34. Malam heboh

1797 Kata
"Raf, kamu kenapa?" Aku menyentuh pundak Rafael tanpa tahu menahu. Dia mencoba berdiri meski kesulitan. Aku mengernyit mengapa Rafael menjadi aneh. Aku menyentuh lengannya saat Rafael berhasil berdiri namun kepalanya tertunduk lesu. "Jangan deketin dia!" seru Alvin menarik tanganku yang lain. Aku tersentak kaget karena tarikan Alvin kuat banget. Aku masih belum mengerti Rafael kenapa. Tanganku yang lain ditarik juga oleh Rafael. Tiba-tiba cowok itu melingkarkan tangannya ke leherku hendak mencium. Suasana menjadi riuh kala para tamu menonton sibuk hanya bergosip tanpa ada yang mau membantu. Aku menjerit takut. "Lepasin dia!" Alvin maju berusaha memisahkan Rafael dariku. Aku masih menahan diri agar tidak dengan mudah diraih olehnya. Meski Rafael pacarku, kali ini tindakan dia kasar sekali. Aku juga malu diperlakukan begini depan umum. Aku takut. Alvin hanya mampu mendorong Rafael, tidak bisa menonjok cowok itu karna tangan kanannya memegang erat tanganku. Sekarang kami bertiga menjadi pusat perhatian di pesta orang. "Woi! Lo gila apa?" "Itu cewek lo malu, b**o banget." Tiba-tiba Dika dan Jojo datang menarik tubuh Rafael dari belakang cukup kuat sampai akhirnya pegangan tangan Rafael padaku lepas. Aku memandangi Rafael yang matanya merah bersorot marah. Aku tahu sekarang pandangan Rafael tidak fokus. Dia mabuk? Rafael pergi untuk minum sama yang lainnya kah? Rafael dipegang erat oleh Dika dan Jojo. Rafael meronta minta dilepas. Rayn baru datang setelah lari dan aura kepanikan terukir di wajahnya. Di pintu ada Della dan Rina, di belakang mereka ada para gebetan. Rayn memandangi kami bergantian dengan tatapan tajam yang jarang pernah dia keluarkan, kecuali sedang serius. Aku masih di pegangi oleh Alvin. Tapi tanganku mendadak hangat saat Alvin menggenggam jemariku seolah memberi kekuatan. "Apa urusan kalian?! Itu cewek gue! Dia cewek gue!" teriak Rafael suaranya parau masih ada khas, jadi aku yakin ini emang Rafael bukan hantu yang memasuki tubuhnya. "Mau gue cium atau ajak tidur juga bukan urusan kalian!" Lanjutan kalimatnya sontak membuatku menganga. Benarkah ini Rafael cowok yang selama ini aku kagumi berkepribadian baik dan cerdas? "Lepasin gue!" seru Rafael lagi. Aku memang pernah memintanya mengakuiku di depan semua orang tapi tidak gini juga. Aku menatap Rafael tidak percaya, meski dia sedang mabuk ucapannya seram sekali. Bukan hanya aku yang sudah melongo, Dika dan Jojo yang memegangi Rafael saja terpana memandangiku dengan sorot kasihan. Aku mengalihkan pandangan, harga diriku langsung jatuh begini. Aku malu menjadi bahan tontonan, cowokku mabuk mau melakukan hal yang tidak-tidak dan aku dijadiin bahan pelampiasan napsunya. Rina dan Della datang ke sampingku aura wajah mereka kurang lebih sama, sedang tegang-tegangnya. Aku mengamati Alvin yang menatap Rafael dengan sorot tajam. Beda dengan tatapan Dika dan Jojo yang lebih menonjolkan kasihan, Alvin seperti marah? Alvin melepaskan genggaman tanganku dan mau melangkah menuju Rafael. Namun, terpaksa langkahnya ditunda karena Rayn sudah maju duluan memberi pukulan telak di wajah Rafael. Dika dan Jojo melongo melihat Rayn marah bukan main. Mereka sudah melepaskan pegangan dari Rafael dan berdiri di antara Rayn dan Rafael yang saling tatap bersorot tajam. Alvin melihat mereka semua tak bergeming. "b******k!" desis Rayn. "Lo jangan macem-macem sama Dea. Meski dia cewek lo, bukan berarti lo bebas ngelakuin sesuatu hal ke dia. Lo liat emang Dea senang saat lo begini dan bilang mau cium dia?" Rayn yang ini sangat berbeda dengan biasanya. Aku ingin menangis dibela olehnya. Dia mampu meneriakkan apa yang aku rasakan dalam d**a. "Iya, bener! Lo jangan macem-macem. Tindakan lo tadi menjurus pelecehan s*****l," tuding Jojo galak. "Mana temen lo, mabok semua jadi nggak ada yang bantu bela!" Rafael mengerjapkan mata tidak fokus. Aku tidak melihat gerombolannya Rafael, termasuk Alisha. Apa mereka minum dan mabuk bersama? Perasaanku menjadi makin tidak enak. "Untung aja ada kita yang dateng, gue nggak bisa bayangin kalo misalnya Dea berhasil lo bawa ke atas buat diapa-apain." Dika melotot menatap tajam. Rafael menggertakkan rahangnya, dia maju mau menyerang Dika namun sudah dicegah duluan oleh Jojo. Tangan Rafael bisa ditepis santai oleh Jojo yang menatap Rafael berani. Aku tidak tahan lagi memeluk lengan Rina dan Della. Mereka berdua membawaku menjauh dari titik ini. menuju meja yang kosong. Aku mengabaikan tatapan para tamu undangan. "Lo nggak apa-apa?" tanya Della pelan berbisik. Aku mengangguk. "Rafael kok gitu, gue jadi takut. Apa yang kalian rahasiain dari gue tentang Rafael?" tanyaku tajam. Langsung teringat ucapan Alvin. "Sori." Rina menggigit bibirnya cemas. Mata Della membulat, "Lo tau dari mana?" "Dea, nggak gitu—" "APA?" Aku menatap mereka tajam menunjukkan emosiku yang tidak bisa ditahan lagi. Biarin deh, kapan lagi aku bisa marah. Mereka berdua saling berpandangan. Aku menempaskan pegangan tangan mereka dan berjalan menuju meja sejauh-jauhnya. Mereka mengekoriku. "De, oke kita jelasin sori sebelumnya—" Della mengejar menyejajari langkahku. Rina juga berdiri di sebelahku padahal tadi aku sudah sempat meninggalkan mereka berjarak beberapa meter. Aku menunggu jawaban mereka, namun tidak ada satu pun yang bicara lagi. "Rafael suka dugem itu bukan sekadar gosip. Beneran. Alvin yang pernah liat dia sama gengnya di salah satu club. Rafael nggak seperti yang lo harapkan dan kita bayangin selama ini." *** Di belakang terdengar suara ricuh teriakan para tamu, aku memutar kepala ingin tahu mengapa menjadi ramai sekali. Aku menutup mulut di tempat tadi sudah berubah menjadi arena berantem antara teman-temanku dan gengnya Rafael. Aku melihat dua sosok yang paling mencolok karena tinggi mereka. Rafael lagi-lagi menyerang Alvin, kali ini Alvin tidak membiarkan Rafael lepas. Cowok itu balas menonjok Rafael sampai mengerang sakit. Apa Rafael lupa yang dia tonjok itu pentolan anak kelas 11? Oke, cowok itu sedang mabuk dan kalap. Aku, Della, dan Rina saling merapat bingung mau pergi ke mana karena tangga yang menghubung ke ruang tengah dekat lokasi berantem. Dilan, kakak kelas yang pentolan dan maskot sekolah kami datang. Aku baru tahu bahwa di pesta ini ada dirinya. Dilan datang dengan wajah disetel kenceng dan tubuhnya yang kekar besar itu makin menyeramkan. "WOI! NGAPAIN LO PADA RIBUT?" Dilan muncul memisahkan Alvin dan Rafael yang masih saling tonjok. "SELAMA ADA GUE, KALIAN NGGAK AKAN PERNAH BISA KELAR RIBUTNYA. ADA APAAN SIH SENENG AMAT SAMA RIBUT?" Mata Dilan melotot ke Alvin. Rekor Alvin berantem kan lebih banyak dari siapa pun. "WOI. BERHENTI!!!!!" teriakan Dilan sukses menghentikan aksi pukul memukul itu. Alvin melangkah mundur dan berjalan cepat menubruk para penonton untuk bisa sampai ke tempat posisiku. Aku baru sadar saat Alvin menarik tanganku merangkul tubuhku menaiki teras lalu menuju ruang tengah. Aku tidak bisa menghentikan langkah karena Alvin sepertinya lagi tidak mau dibantah atau diprotes. Aku diam mengikuti dirinya. Setelah kejadian tadi, aku tidak yakin akan bisa baik-baik saja. "Cowok lo mabok, gue yang nganterin lo pulang." Kata-kata itu baru terlontar saat kami berada di parkiran motor. Aku mengusap mata yang basah supaya tidak menangis. Kenapa aku harus nangis? Apa aku setakut itu? Aku menurut saja naik ke boncengan belakangnya. Memang lebih baik aku pulang. *** Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Aku ketar-ketir di belakang saat Alvin menyalip di antara truk besar-besar. Aku tidak memakai helm hanya masker yang melindungi wajahku. Kalau terjadi sesuatu tidak ada yang bisa diselamatkan. Dalam kurun waktu setengah jam kami tiba depan rumahku. Alvin melepas helmnya memandangiku tanpa bicara apa-apa. "Makasih, Vin." Aku turun dari boncengan motornya depan rumah sambil melepas masker kain hitam punyanya. Dia hanya menggumam pelan dan mengangkat sudut bibirnya yang ada noda darah di sana. Kalau dia buka helm itu biasanya mau mampir, meski perasaanku masih kacau balau dia sudah membantuku. "Luka lo mau gue bersihin dulu di dalem? Biasanya lo yang minta dibersihin sama gue." Waktu itu dia yang bilang katanya lukanya cepat sembuh kalau aku yang ngobatin. Mata segaris milik Alvin mengerjap kaget. Dia mendenguskan tawa. "Nggak usah. Gue balik aja." Alvin kembali memakai helm dan melajukan motornya sebelum aku sempat melambaikan tangan. Aku menghela napas berat. Perasaanku mengatakan tadi Alvin mau memintaku membersihkan lukanya lagi tetapi tidak jadi. Pergi sama siapa pulangnya sama siapa, gumamku. *** ANU INU (2) Andella Jenny: De, lo udh di rumah? Sama alvin dianter pulang kan? Karina Yessi: Halo halo, oi kalian para jagoan neon abis pukul-pukulan gimana tuh muka? Dea Sagita: Girlstalk yuk Andella Jenny: Nax cowok pada mana si? Karina Yessi: Di jalan paling Alay bgt si pake nax. Yuk De Dea Sagita: Makasih ya buat kalian yg tdi udh bantu gue -3- love love   GRUP Cewek!! Dea Sagita: Rafael gimana tadi pas gue dibawa pulang? Gue takut dia kenapa2 Andella Jenny: Tu cowok ngamuk dan mau ngejar lo tapi ditahan sama Dilan. Abis itu Rafael ambruk. Gatau lagi abisnya kita langsung diajakin balik sama Jojo. Karina Yessi: Kita balik abis ga enak bikin rusuh. tapi gue denger Terry aja teler di kamarnya. Gue yakin mereka mabuk yang nyediain minuman si Terry. Dea Sagita: Kok gue nyesek ya dia pergi katanya mau ngomong ama temennya taunya minum sama gengnya ;( Karina Yessi: Sabar cantik :;) untung tadi lo chat kita, klo lo ga ke taman dan di dalem rafael gampang narik lo. Andella Jenny: nggak bisa bayangin ;(((( skrg lo pikir baik2 lg ttg Rafael Dea Sagita: Knp kalian ga ada yg cerita sih? Andella Jenny: Kita takut ngerusak kebahagiaan lo. lo lg seneng bgt kita ga tega. Karina Yessi: Sori, Alvin gue suruh ngomong langsung g mau padahal dia lebih tegaan. Dea Sagita: Segitunya kah gue sampe Alvin aja ga mau ngomong? Andella Jenny: Alvin nggak mau bikin lo sedih tauk de Karina Yessi: Del, kok lo lemeuss beud -___- Yah Dea Sagita: APA? APA LAGI YG GAK GUE TAU? Karina Yessi: *No komen* Andella Jenny: Lo nggak ngerasa aneh sama Alvin? Biarin aja Rin, Dea hrus dikasih tau. dia kan nggak peka. Dea Sagita: Aneh banget jadi suka galak dan sinis. Ngomongnya aneh suka nyindir mulu. Kenapa semua org blg gue ga peka? Rayn jg blg gitu. Karina Yessi: Bege bgt ni org emg-____- kesel gue ama lu Andella Jenny: Kata Dika, Alvin suka sama lo. *** Kata Dika, Alvin suka sama lo. Aku tersenyum kecut mentertawakan statement Della tadi malam. Itu kan kata Dika, Alvin tidak mengakunya secara langsung. Aku tidak serta-merta langsung percaya begitu saja tanpa mendengarnya langsung dari Alvin. Aku tertawa sendiri jika teringat info itu. Semalam aku kesal mengamuk di ruang chat grup karena mereka banyak merahasiakan sesuatu dariku. Aku yakin sekali mereka buat grup yang tidak memasukkan diriku untuk bergosip hal itu, rahasia yang mereka sembunyikan dariku. Kata-kata Della memutar terus di otakku disertai suara Alvin tadi malam saat mengatakan 'lo cantik'. Semesta pun mendukung permainan hati ini. Alvin menyukaiku? Gila saja!! Jarum jam panjang nyaris menyentuh angka 6, beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Aku menungu Alvin di gerbang lobby, berharap hari ini cowok itu masuk. Tidak lama motor Alvin masuk. Aku merasa diperhatikan oleh sepasang mata di balik kaca helm itu. Alvin berjalan menuju gerbang lorong sambil menyipitkan mata. Untungnya dia menyapaku, maksudnya bertanya sesuatu. Bukannya melengos saja mengabaikan aku seperti biasanya yang kadang bersikap bagai tak melihat diriku. TBC *** 1 Nov 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN