38. Aku juga

1652 Kata
"Lo sama Alvin ada masalah?" Saat ini aku sedang mengerjakan tugas di rumah Rina. Tidak bisa dibilang mengerjakan tugas bersama karena itu hanya modus. Aslinya kami bakal sibuk gosip, main hape, dan makan cemilan ringan. Aku lagi pusing belum bisa memecahkan soal Akuntansi Dagang ini ditambah pertanyaan Della. Aku menghela napas berat. Menjawab pertanyaan cewek berambut pendek itu hanya bisa dengan gendikan bahu. Tak tahu. Rina mengangkat kepalanya nge-pause drama Korea yang lagi ditonton sehingga di layar wajah Gong Yoo menjadi aneh dan matanya merem. "Yakin nggak ada?" tanya Della lagi. "Kenapa?" jawabku berbalik tanya dengan malas. "Alvin keluar dari grup terus nggak dimasukin lagi sama Dika. Gue tanya Dika tuh anak kenapa, katanya Alvin yang minta nggak usah dimasukin lagi." Della menjelaskan. "Biarin, dia emang gitu, ‘kan? Suka semaunya!!" seruku menggebu. Rina membalikkan posisi jadi rebahan di karpet permadani merah melihat ke arahku dan Della. Kedua temanku menjadi saling bertatapan sebentar dengan sorot bingung dan dahi mengkerut. "Alvin kayaknya ngga apa-apa deh, tadi Rayn bilang mereka nonton pertandingan Cross bareng di Sentul." Anak cowok temanku memang ada saja tontonannya dan mainnya jauh-jauh banget. "Iya, Jojo juga ngechat ngajakin gue nonton Cross, tapi nggak mau. Gue kecapekan abis pergi tadi siang. Kalo Della nggak ke rumah ngajak ke sini, gue juga lagi tidur," sahutku. Jam dinding menunjukkan sudah pukul 5 sore. Hari sudah sore ditambah hawa dingin habis hujan, tanpa sadar sudah berjam-jam main di rumah orang. Jojo ngajakin nonton pertandingan motor Cross di Sentul. Aku tidak terlalu suka, mager, kecuali di sana ada banyak cowoknya buat cuci mata. Seperti dugaanku, Alvin ikut dengan Jojo. Pasti akan sangat asing aku muncul di depannya setelah cowok itu meminta aku untuk menjauhinya. "Gue males jauh banget tar pulangnya ngaret. Pasti mereka suka usil mampir ke sana-sini," ungkap Della manyun. "Balik ke topik, lo beneran gapapa sama Alvin, De?" "Hm, sebenarnya ada masalah. Alvin minta gue jangan terlalu baik sama dia. Aneh nggak sih? Emang gue ngapain sampe dia bilang gitu?" cerocosku tak habis pikir. "Lo nggak sadar?" tanya Rina serius bangun dari posisi rebahannya. Aku melirik kasihan pada Gong Yoo Oppa di layar, yang masih di-pause olehnya dalam keadaan tidak enak. Derp banget. "Sadar apaan?" Aku bersuara masih kebingungan. "Lo terlalu perhatian sama Alvin." Aku menganga seraya memandangi Rina dan Della tidak setuju. "Yang bener aja? Mana mungkin!" seruku terlalu keras. Della dan Rina saling bertatapan. Aku jadi salah tingkah dan malu. "Cowok gue kan Rafael, masa perhatian sama Alvin? Yang bener aja! Sebagai teman ya mungkin … iya," tambahku cepat-cepat segara menegaskan yang sesungguhnya. Tapi, siapa yang percaya dengan kata-kata apalagi aku mengucapkannya dengan emosi kesal yang sangat terlihat. "Yang gue lihat sih gitu." Della memandangiku curiga. "Jangan-jangan lo suka sama Alvin!??" "Hah? Gue suka sama dia? Gile aja lo!" Aku terkekeh, dan Della serta Rina menatapku dengan ekspresi datarnya. Tapi aku masih bisa melihat ada sebersit kekesalan di sana. "Iya, iya deh, gue suka sama Alvin. Kalo nggak suka udah gue jauhin, ogah temenan sama orang yang nggak kita suka bukan?" Setelah selesai bicara aku dijitak keras oleh Della. "Lo tuh b***t, sok polos atau apa sih!" pekiknya gemas. "Kok kalian sinisin gue juga? nggak lo, Alvin juga sinisin gue." Aku meringis mengelus kepala dan pandanganku ke Rina yang diam saja. "Lo juga Rin, mau sinis sama gue juga?" Rina menggeleng polos. "Nggak kok, enggak. Mungkin nanti iya kalo lo udah ngeselinnya lebih parah lagi," ujar Rina mencebik. "Kita tuh kesel sama lo yang nggak peka juga, Alvin tuh lebih baik dan menjaga lo dari si Rafael. Lo pikir deh, pas kejadian pesta Terry, dia yang nolongin lo pertama kali." "Karena saat itu memang ada dia duluan, begitu kan benar?" Aku memainkan alis. "Plis, jangan bahas itu lagi. Gue udah baikan sama Rafael kemarin. Kita udah baik-baik aja." "Hah, yang bener segampang itu udah baikan?" Della heboh menggoyang bahuku. "Lo tuh kebaikan, apa saking cintanya! Lo buta banget, De. Rafael makin semena-mena sama lo nanti." Wajah cewek itu merah nyaris meledak. "Iya gampang, itu kan yang namanya cinta. Memaafkan. Itu masalah biasa kok dalam suatu hubungan," jawabku santai. Semua juga tahu jika cinta itu saling memaafkan dan berusaha memperbaiki diri. Aku memaafkan Rafael, sedangkan pacarku berjanji berubah lebih baik lagi. Tidak ada masalah lagi ya, ‘kan? "Lo kebaikan tahu nggak? Rafael nggak cuma sekali nyuekin lo tiap abis berantem. Lo harusnya udah bisa nebak dia tipe cowok kayak gimana! Oke, gue nggak mau ribut lagi, karena lo pasti kekeuh bakal belain dia," tandas Della terlihat sangat kesal. Aku mendesah. "Kita butuh waktu dulu buat mendinginkan kepala dan hati. Kita udah ngobrol dengan kepala dingin, lebih tenang. Hasilnya begitu." "Lo terlalu lemah, De," kata Rina tiba-tiba. Dia emang tidak menggebu-gebu layaknya Della, tapi ucapannya dalam juga. "Lo terlalu mikir hal-hal positif. Iya sih itu bagus, tapi kadang lo harus punya sikap waspada. Kadang feeling jelek itu pasti kejadian. Gue tau kok lo gelisah dan menduga-duga. Kayak pertanyaan Rafael tuh nggak sayang sama lo, gue aja masih mikir apa motif dia tiba-tiba ngajakin lo pacaran." Sepertinya sudah cukup. Aku selalu ribut oleh teman-temanku karena masalah kekasihku. Mereka tidak suka aku menjalin hubungan dengan Rafael jelas sekali terlihat. Kenapa sih mereka tidak membiarkan aku bahagia sedikit saja merasakan bisa menjadi pacar cowok yang dulu cuma bisa aku bayangkan? Tentang motif mengapa Rafael tiba-tiba ngajak pacaran, mereka belum tahu tentang aku dan teman masa kecilku dulu. Itu adalah bagian dari rahasia Rafael, maka aku tidak bercerita pada siapa pun. Kalau aku cerita sebenarnya, mungkin bisa membuat mereka berhenti menuduh Rafael yang tidak-tidak. Aku dan Rafael sudah saling menyukai jauh sebelum bertemu di sekolah. Kami memiliki ikatan takdir kisah yang tak biasa. Biarkan itu hanya menjadi rahasia kami. Aku memegang rahasia besar milik Rafael. Sayangnya, aku tidak bisa jujur cerita tentang hal ini. Aku takut Rafael kehilangan kepercayaan dan gosip mengenai siapa Rafael sebenarnya akan tersebar. Mana tega aku bikin cowok itu sedih dan marah. Aku sangat menyayanginya. Aku menyayangi cowok itu, jelas harus melindunginya dari kekhawatiran yang selalu mengganggu Rafael. Jika gosip itu tersebar, Rafael akan menjadi bahan cemohan satu sekolah. Aku tidak mau dia sesakit hati itu. "Gue capek dan kesel, kenapa nggak ada yang dukung gue sama Rafael? Kalian berubah jadi sinis, yang cowok-cowok juga gitu." Della mendecakkan lidah. "Karena lo nggak peka, kita bantuin udah dari lama tau, biar lo sadar." Aku diam menekan rahang atas dan bawah bersamaan. Tidak pernah aku sedilema ini. Andai, keadaan tidak begini. Saat aku sudah memiliki seseorang. Kalau Alvin sungguhan menyukaiku, aku pasti akan bahagia, karena perasaanku selama ini terbalaskan. Aku menyukai Alvin. Aku berani meyakinkan itu dalam hati sejak kemarin sore. Apa sih yang ada di pikiranku bisa menyukai cowok doyan tawuran, perokok, dan suka bolos sesukanya