"Lo suka juga 'kan sama Alvin?" tembak Della sontak dengan suara lantangnya.
Aku menatapnya ganas, langsung kesal bin emosi. Dari mana dia dapat menyimpulkan demikian? Kini semua mata manusia yang duduk di meja ini mengamatiku penuh selidik.
Aku tertawa sumbang. "Gue suka sama dia? Gue udah punya cowok," jawabku lugas. Aku punya Rafael, meski cowok itu ternyata tidak sebaik yang aku kira. Aku mulai berpikir menerima kekurangan dan kelebihan Rafael, begitu kan cinta yang sebenarnya? Cinta itu bukan menyatukan dua manusia sempurna, melainkan menyatukan dua ketidaksempurnaan sehingga jadi sempurna. Rafael tidak sempurna, dia sudah memilihku dari ratusan gadis di luar sana. Maka aku juga akan memilihnya. Aku juga akan membuat hubungan kami selalu menjadi kuat dan erat.
"Rafael lepasin aja, mau hubungan lo gini-gini terus?" Della lagi-lagi mempengaruhiku. Dia benar sih. Hubunganku dengan Rafael itu bermasalah terus, tapi mengapa dia tidak memberikan dukungan berarti daripada mendorong diriku untuk melepas Rafael?
"Del!" Rina melotot ke Della yang duduk paling ujung.
Della mengalihkan wajahnya merasa sudah paling benar.
“Cowok kayak Rafael itu tipe nyebelin yang semaunya. Egois banget. Bikin emosi terus loh!” seru Della menambahkan.
Aku mengamati Dika, Jojo, dan Rayn bergantian. Mereka diam. Diamnya mereka seperti lebih cari aman daripada takut salah ngomong. Aku tahu mereka pasti juga akan mendukung Della, terlihat dari ekspresinya yang sama sekali tidak kaget. Sedangkan Rina, dia berusaha netral padaku, karena dia memposisikan dirinya sebagai cewek. Jujur, aku tidak memiliki keinginan untuk melepas Rafael. Betapa susahnya dulu aku bisa menggapai hati dan menjadi pacar Rafael.
"Gue nggak bisa lepasin Rafael." Suaraku yang pelan diiringi mendesah lelah. Aku bingung bukan main, perasaan ini ada kesal, marah, tetapi juga sakit. Aku mencintai Rafael, masa harus kehilangannya? Sampai sekarang pun aku merasa ini semua hanya mimpi.
Terdengar helaan napas berat dari mereka. Aku tersenyum miris. Rafael meski begitu, aku harus bisa memahami dirinya yang asli. Aku harus bisa menerimanya.
"Emang dia udah ngomong sama lo lagi sejak kejadian yang semalem?" tanya Jojo.
Aku menggeleng.
"Dia emang brengsek." Rayn menyahut, langsung mendapat pelototan tajam dari Jojo.
"Keliatannya dia nggak masuk sekolah." Dika ngasih tahu. Aku pun sudah tahu.
"Cinta itu berjuang sama-sama, Dea. Kalo lo doang yang berjuang bakalan makan hati." Della ngomong lagi. "Nggak sekali dua kali dia cuek begini. Nggak menyelesaikan masalah ngomong apa kek. Padahal lo nunggu penjelasan dari dia. Seakan-akan lo nggak penting amat. I just wanna say. Coba lo pikirin lagi deh. Hatinya jangan batu banget gara-gara nggak mau patah hati putus. Atau kehilangan dia. Lepasin dia secepatnya atau lo yang suatu saat bisa jadi bakal dilepas dia duluan. Gitu hukum alamnya."
Kepala Rina mengangguk pelan menyetujui Della.
"Karena gue juga nggak pernah mau nanya duluan, gue yang salah." Aku menutup wajah dengan tangan mengusap sedikit gusar.
"Wajar kok cewek kan suka gitu, lo nggak salah," kata Rina mengelus bahuku menenangkan.
"Tunggu," sela Dika cepat. "Dea, gue mau nanya, lo cinta Rafael atau cuma obsesi bisa memiliki dia doang sih?"
Jojo berdeham dengan raut wajah kaku, Rayn mengamati dua rekannya yang mendadak sibuk ngurusin hubungan cinta temannya.
"Lo juga nggak pernah mau nyari tau 'kan De? Apa lo cuma obsesi sama dia?" Tiba-tiba saja Jojo mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah aku sangka akan keluar dari bibirnya.
"Sebenarnya lo nggak peduli-peduli amat?" Dika memasang wajah serius.
“Lo takut kalo bahas masalah sama dia, akan berakhir ribut atau putus. Pisah. De, lo nggak takut diputusin sama dia, ‘kan? Cuma gara-gara nggak mau kehilangan status jadi sesakit ini?” cetus Jojo memandang dengan sorot terpukau bukan main. Sepertinya dia sudah benar sekali menyimpulkan masalahku.
Aku terenyak luar biasa. Mungkin hanya aku saja yang tahu perihal itu. Aku tidak mau putus hubungan dari Rafael.
***
Rafael Adrian:
Aku mau ngomong. 10 menit bisa smpe di Indomart dpan Ngurah Rai?
Usai menerima pesan dari Rafael yang bertepatan dengan bel pulang, aku segera merapikan alat tulis dan buku ke dalam tas. Jojo masih menyalin catatan dari papan tulis mengamatiku dengan tatapan bertanya. Kegesitanku dalam merapikan barang memang bisa buat curiga banyak orang. Guru pelajaran terakhir barusan keluar.
"Mau ke mana? Buru-buru amat, lo nggak ikut ke rumah gue bikin vlog?" tanya Jojo yang masih antusias sama idenya bikin vlog waktu itu.
Aku menggeleng. "Gue nggak ikut dulu kali ini, ada urusan genting." Segera saja aku tutup mulut demi kelancaran kepergianku.
"De, lo mau ke mana?" teriak Della dan Rina kompak.
Aku menoleh melambaikan tangan ke mereka. "Gue duluan ya, bye. Dadah semuanya!" seruku berlari meninggalkan kelas. di koridor sudah banyak murid mau pulang.
Dea Sagita:
Oke, aku bru keluar.
Dalam kurun waktu beberapa menit aku sudah keluar dari Jalan Pattimura, logo Indomart yang besar terlihat aku berjalan ke sana. Di parkiran depan Indomart ada mobil punya Rafael. Seorang cowok tinggi dengan kaus hitam dan celana jeans, serta memakai masker hijau melambaikan tangan ke arahku. Aku berjalan mendekatinya, ternyata itu memang Rafael.
"Masuk dulu, aku mau ngomong." Suaranya yang berat sedikit teredam, karena masker.
"Di sini aja nggak bisa?" Aku masih trauma saat dia menarikku paksa.
"De, panjang ceritanya. Kita makan juga, oke? Kamu belum makan juga, ya ‘kan? Yuk, masuk." Rafael membuka pintu sebelah kiri. “Sumpah, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Yang kemarin di luar kendali kesadaran aku, De. Dea?”
Aku berdecak, namun tidak ada pilihan lagi, selain masuk dan duduk menunggu Rafael memutar masuk ke bagian kemudi. Aku memasang seatbelt. Di dalam mobil Rafael melepas maskernya. Tidak biasanya Rafael terlihat sendu. Ada lebam di pipinya dan dekat bibir.
"Luka kamu," ucapku refleks menyentuh wajahnya.
Dia meringis, takut menyakiti wajahnya aku langsung menarik tanganku cemas. Rafael menggeleng lemah dan fokus mengeluarkan mobil dari parkiran.
"Hasil ditonjok teman kamu yang namanya Alvin." Rafael bersuara saat mobil sudah berjalan lurus di Jalan Ngurah Rai. “Dia memang bar-bar banget. Urakan.”
Alvin udah berkali-kali kamu tonjok nggak separah ini. Mungkin Alvin ngumpulin dendam saat ada kesempatan dia balas pukul Rafael sampe wajah kamu begitu. Aku berbicara dalam hati dengan bayangan yang memang benar begitu.
"Semalam kamu gimana?" tanyaku cemas. Bagaimana jika cowok itu tidak pulang karena party.
"Aku masih bisa pulang bawa kendaraan, nggak separah itu kok. Maaf, buat yang semalam. Aku ngomongnya parah dan bikin kamu malu, karena aku maksa mau cium." Rafael menejelaskannya dengan wajah memandang ke arah depan.
"Kamu emang suka minum, Raf? Masih nggak nyangka kamu pergi buat minum-minum sama teman kamu, sedangkan aku nunggu nggak jelas kayak gitu."
"Iya, aku memang suka minum. Tadi malam aku nggak mau karena lagi bersama kamu, aku nggak mau bikin kamu dalam bahaya. Mereka maksa, ya udah. Semua salahku. Aku bikin kekacauan di acara ulang tahun orang, Terry untungnya mabuk jadi nggak malu amat."
"Kamu minum sama siapa aja?" tanyaku resah.
"Temanku, biasa."
"Kamu masih muda loh. Iya sih, udah 17 tahun, tapi masih muda banget untuk menyentuh alkohol. Alisha dan gengnya termasuk?" Aku memajukan tubuh kesal. meski sudah bisa menduga, mendengarnya langsung bikin emosiku melonjak lagi. "Terus dia pulang siapa yang nganterin, kamu bukan? Aku nggak ngerti pikiran kamu, Raf."
Rafael menoleh, karena nada suaraku sinis jika menyangkut Alisha. Aku membanting punggung kasar melipat kedua tangan depan d**a.
"Dia butuh aku, kalo nggak aku anterin siapa yang nganterin?" Suara menyebalkan Rafael terdengar seperti tak mempedulikan perasaanku lagi.
"Memangnya dia berangkat sama siapa? Kamu pikir aku nggak butuh kamu?" semprotku marah.
"Kamu dibawa sama tuh cowok biang onar, aku mau kejar kalian tapi ditahan sama Dilan. Aku rasa ini adil. Kamu yang pasrah dibawa sama tuh cowok dan aku nganterin Alisha." Mata Rafael berkilat api marah.
Aku melotot lebar. "Kamu bisa ngejar aku sampai rumah, kalo misalnya aku ini memang penting buat kamu!" Aku menekan kalimat biar Rafael sadar bahwa aku butuh diperlakukan lebih baik.
Dia pacar atau orang biasa sih? Tingkahnya menyebalkan seperti anak tetangga yang tak dekat apalagi memiliki hubungan spesial denganku.
Masih ada banyak pertanyaan seperti kenapa Rafael tidak mengejarku dan minta maaf sampai ke rumah, padahal katanya dia masih bisa menyetir kendaraan. Yang lebih bikin aku sakit hati, dia lebih memilih nganterin Alisha pulang daripada ngejar aku. Aku tidak mau mempertanyakannya, karena jawaban yang aku dapat pasti sangat menyakitkan. Aku sudah tahu jawabannya meski Rafael akan berkilah macam-macam. Dari awal harusnya aku sadar. Aku tidak akan menjadi prioritasnya.
"Sampai sekarang aku masih sering bertanya, apa aku benar-benar ada di hati kamu? Kamu nyata, tapi kayak khayalan. Aku kira bisa miliki kamu, aku senang. Aku makin takut kehilangan. Kamu nggak tau betapa senangnya aku saat kamu bilang sayang dan minta aku jadi pacar kamu. Sikap takut kehilangan ini yang pada akhirnya membuat kamu benar-benar hilang dariku. Aku mau turun di sini, bisa berhenti?" Air mata sudah penuh di mataku sekali kedip pasti akan turun.
Rafael berhenti di pinggir jalanan melepas seatbelt-nya, dia memelukku erat mengusap kepalaku. Di saat aku mau marah padanya, ada saja sikap Rafael yang membuatku luluh dan lemah lagi.
Aku nggak bisa diginiin. Aku lemah kalau Rafael berusaha menenangkan dan manis begini.
"Harus berapa kata maaf lagi yang akan kamu dengar dari aku? Aku juga nggak mau kehilangan kamu. Aku janji ini yang terakhir kalinya, aku nggak akan lagi nyuekin kamu setiap ada masalah. Aku yang akan ngejar kamu. Jangan jadi bayanganku, berdiri di sisiku, aku akan gandeng kamu. Kita bareng-bareng berusaha ya?"
Aku menitikkan air mata tidak terbendung lagi.
"Sekarang kamu udah tau luar dalamnya aku, aku berharap hubungan kita ke depannya akan baik-baik saja." Rafael melanjutkan menenangkanku.
Aku masih belum mengenal kamu, tentang mengapa tiba-tiba kamu nggak suka cokelat.
"Oke, kalo kamu masih mau berubah. Tapi Raf, kamu beneran nggak suka cokelat?" tanyaku dan Rafael mengernyitkan dahi, kepalanya mengangguk pelan.
"Kenapa? Pas umur lima tahun aku pernah makan cokelat, gigiku sakit sampe nangis mulu. Aku nggak boleh makan cokelat sama Bu Mawar lagi. Sampe sekarang aku nggak suka cokelat. Temanku dulu yang suka banget cokelat, aku iri nggak bisa bebas jajan yang manis-manis." Jelas Rafael sukses membuat pikiranku bercabang lagi.
Aku mengerutkan kening sementara otakku berpikir keras.
Mengapa aku ragu, mimpi yang salah atau memang anak kecil itu bukan Rafael? Atau mimpi yang memang hanya pengganggu pikiranku agar merusak semua ini? Mimpi itu hanyalah bentuk teror gangguan keraguan pikiranku. Iya, mungkin itu hanya sebuah gangguan gara-gara aku mulai meragukan. Tetapi fakta ini sedikit mengusikku. Yang mana yang benar? Kilahku atau faktanya?
"Dea?!"
"Hai, kamu?"
"Dea main ke sini lagi?"
"Dea sering ke sini, kok."
"Ke ayunan yuk!"
Bayangan berubah menjadi di sebuah ayunan dengan dua anak kecil tertawa riang.
"Aku punya sesuatu, kamu suka cokelat?" Suara anak kecil cowok terdengar dengan riang dan ramah.
"Suka. Mau! Mau!"
"Aku juga suka banget cokelat. D-E-A." Anak kecil cowok itu mengeja sebuah nama.
"Kamu baca kalungku ya? Kalung kamu juga lucu bentuk bintang. Dea suka bintang loh."
TBC
***
3 Nov 2021