"Ngapain lo berdiri di sini? Gantiin Bu Heni?" cetus Alvin jutek sambil mengeluarkan kacamata dari kantung seragam dan memakainya.
"Vin, kok chat gue cuma dibaca?"
"Nggak penting."
Tuh, apa coba yang katanya suka sama aku? Jelas-jelas cowok ini benci dan sinis.
"Kok gitu?"
Alvin tidak menjawab.
"Kenapa semalam lo minta gue jangan berbuat baik dan peduli sama lo?" Aku bertanya dengan berani.
Kami berjalan bersama. Bukan begitu, tepatnya aku yang berusaha menyejajarkan langkah dengan kakinya yang panjang. Kami berjalan di koridor, langkahku terseok-seok. Alvin bisa dinobatkan menjadi atlet jalan tercepat.
"Karena lo emang nggak seharusnya gitu." Alvin santai menjawab tanpa melihat diriku.
"Kenapa? Emang gue salah peduli dan nyuruh lo masuk sekolah? Gue seneng sekarang bisa liat lo masuk, apalagi kalo jadi lebih rajin." Aku mengenyahkan perasaan dan hawa panas ini.
"Nggak usah, nggak butuh." Ketusnya sambil menaiki tangga.
Aku mengekori langkah Alvin menahan gejolak agar tidak menariknya dan mencelakai cowok itu gelinding di tangga. Omongannya yang nyebelin bisa membuat keinginan jahatku muncul.
Kami memasuki kelas, murid-murid langsung berhenti beraktivitas dan suasana menjadi lebih sepi. Tatapan mereka fokus pada kami. Alvin tak menggubris tatapan anak kelas berjalan terus menuju mejanya, aku yang terlunta-lunta ini masih setia berjalan di belakangnya. Ada pertanyaan yang harus aku pastikan sendiri. Alvin membanting tasnya ke meja pojok, berdiri di meja pinggir dan menatapku tanpa berkedip. Aku mendongakkan kepala berani memandangnya balik di mata itu.
"Lo suka sama gue?" tanyaku to the point.
"Nggak."
Aku tersenyum lebar namun pahit. Sakit di dadaku makin menghimpit. Tawaku sudah berubah jadi sinis. Alvin mendelikan matanya yang tajam. "Oke." Aku berjalan menuju mejaku, di kursi teman-temanku sudah terisi mereka memandang ke arahku kompak seperti meminta penjelasan.
"Siapa yang bilang Alvin suka sama gue? Denger nggak tadi dia bilang apa? Dia nggak suka sama gue." Aku melepas tas dan duduk di kursi dengan kasar.
Jojo menatapku dengan raut wajah tidak percaya. Dia seperti kesal dan marah. Aku salah apa?
Namun, suara Dika duluan yang terdengar. "Lo parah banget sih, Dea!" serunya keras.
"Kalo nggak suka, jangan gitu juga kali," sahut Rayn kecut. Ekspresi wajah cowok itu yang biasanya jenaka tumben sekali lagi serius.
Aku menghela napas. "Gue cuma mematahkan gosip kalian."
"De, maksud lo apaan nanya begitu? Santuy banget nanyanya?" tanya Della menyambung suara yang lain.
"Lo nggak berperasaan banget nanyanya kayak gitu!" komentar Rina, nada suaranya kesal.
"Mana mungkin dia ngaku secara gamblang sedangkan lagi banyak kuping di kelas ini!" pekik Jojo ngomel. Aku mengangkat bahu. "Lo mikir dong ngapain juga pake nanya to the point begitu, ya dia nggak bakal mau jawab jujur." Jojo juga segera mendumel sendirian, kayak ngomong sama anak tetangga, mau pinjem nanyain punya obeng apa enggak.
Aku merengut. "Gue cuma mau mastiin aja secara langsung." Terus kenapa aku harus peduli? Mau Alvin suka atau tidak bukan urusanku, seharusnya. Kenapa saat mendengar jawaban dari bibir Alvin sangat menghancurkan hatiku?
Aku tidak terima saat Della bilang Alvin menyukaiku, namun sekarang yang aku rasakan aslinya, aku lebih tidak terima saat Alvin mengatakan tidak menyukaiku. Teman-temanku ternyata mempermainkanku juga. Semesta mendukung untuk mempermainkanku. Apa-apaan ini kenapa aku menjadi kesal karena Alvin tidak mengakui apa-apa, seperti yang dikatakan oleh para temanku?
***
Apa tindakanku tadi pagi terlalu gegabah menanyakan langsung ke Alvin? Lagian lelucon apalagi sih yang sedang dibuat oleh teman-temanku? Mereka bilang aku tidak peka dan egois, karena nanya begitu langsung tanpa beban ke Alvin. Hari ini perasaanku buruk sekali. Rafael tidak masuk entah ke mana, mengirim kabar pun tidak.
Aku selek. Rina dan Della biasa saja sih, cuma yang anak-anak cowok mereka mengabaikanku. Parah banget, ‘kan? Saat jam istirahat berbunyi tadi mereka semua langsung pergi keluar kelas tanpa pamit atau ngomong. Jojo melimpahkan tugas membawa LKS Geografi anak kelas ke meja guru mapel. Daripada aku bete beneran usai menaruh buku ke meja guru, aku pergi ke perpustakaan untuk menepi.
Aku memilih meja yang jauh dari keramaian, perpustakaan tidak terlalu ramai saat jam istirahat. Aku tidur pun tidak ada yang peduli. Aku melipat kedua tangan di atas meja dan menelungkupkan wajahku di lengan. Pelan tapi pasti lama-lama mataku terpejam. Aku tidur.
"Hai Dea!"
"Kamu!"
"Kamu ke sini lagi?"
Dea kecil mengangguk. "Kamu ngapain di sini?"
"Aku lagi ngumpet nggak mau diadopsi. Aku nggak mau pergi dari teman-teman dan panti. Aku takut mereka jahat kayak di TV."
"Tenang aja. Pegang tangan aku, kamu pasti jadi kuat." Anak kecil itu memegang tangan Dea kuat dan perlahan bibirnya tersenyum lebar.
"Kamu baik, kita temenan."
"Bukankah kita memang teman?"
Anak cowok itu mengangguk masih nyengir lebar. Dia tampan, wajahnya sangat jelas tidak hanya siluet atau bayangan putih yang silau di mata. Wajahnya yang sangat jelas menampilkan mata yang jernih dan bersih, maniknya yang lucu bersinar dan saat tersenyum membentuk suatu garisan lurus.
"Aku nggak pernah tau nama kamu, siapa nama kamu?"
"Namaku—"
***
"Ya ampun, Neng, udah bel masih di sini. Istirahat tidur aja jadi bablas tuh."
Aku membuka mata dengan berat, suara tadi disertai goyangan di bahuku membuat aku terpaksa harus kembali ke dunia nyata dan bangun. Begitu mata berhasil dibuka, wajah guru Sejarah, Bu Yaya dengan rambut keritingnya menyambutku. Raut wajah guru yang terkenal bermata elang saat menjaga anak murid ulangan itu membuatku makin menciut.
"Neng, udah jam 10. Buruan balik ke kelas. kamu udah telat setengah jam," kata Bu Yaya lagi, padahal aku masih mengumpulkan nyawa tidak sanggup menjawab ucapannya. Saat mendengar kalimat sudah telat setengah jam aku langsung tersentak.
Ada ulangan Matematika. "Aduh, makasih Bu udah bangunin. Saya ada jadwal ulangan!" seruku panik. Aku bangun menyalami tangan Bu Yaya, kemudian kabur agar seecepatnya bisa ke kelas. Semoga ulangan belum dimulai atau gagal sekalian. Bagaimana caranya aku masuk tanpa diinterogasi? Kalau aku tidak boleh masuk karena dituduh malas gimana, padahal aku tidak sengaja. Aku panik menggaruk kepala dlaam perjalanan menuju kelas.
Sesampainya di kelas ulangan belum dimulai masih pembagian kertas ulangan, aku bisa bernapas lega ketika diperbolehkan masuk dengan alasan keasyikan di perpustakaan. Klise. Saat melihat soal-soal yang ditulis bu guru kepalaku langsung sakit, aku belum belajar lagi dan lupa rumusnya.
What a bad day!
Di tengah-tengah mengerjakan soal, konsentrasiku buyar total. Karena mengingat mimpi yang tadi. Aku kira ini sudah selesai, aku sudah menemukannya. Rafael bukan? Setelah berkali-kali mimpi hanya ditunjukkan siluet dan suaranya saja, akhirnya aku bisa melihat jelas bentuk wajahnya, hidungnya yang mancung, matanya yang bagus dan senyumannya yang menawan. Ciri-cirinya memang mirip Rafael, kecuali sorot matanya.
Kenapa ini semua seperti belum selesai. Apa ini tanda selajutnya? Cuma mimpi. Mungkin aku kecapekan karena sebelum tidur memikirkan hal yang menyita pikiranku. Tapi, mengapa wajah cowok itu tidak asing lagi. Seperti pernah melihatnya. Di mana? Kontan tanpa bisa ditahan-tahan lagi, aku memutar kepala menengok ke belakang bagian pojokan kelas.
Dia?
"Dea, jangan nyontek!" seru Bu Wendi galak mendapatiku sedang menoleh ke suatu arah.
Aku langsung deg-degan takut dikira menyontek dan kertas ulanganku diambil, padahal soal yang aku kerjakan baru sedikit. Aku menunduk pura-pura mengerjakan soal lagi padahal sudah tidak ada yang aku bisa kerjakan lagi dengan amat yakin. Soalnya susah, sementara pikiranku juga melalang buana lagi.
Masa sih mirip dia?
***
Aku menuangkan butiran kacang sukro dari kemasannya ke piring nasi goreng di hadapanku. Tangan-tangan usil langsung menyergap sukro yang bertabur di atas nasi gorengku. Pelaku keusilan ini siapa lagi kalau bukan Jojo, Dika, dan Rayn yang ternyata tidak marah betulan. Mereka datang langsung memelototin aku dan nasi gorengku secara bergantian. Penuh makna. Aku tahu mereka mau usil lagi.
Rina dan Della menyeruput jus duduk di sebelahku sambil main hape.
"Kalian jorok banget sih!" seruku jijik.
Sementara tiga bocah itu tak acuh tetap mengunyah kacang sukro. Mengapa mereka kompak banget dalam hal beginian?
"Hiy, kalian abis dari toilet ya? Cuci tangan nggak tuh?!" celetuk Rina ngeri mengangkat wajahnya dari ponsel.
Aku mendadak mual karena kebiasaan anak cowok dari toilet yang tidak cuci tangan padahal habis buang air. Napsu makanku mendadak lenyap.
"Gue lupa udah cuci tangan apa belum." Rayn nyengir polos menggosokkan kedua tangannya.
"Vitamin kali." Dika tertawa horor.
Jojo mengendus kedua tangannya sendiri. "Kayaknya sih nggak cuci tangan." Lalu dia ketawa-tawa sambil bangun dari duduknya menuju westafel. Jojo memang makhluk paling waras dibanding lainnya.
Aku mewanti-wanti agar mereka tidak lagi asal nyomot makananku, kecuali cuci tangan terlebih dulu. Aku tidak bisa membayangkan tangan jorok mereka akan menebarkan virus lewat makanan ini. Huek. Setelah ribut kecil. Dika dan Rayn menyusul Jojo untuk cuci tangan. Mereka kembali ke meja dengan ekspresi wajah m***m menatap piring makananku.
"Kenapa sih kalian suka banget minta makanan, tapi jajannya yang ringan? Ngeselin tahu!" seruku protes.
Mereka lebih suka makan cemilan yang ringan atau permen kojek. Pernah suatu kali mereka malah beli balon yang tidak ada gizinya. Bisa dimakan saja tidak.
"Kata Alvin sensasi minta makanan itu beda daripada beli sendiri," sahut Dika apa adanya.
"Ngajarin yang nggak bener mulu sih tuh anak!" Aku mendumel sambil melirik mencari-cari sosoknya.
"Gitu-gitu dia baik, ‘kan?" goda Jojo.
Aku tersenyum malu. Karena risi digerayangin oleh tangan mereka, aku menyerah memberikan sisa makanan. Piring nasi gorengku sudah bersih dijajah oleh mereka.
Aku terpukau.
"Lo bilang makasih udah ditolongin semalam?" tanya Rayn. "Dia chat malemnya rada kesel karena gue yang nonjok Rafael. Dia mau nonjok juga tapi udah keduluan sama gue. Gimana gue bisa menahan diri pas ngeliat dia memang minta dikasih pelajaran."
"I'm always thanks to him setiap ada kesempatan dia bantuin gue," jawabku.
"Pantesan dia baper." Aku mendengar Dika bergumam.
"Kalian keabisan bahan gosip ya!" tukasku cepat. “Masa gitu doang jadi baper? Yen, makasih ya semalem. Baper nggak?” Seraya melirik Rayn.
Cowok itu menggeleng kuat-kuat.
"Tuh kan Dea tuh nggak percaya, Gengs. Susah banget diajak bicara beginian. Dik, lo ceritain jelasnya ke Dea dong," tutur Della nimbrung.
"Iya tuh, Dea nggak percayaan. Alvin nggak ngaku secara langsung sih," timpal Rina. Mereka berdua kompak memandangiku serius.
"Kalian jangan ngada-ngada deh, gue sama Alvin tuh nggak lebih dekat dari kalian. Gue sama dia kayak orang asing yang baru beberapa kali ketemu. Masa dia suka sama gue?" Aku terdiam sebentar. "Gue juga udah punya pacar. Jadi, jangan bikin gosip yang enggak-enggak deh!"
"Mana gosip? Kita bertiga saksinya pas dia tiba-tiba bilang: gue suka sama Dea deh," ujar Dika yang paling jago ngomong. Jojo dan Rayn ngangguk mantap.
"Ih, cowok-cowok, kalian rumpi banget!" celetuk Della.
Aku pun mengangguk setuju, padahal jantungku sedang sulit dikendalikan. Aduh, kenapa aku begini? Masa sih Alvin menyukaiku? Jelas-jelas tadi cowok itu tidak ngaku.
"Gue nggak percaya, tadi denger sendiri jawaban Alvin, ‘kan? Dia cuma lagi bingung dan nggak bisa menafsirkan perasaan sekilasnya aja kali. Di lain hari udah lupa sama pengakuan itu dan juga perasaannya udah netral." Aku memainkan alis menggoda para temanku.
Mereka tidak bisa merespons ucapanku lagi. Mereka tidak punya bukti bahwa Alvin mengakui suka padaku, sedangkan mereka tadi jelas mendengar pernyataan Alvin. Aku menang dengan fakta kalau Alvin tidak menyukaiku. Itu lebih baik daripada aku kedapatan masalah lagi. Urusanku dengan Rafael belum berakhir. Aku tidak mau akan kehadiran lagi oleh satu orang baru yang bisa mengacaukan hatiku. Sekarang saja aku sudah bimbang karena hubunganku dengan Rafael banyak masalah.
Rina menyenggol lenganku pelan. "Tapi kalo ntar dia bilang suka lo mau apa? Bakal panik kelabakan looh."
Aku menggigit bibir gelisah melirik ke Rina yang menautkan kedua alisnya. Aku mau apa? Benar juga, aku mau apa?
“Lah, kenapa gue mesti panik?” tanyaku heran.
"Lo suka juga 'kan sama Alvin?" tembak Della.
TBC
***
2 Nov 2021