seperti Alvin? Karena kejadian aku ditolak Rafael itu, Alvin datang menyodorkan kaca. Kami menjadi dekat dan saling mengejek. Hal-hal yang menyangkut antara aku dan Alvin berupa kisah yang menyebalkan. Mungkin itu juga yang pernah menjadi pertanyaan cewek-cewek yang patah hati saat Rafael menjadi pacarku. Apa sih yang ada di pikiran Rafael bisa menjadi pacarku? Sejak Alvin berubah, pandanganku ke cowok itu juga berubah. Tepatnya sejak Alvin memaksaku mengobati lukanya di rumah sore itu. Aku masih ingat debaran jantungnya yang keras saat dia menahan tubuhku di sofa. Sejak saat itu aku jadi lebih sering memperhatikan Alvin. Hanya memperhatikan saja, karena aku tidak memiliki rasa percaya diri bisa menjadi lebih dekat dengannya. Hanya orang tertentu saja dan aku iri pada cewek yang bisa meluluhkan gunung es itu. Aku nyaman setiap berbicara padanya, padahal dia sama sekali tidak manis. Aku selalu menunggu kesempatan saat bisa berbicara dengannya. Melihat Alvin ketus dan nyebelin lebih baik daripada cowok itu mengabaikanku. Pembicaraanku dengannya tidak terlalu banyak dan aneh, tapi aku suka. Aku tahu Alvin akan menjadi tipe cowok yang hanya menyenangkan hati satu perempuan mengingat sikapnya yang dingin dan cuek itu. Seperti yang orang lain bilang termasuk Alvin, peduli itu bagian dari perhatian, perhatian bisa jadi sayang. Aku belum sampai di tahap menyayangi Alvin, Rafael masih tetap nomor satu di hatiku. Perasaan sukaku makin menjadi setelah hasil yang aku kumpulkan mengenai teman masa kecilku itu mengarah ke Alvin. Aku mengkhayal bagaimana jika Alvin yang ternyata benar teman masa kecilku. Tuhkan lagi-lagi aku terlalu banyak mengkhayal. Rafael dan Alvin masing-masing memiliki bukti nyata dari hasil pengamatanku. Alvin berubah, sedikit atau banyak. Karena sekarang aku menyadari betapa bahayanya dia. Oke, aku akan mengatakan perubahan Alvin cukup banyak. Dia tidak lagi terlihat menjijikan dan cupu. Dia sudah tidak lagi memakai celana ketinggian dan kancing seragam sampai atas. Kacamata itu masih dipakai namun yang sekarang aku lihat dia bukan lagi si nerd tawuran-maniak. Dia bahaya banget kan sekarang? Berbagai momen kebersamaan sudah kami lalui bersama. Kejebak tawuran, pulang bareng, makan bersama, nonton film romantis yang pasti tidak disukai olehnya, dan chat yang tidak jelas hanya berisikan emotikon stiker aneh. Yang aku tahu, aku senang berinteraksi dengannya. Debaran itu selalu ada. *** Aku tidak tahu apakah ini terlalu cepat dalam menyimpulkan, bahwa aku tidak mau kehilangan Alvin. Egois sekali aku ingin dia tetap berpihak padaku. Hatiku sakit saat dia menyuruhku pergi dan tidak usah peduli padanya lagi. Kenapa dia menyusup di saat yang tidak tepat? Aku tidak menyangka bisa menyukai cowok itu saat aku sudah berpacaran dengan cowok yang sudah setahun lebih lamanya aku kagumi hanya dari jauh saja. Rafael itu the most wanted, semua cewek rela antre menjadi pacarnya. Aku malah menyia-nyiakan membagi perasaan ini. Hebat sekali. Saat semua sedang rumit, dia memperburuk kebimbangan di hatiku. Lo belum ketemu aja cowok yang bisa bikin lo berpaling. Tiba-tiba aku teringat ucapan Della, kalau dipikir lagi, aku mulai menyukai Alvin sebelum Rafael datang mengajakku pacaran. Aku saja yang telat menyadarinya. Kalau sudah begini aku jadi menyesal. Dulu aku mana tahu kalau Alvin diam-diam seperti manusia lainnya, yang juga punya perasaan. Aku dulu memandangnya bagai tak tersentuh. Menjadi pacar Alvin lebih mustahil daripada cintaku diterima oleh Rafael. Terus sekarang aku harus bagaimana? TBC *** 5 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN