37. Leave me then

2004 Kata
Sabtu ini jadwal kunjungan Mama ke Panti Kasih Bunda lagi. Namun, tidak biasanya Mama hanya sebentar. Mungkin karena tidak ada tamu lagi, kecuali kami. Aku tidak pernah masuk ke dalam ruangan pertemuan Mama dan Bu Mawar, selain di dalam membosankan, aku lebih suka duduk di taman panti dan mengamati pemandangan sekitar, berusaha mengingat kenangan yang tercipta di tempat itu. Barangkali nanti ada petunjuk lain yang tercipta dalam mimpi. Semoga saja. "De, ya ampun! Sisir Mama ketinggalan nih di ruangan Bu Mawar. Kamu tunggu sini bentar ya, Mama masuk dulu. Kamu jangan ngilang lagi, Mama nggak akan lama kok. Awas aja Mama balik kamu nggak ada!" seru Mama penuh ancaman. Aku terkekeh pelan karena beliau hapal sekali aku suka main ke sana-kemari ngilang sendirian seperti anak bocah dulu. Mama berbalik jalan menuju lorong panti asuhan lagi. Aku berhenti tertawa saat sebuah mobil BMW putih berhenti di depan panti, namun tidak sampai masuk dalam parkiran. Aku menganga saat melihat sepasang kaki putih mulus kinclong dengan higheels 15 senti muncul di sana diiringi kemunculan sosok wanita bertubuh langsing dan cantik. Wanita itu terlihat menawan dan beda. Wanita juga kadang kehilangan fokus saat melihat wanita cantik lainnya. Apalagi penampilan tante ini heboh banget. Tingginya bisa mencapai 170 cm seperti model, langsing, dan kakinya super jenjang. Kulitnya putih mulus dipadukan tube dress warna merah. Rambutnya yang panjang disemir agak cokelat lurus banget kayak bihun. Bibirnya yang mungil dan padat merah merona. Matanya menatap penuh keawasan dan tegas. Wanita itu berjalan menuju pintu masuk panti. Saat kami bertatapan dia tersenyum. Rasanya tidak asing dengan wajah wanita cantik itu. Tunggu, bukannya itu Gina Karim? Artis cantik meski sudah tua namun kecantikannya tidak pernah luntur. Aku menutup mulut tidak percaya baru saja bertemu dengan artis yang beberapa waktu lalu filmnya aku tonton bersama teman-teman. Aku kesal karena telat menyadarinya. Aku mau foto bareng gitu loh. Cantik banget dan wangi. Itu pasti duplikat bidadari. Di depanku mobil BMW putih tadi berjalan maju. Beberapa menit kemudian BMW putih itu lewat depan panti lagi, sepertinya memutar balik di depan sana. ***   (ANU INU 23+) Dea Sagita: Gue ketemu artis. Ituloh yg jadi momnya Missy di Dua rembulan. Gila gila kayaknya bukan orang deh. Cantik banget gils Alvin Matt: Norak Dea Sagita: Yee sirik aja -__- Dia emak goals banget. Andai emak gue kayak dia. Alvin Matt: Dasar durhaka nggak sneng ama ortu sendiri. Dea Sagita: Bodo ye. Fix banget ini Kakak gue Adara, emak gue Tante Gina. Dea Sagita: EEEEEH KOK SEPI??? Alvin Matt: Mimpi   Aku menutup ponsel karena grup lagi tidak seru, hanya ada aku dan Alvin. Ponselku bergetar lagi, aku cek ada notifikasi pesan dari Alvin Matt. *** Ponselku bergetar lagi, aku cek ada notifikasi pesan dari Alvin Matt.   Alvin Matt: Gue liat lo tapi lo nggak mungkin liat gue. Dea Sagita: DEMI? Jangan-jangan lo setan? Alvin Matt: Lo yg setan!!!!! Dea Sagita: Lagi ngomongny aneh, lo liat gue dmn emg? Alvin Matt: Pejaten, pake sweater cokelat muda. Dea Sagita: Lah kok tau? lo di mana emg? Alvin Matt:  . Dea Sagita: Titik aja teroos   Aku melotot setelah tegang menunggu jawaban yang aku dapat hanya sebuah titik nyebelin yang tidak bermakna apa-apa. Tipe Alvin banget. Aku baru mau membalas lagi tapi keburu ada Mama yang sudah muncul kembali. "DEA, yuk kita capcus pulang. Tapi ntar mampir minimarket depan ya, Mama mau beli Vitamin. Kamu mau apa?" Mama membuka pintu mobil, aku ikutan masuk. "Aku mau banyak." Aku sudah tertawa pelan. "Ye, dasar tukang jajan." "Canda kok, aku mau yogurt rasa anggur."   Dea Sagita: ALVIN Alvin Matt: Ya Dea Sagita: Apa lo ada di sini? Alvin Matt: Di sini mana? Dea Sagita: nggak jadi deh. *** "Mama masuk dulu ya. Kamu di dalam sini aja atau ikut keluar?" Mama mematikan mesin mobil mengamatiku yang lagi asyik balesin chat dari Alvin. Tidak bisa juga disebut sebagai chat, karena kami hanya saling berkirim stiker, emotikon bahkan tanda baca. Ngeselin banget sih Alvin ini selalu mengirimkan pesan singkat sekali bahkan stiker tidak jelas yang tak sesuai dengan tema pembahasan sebelumnya. Saat sadar mobil sudah diparkir depan sebuah minimarket, aku berinisiatif sesuatu. "Aku ikut turun deh, Ma. Mau milih makanan hehe." Aku nyengir jail. Mama ketawa. Aku turun dari mobil, Mama sudah melangkah memasuki mini market. Langkah kakiku terhenti saat melihat sosok tak asing lagi duduk di kursi depan minimarket fokus melotot ke layar ponselnya. Cowok itu tertawa kecil sambil asyik ngetik.   Alvin Matt: *emot alien* Dea Sagita: Gue liat lo sendirian. Cih jones Alvin Matt:  -____- Lo mana?   Aku menghampiri Alvin yang duduk sendirian di sana. Wow! Mobil BMW putih yang tadi berhenti depan panti ada di sini. Terparkir tidak jauh dari Alvin. Aku melihat di kursi depan bagian kemudi ada seorang pria berumur sedang tidur. Aku menganga sejenak, itu berarti? Di meja tempat Alvin nongkrong berantakan sampah gagang permen dan bungkus cokelat payung serta gagangnya yang khas. "Lo—" Alvin terpenjarat kaget seperti melihat hantu. Aku menarik kursi duduk di depannya. sebuah gagang permen terselip di bibirnya dengan pipi menggembung lucu. "Jangan bilang lo tadi lihat gue dari depan panti? Iya, ‘kan?" tanyaku. Namun, Alvin tidak memberikan respons. raut keterkejutan Alvin menjawab pertanyaanku. Deg. Aku tergagu karena mobil BMW putih yang tadi keluar artis cantik adalah mobil yang berisi cowok ber-hoodie abu-abu ini. Kalau begitu ada hubungan apa Alvin dengan artis itu? Kepalaku segera berisi berbagai pertanyaan, serta hatiku dilanda kebingungan. Efeknya dahsyat, perutku menjadi sakit dan nyeri. "Jangan nanya apa pun, meski lo pengen banget tahu!" serobot Alvin duluan sebelum aku mulai bertanya. Terpaksa aku menahan hasrat berbicara daripada kena usir Alvin. Aku melihat sampah di meja itu. Tidak hanya sekali aku melihat Alvin makan cokelat payung. "Lo sering ke panti tadi?" tanyaku kalau ini sepertinya pertanyaan wajar. Alvin tidak menjawab. Diamnya itu bikin kecurigaanku meningkat. "Ngapain ke sana?" tanyaku lagi. "Lo sendiri ngapain ke sana?" Alvin menatap dengan tatapan malas dan galak. "Nemenin Mama ketemu sama Bu Mawar dan nyari orang." "Siapa? Ngapain dicariin?" tanya Alvin. "Gue juga sih nemenin orang kujungan ke sana. Dan, hem, nyari orang." Punggungku langsung dingin dan kaku. "Lo nyari siapa?" "Jangan pengen tahu, emang lo siapa kepo banget?" tanya Alvin balik jutek. "Jangan pernah cari tau juga, dan apa yang lo liat tadi anggap aja salah liat." Alvin memang misteri, penuh rahasia terutama keluarganya. Aku tidak menyangka bahwa keluarganya adalah artis. Alvin anak artis? Artis terkenal itu? Masa sih anaknya? Tetapi mereka berada dalam satu mobil. Rasanya tidak mungkin karena tidak pernah ada berita Gina Karim memiliki anak cowok. Sungguh aku syok banget saat tahu Alvin berhubungan erat dengan seorang artis. Mungkin saja Alvin adalah keponakan artis cantik itu. Atau, Alvin bukan anak kandung? Anak angkat wanita itu. Banyak artis yang mengadopsi anak-anak lucu. Tapi Alvin ketus dan jutek. Masa anak adopsian songong begini? Makanya tak pernah diakui depan publik. Oke, otakku terlalu drama. Padahal menjadi anak seorang artis juga bukan hal yang buruk. Gina Karim memiliki imej yang misterius cenderung baik-baik saja. Alvin saja yang terlalu sinis. Aku sedih karena Alvin jadi galak dari yang biasanya. "Lo kenapa sih jadi jutek banget dan sinis? Gue salah apa? Sori, gue nggak bakal nanya lagi." Aku mengalihkan pandangan takut kepergok mataku lembab berkaca-kaca. "Pikir aja sendiri!" sahut Alvin. Aku mengusap mata menghilangkan jejak air yang sudah keluar tanpa bisa dicegah. "Gue cuma pengen tau, siapa tahu kali ini berhubungan sama orang yang dulu gue temuin di panti itu." Aku bercerita intinya saja, Alvin tidak peduli tapi aku senang saja berbagi dengannya. Alvin mendengarkan dengan raut wajah serius. "Tapi kayaknya nggak mungkin orang itu lo. Dia baik, imut, dan polos." "Lo ketemu dia pas masih kecil. Dunia berputar dan wajar manusia tumbuh setiap tahunnya." Alvin sok menggurui. “Kayak metamorfosis.” Aku mengangkat kepala memandang lekat di matanya yang selalu penuh rasa awas itu. "Lo kira kupu-kupu? Tahu dari mana gue ketemu sama dia pas kecil?" tanyaku. Alvin terlihat tersentak kaget dan mendelik tajam. Dia menggaruk alisnya yang tebal. "Nebak aja sih." Aku menyipitkan mata curiga. "Kenapa lo suka makan permen cokelat payung?" "Karena gue suka cokelat. Mau beliin gue cokelat? Sana boleh." Alvin menunjuk ke pintu mini market. "Gue lagi nggak bisa ngerokok dan butuh banyak cemilan. Mulut gue pahit." "Hah? Lo kalo nggak ngerokok makan permen dan cokelat?" Dua makanan itu pasti lebih enak dari membakar batang tembakau dan mengepulkan asap. "Awas gigi lo bolong." "Buktinya nggak," sahut cowok itu santai. "Kenapa si lo nanya-nanya? Inget kan peduli artinya perhatian. Perhatian itu bagian dari sayang? Lo jangan-jangan sayang sama gue?" Oh, s**l. Seketika aku ingat lagi ucapan teman-temanku tentang Alvin yang katanya suka padaku. Aku tidak pernah menyangka dia menyukaiku, setiap bicara saja kayak ngajak ribut tidak ada manisnya. Aku lebih percaya Alvin adalah haters-ku nomor satu. Lihat saja wajahnya yang angkuh dan dingin itu nyebelin banget. Bikin orang yang lihat ogah deket dengannya lama-lama. Kadang aku berpikir siapa orang yang betah duduk lama-lama sama dia? Di kelas saja dia duduk sendiri, jomblo, dan tidak punya sahabat dekat. Makan hati kalo ngomong sama dia, mendingan jaga jarak aman. Terus, sekarang aku sadar sedang duduk di depannya, tanpa diminta olehnya. "Apa lihat-lihat, pasti lagi mikir yang jelek tentang gue?" Alvin menggigit permen dengan kasar sehingga bunyi gemeletuk gigi dan permen beradu lalu membuang gagangnya di meja. "Kapan gue bagus di mata lo sih?" "Ya, lo berubah dong." Alvin tertawa geli. Meski dia lagi ketawa, percayalah horor banget seperti tawa para psikopat. Mengapa dia tidak ada sisi manisnya sama sekali. "Emang gue power ranger?!" jawab pemuda itu. "Haha, lucu lo. Kalo lo mau dinilai bagus, setidaknya bersikap manis dikit sama semua orang. Baik sama semua orang. Itu bisa nambah nilai merubah pandangan orang lain sama lo." Aku langsung bayangin Rafael yang selalu ramah pada fansnya. Alvin tersenyum miring mendengar celotehanku. "Nyenengin hati cewek-cewek kalo lo bisa ramah dan baik." "Gue hidup bukan buat nyenengin orang lain," tandas Alvin segera. "Sinis banget," celaku. Mama terlihat di kasir membayar barang belanjaan, sebentar lagi aku akan ikut pulang. Aku mengalihkan pandangan jadi ke Alvin lagi yang sedang memandang lurus padaku tanpa berkedip. "Vin?" "Hm?" "Apa gue masih jadi rumah bagi lo, yang kayak lo pernah bilang ke gue?" tanyaku gugup. Alvin mengerjapkan mata dan bibirnya terkatup rapat. Sebelum menjawab, Alvin menarik napasnya. "Penting buat lo tau?" Cowok itu berubah serius dan dingin. “Ya udahlah nggak penting kali ya.” Aku bangun dari duduk saat Mama sudah keluar dari minimarket membawa plastik belanjaan. Iya, memangnya penting untuk aku ketahui? Meski pikiranku terus menyuruh untuk berhenti mempedulikan, nyatanya aku masih terus ingin peduli dan mencari tahu tentangnya. Mama memandangiku bingung. "Kamu ke mana? Kok duduk di depan toko, nggak ikut masuk?" Mama menaruh belanjaan di kursi belakang. Aku masuk ke dalam mobil merenungi ucapan Alvin. Kepalaku mendadak pusing dipenuhi teka-teki ini. Bayangan mata anak cowok itu, kalung, permen cokelat, dan hubungan Alvin dengan artis cantik itu. Kenapa hatiku mengatakan bahwa Alvin adalah cowok yang dulu main bersamaku? Bukan Rafael, tapi Alvin. Sama seperti Rafael, Alvin juga tidak menjawab pertanyaanku langsung. Bikin penasaran. Alvin tipe yang langsung membantah. Dia jujurnya kelewatan. Aku memang sudah terlalu banyak tanya dan penasaran, karena ini menyangkut memoriku. Mimpi dan memoriku yang salah atau justru mimpi ini yang bisa membantuku menjawabnya. Kalau mungkin Alvin memang benar, wajar dia tidak mengakui. Kadang ada rahasia yang tidak mudah dibagi, seperti tentang keluarga. Tapi, kalau anak kecil itu adalah Alvin, robot itu adalah milik Rafael, 'kan? Rafael akrab sekali dengan Kino, mainan masa kecilnya itu. Aku tersentak saat ponselku bergetar. Ada pesan dari Alvin.   Alvin Matt: Jgn cari tau ttg gue. Jgn peduli. Jgn baik ke gue. Gue g suka!! Dea Sagita: Meski lo nyuruh buat nggak lakuin ini-itu, gue nggak bisa nurut Alvin Matt: Why? Lo nggak ada hak Dea Sagita: Ada, gue temen lo Alvin Matt: Tmen msih bisa muka dua. Gue nggak percaya itu. Jauhin gue atau gue yg jauhin lo? Dea Sagita: Jangan jauhin atau benci sama gue, Vin.  Lo kenapa sih? Sori, klo gue ganggu lo dgn ucapan2 gue tdi. Alvin Matt: Okay nope. Leave me then.   TBC *** 4 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN