu aku. Kamu jujur pun aku nggak akan marah." "Dea, dia cuma teman aku." Tegas Rafael sekali lagi mencengkeram tanganku. Matanya nyalang berapi-api serius. "Teman-" Ting .... Tong .... Ting .... Tong .... Kami berdua tersentak saat ada suara bel rumah berbunyi. Rafael melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tanganku dan bangkit dari duduk bergegas pergi membuka pintu dengan langkah cepat. Aku mengusap mata yang basah, meski hati melarang menangis. Aku kecewa saat tahu Rafael bohong. "Hai, nice to meet you again!" seru suara cewek manja dan lembut. Aku penasaran bangun dari duduk dan menyusul Rafael ke pintu. Belum sampai di pintu aku tidak bisa melangkah lagi melihat Rafael tengah dipeluk mesra oleh seorang cewek cantik dan tinggi. cewek itu memakai terusan dan roknya tingginya di atas paha. Cewek itu pasti sudah tinggi tanpa high heels-nya. Dengan sepatu hak tinggi itu, dia mampu berdiri sejajar dengan Rafael. Cewek ini lebih mengintimidasiku daripada Alisha. Rambutnya yang lurus, panjang, dan hitam dibiarkan tergerai. Sebuah koper hitam besar di sebelahnya. Aku menghela napas panas dan berat. Cewek ini bukankah yang ada di foto tadi? Hanya bisa mematung melihat Rafael dicium pipinya kanan dan kiri lalu berakhir di kening. Rafael tidak menolak seperti kehilangan kesadaran dan kaget sekali. Aku tersentak ketika Rafael memeluk balik cewek itu erat sekali. "Raf," aku memanggilnya. Rafael kaget sadar aku melihat dia peluk balik cewek itu. Rafael menoleh dengan wajah semringah dan jadinya seram. Cowok itu berjalan menarikku menuju si cewek tinggi bak foto model tadi. Dia menatapku dengan ekspresi tak terbaca karena disodorin cewek aneh, aku hanya sepundaknya cewek itu jadi minder. "Dea, ini Lyra temanku. Lyra, ini Dea pacar aku. Semoga kalian bisa berteman baik," kata Rafael memperkenalkan kami satu sama lain. Aku tersenyum gugup dan kesal yang muncul tadi hilang terbawa angin. aku senang diperkenalkan sebagai pacar. Wajah cewek yang bernama Lyra itu berubah jadi aneh dan terpana. Dia menganga lebar namun segera ditutupi dengan gaya anggunnya menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Gue Lyra, temennya Rafael sekolah dulu pas SMP. Pas lulus gue ambil SMA di Medan." Lyra mengatakannya dengan nada suara yang berat agak kaku. Mata cewek itu menilai sosokku jelas sekali. Aku ragu mereka hanya sekadar teman. Setelah apa yang aku lihat tadi di foto dan kecupan mesra Lyra pada Rafael. Seperti mereka biasa melakukan hal tersebut. "Gue bakal di sini beberapa hari, Raf, ortu lo udah ngizinin. Tapi lo tenang aja, nanti kenaikan kelas gue bakal sekolah di Jakarta." Senyuman cewek itu ke Rafael tulus dan lembut. Rafael membalas senyuman Lyra tak kalah manisnya. "Bagus deh, selamat datang di Jakarta lagi!" Rafael berseru semangat. "Gue senang banget lo inget gue di sini dan mau nginep. Yuk masuk, biar lo istirahat." Mendadak Rafael menarik koper yang ada di sebelah Lyra bagai tuan rumah yang baik. Mereka bertatapan saling melempar senyuman terbaik. Binar-binar di mata mereka terlihat membuat hatiku skait dan mencelus. Cemburu. Mereka pasti akrab sekali karena Rafael sudah lama mengenalnya dan akrab. Mereka pasti sudah tau sikap asli satu sama lain. Meski aku dan Rafael bertemu sejak kecil, saat itu kami cuma sebentar. Saat bertemu lagi, kami bagai dua orang asing dan pacaran. Momen Rafael dengan Lyra pasti lebih banyak. Aku berharap cewek ini bukan antagonis yang biasanya mengacau dalam sebuah cerita. Setelah Alisha, sainganku nambah satu. Cantik-cantik banget pula. Kehadiran Lyra lebih menakutkan karena dia nyaris 24 jam akan bersama Rafael. Oke, aku terlalu negatif thinking. Hubungan yang sudah aku perbaiki dengan Rafael baru beberapa hari ada saja cobaannya. Aku yakin Lyra bukan hanya sekadar teman bagi Rafael. Bisa jadi lebih. Tapi aku sudah jadi pacar Rafael, dia kalah denganku. Aku tersenyum samar. Aku yang memiliki status dengan Rafael, dia hanya temannya. Rafael menarik dan mengajak Lyra masuk ke dalam sambil ngobrol dan bercanda. Aku berdiri canggung menatap dua punggung itu masuk ke dalam ruang keluarga tadi. Semenjak Lyra datang aku sama sekali tidak terlihat oleh Rafael, yang tidak ada hentinya ngobrol bercanda riang mengenang masa lalu dengan Lyra. Rafael tidak mengajakku bicara sama sekali. Ketika aku mau pamit pulang, cowok itu hanya bertanya, "Oh mau pulang? Mau aku anter?" Aku pun menggeleng lemah dan segera pergi dari rumahnya secepat mungkin. Lagi, seperti biasanya Rafael tidak mengejarku yang pergi dengan perasaan kacau balau. Mana janjinya untuk mengejarku? Aku yang akan ngejar kamu. Jangan jadi bayanganku, berdiri di sisiku, aku akan gandeng kamu selalu. TBC *** 6 Nov 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN