"Happy birthday, Terry." Aku memberinya kado dan menyalami tangannya. Terry tersenyum, tapi raut wajahnya terlihat sangat kikuk melihat kehadiranku dan Rafael.
"Happy birthday." Rafael menyalami tangan Terry gantian.
"Thanks ya, kalian udah dateng," jawab Terry aneh lalu cewek itu mengerutkan kening menatap kami. "Gue kira lo bakal dateng sama Alisha loh."
Semua juga tahu yang seharusnya bergandengan bersama Rafael jelas bukan aku. Murid-murid tahunya Alisha yang dekat dengan Rafael. Mereka tuh semacam pasangan fenomenal kalau di dunia artis. Mereka mirip Aliando-Prilly, yah gitu deh. Tahu kan kalau pasangan populer begitu banyak dipuja oleh orang-orang yang gemas dan terbawa perasaan.
Aku tersenyum, kecut. Rafael melirikku kemudian Terry. Yang asal nyeplos berbicara seperti itu nyengir tak merasa bersalah. Rafael mengendalikan suasana lebih cepat.
"Gue sama si pacar cantik dong." Rafael merangkul bahuku, tangannya turun melingkar di pinggang. "Kenapa Alisha terus sih? Dia cuma temen. Pacar gue ya si Dea."
Mampus lo!
Aku ingin tertawa melihat air muka Terry makin aneh.
Cewek itu nyengir gugup tidak enak hati. "Sori Raf, bukan gitu maksud gue. Cuma—”
Rafael menatap tajam Terry, cewek itu menunduk takut. "Jangan berharap makanya pasangan halusinasi lo bakal berakhir bahagia, belum tentu lagi. Nggak ada yang tahu jalan hidup seseorang. Moga lo panjang umur ya, Ter. Gue ke sana dulu sama pacar gue," ucap Rafael penuh penekanan menarik pinggangku lembut menjauh dari Terry. Aku mendongak mencari tahu wajah cowok itu, Rafael terlihat kesal dan mau marah.
Kami sudah lumayan jauh dari Terry, aku pun bertanya, "Kamu nggak apa-apa?"
"Harusnya aku yang nanya kamu nggak apa-apa? Sori kalo omongan Terry bikin kamu sedih atau jengkel. Aku aja kesal dengernya. Aku ketus banget ya tadi?" Tatapan Rafael melembut. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
Aku mengangguk setuju. Tapi melihat Rafael ketus sama cewek lain bikin aku lega. Aku tidak suka kalau Rafael manis sama cewek lain dan bikin mereka berharap. Aku tidak rela berbagi.
"Dia cuma nanya kok, jangan diambil serius. Ya, dia pasti heran karena aku kan nggak diudang. Jadi, wajar aja deh kalo dia ngiranya kamu akan muncul bersama Alisha."
"Emangnya aku gila pergi sama cewek lain? Mana mungkin lagi. Aku punya hati dan nggak akan nyakitin hati kamu. Aku bukan cowok playboy, mata keranjang yang suka pindah sana-sini. Nggak harus heran kamu ada padahal nggak diundang, aku yakin di sini juga banyak tamu selundupan." Tawa Rafael membahana. Aku memukul lengannya karena beberapa pasang mata menoleh kaget mendengar suaranya yang keras.
Apa mungkin aku sengaja tidak diundang supaya Alisha pergi dengan Rafael? Halah, aku korban novel teenfiction di mana karakter antagonis suka sekali menyingkirkan saingan dengan cara begitu.
"Sayang, kamu di sini sebentar ya? Aku mau ke Jason dan Yosi."
***
Bentarnya Rafael itu berapa lama ya?
Sudah belasan menit Rafael pergi tidak ada tanda-tanda dia balik. Aku celingukan mencari cowok tinggi itu namun tidak ada di sini. Suasana ramai sekali aku kesulitan mencarinya, suara orang ngobrol, ketawa, dan musik campur aduk jadi satu. Karena bosan menunggu aku pergi ke meja camilan untuk makan sepuasnya. Aku sedang berpikir mau makan muffin dahulu atau cheese cake. Pilihanku jatuh ke muffin dengan cherry cantik di atasnya. Aku belum puas mengambil satu buah. Oke, baiklah selama Rafael pergi lebih baik aku makan sepuasnya. Bentar lagi malam, kalau Rafael ngajakin pulang aku belum sempat makan banyak.
Selanjutnya aku menggigit kue kering rasa keju hampir tersedak saat ada orang datang mengusik. Suaranya sudah sangat aku hapal. Lebih jauh dari memori.
"Ngabisin makanan aja lu," ucap suara rendah dan berat cowok itu dari arah belakangku.
Aku sontak menoleh dengan mulut penuh potongan kue kering yang belum sempat aku kunyah, wajah Alvin yang kusut menyambutku. Mata tajam penuh selidik itu seakan membidikku. Dia menatap piring yang tadinya berisi 3 muffin sudah kosong. Iya aku yang habisin. Aku mengunyah potongan kue kering di mulut susah payah.
"Lo? Lo gila ya?" seruku mewakili rasa tak percaya. Munculnya Alvin malam ini fix dia emang gila.
"Apa?" Alvin mengangkat dagunya.
"Lo nggak masuk sekolah dua hari, tapi dateng ke sini. Ke pesta orang," decakku. "Lo ke mana nggak masuk sih?!"
Alvin tertawa namun sinis. Hari ini Alvin berbeda, sangat cocok memakai kemeja panjang warna hitam, tidak pakai kacamata. Belakangan juga aku tidak pernah melihatnya pakai celana tinggi dan kancing sampai atas. Malam ini Alvin cukup, ehem, menarik.
"Lo peduli sama absen gue? Peduli itu tanda perhatian loh, perhatian tanda sayang. Ehem, lo sayang sama gue?" tembak Alvin tanpa beban.
Aku tercengang dengan mulut terbuka. "Apaan sih, gu—gue kena omel wali kelas gara-gara absen lo makin banyak. Terus gue lihat lo di sini nggak merasa berdosa udah nggak masuk tanpa kabar!" pekikku yang entah mengapa sangat di luar kendali.
Mengapa aku jadi begini?
"Jangan bertingkah gitu, ah!" tolak Alvin cepat dan santai. "Don't acting like you are care, when you are actually not, Dea." Tatapan Alvin berubah sendu. Seperti ada awan hitam di sana, dan gelap.
Deg. Mungkin benar, seharusnya aku tidak perlu peduli padanya padahal aku tidak benar-benar peduli.
Tapi, kalau aku tidak peduli mana mungkin aku menanyakan? Aku tidak punya hak untuk mengatur atau menanyakan tentang Alvin. Kalau Alvin bertanya mengapa aku harus peduli, aku juga tidak ada jawaban pastinya.
Menyadarkanku bahwa dia memang masih dinding yang masih rapat sulit untuk dihancurkan.
Aku menunduk lesu meresapi kata-kata Alvin. Sebuah tangan menempel di daguku mengangkat supaya wajahku bertemu dengan sang pemilik tangan. Alvin memandangiku lurus tepat di manik mata.
"Gue pengen bilang lo cantik banget malam ini, tapi sayangnya lo pacar orang." Alvin menarik tangannya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Aku membuka mulut dan menutup lagi. Hawa panas menjalar sekujur tubuh. Tengkukku merinding seperti ada sesuatu yang menggelitik di sana. Lidahku kelu dan kering.
Alvin tadi bilang apa?
"Lo—ngomong apa tadi?" Aku gagap.
"Lo cantik. Udahlah, males gue lama-lama ngomong sama pacar orang. Dah!" Alvin menjawab sambil melambaikan tangan sekilas dan tubuhnya berbalik. Dia berjalan pergi meninggalkanku, bayangan hitam sosok itu menghilang saat dia belok ke area taman samping rumah.
Aku mengelus pipi dan dagu yang tadi disentuh Alvin. Debaran jantungnya dia di tanganku saja masih sering tiba-tiba terasa, dia menambah lagi daftar sesuatu yang sulit aku hapus dari pikiran. Tangannya yang kasar menyentuh daguku. Aku menggelengkan kepala mengenyahkan bayangan itu.
Itu cowok abis minum kali ya jadi mabuk, ngomong aneh-aneh. Pipiku kok panas gini ya?
Tadi dia bilang apa? Alvin memang suka sekali mengolok diriku. Aku mengambil hape dari tas kecil. Pesan dari grup banyak sekali yang masuk.
ANU INU (31+)
Joshua Diantoro:
Kyak liat Dea. Lo ngapain sendirian? Iya nggak sih?
Karina Yessi:
SERIUS? MANA?
Andella Jenny:
DEA LO SAMA SIAPA? KOK nggak NGASIH TAU.
Dika Prayogo:
Gue liat tadi di meja makanan -__-
Rayn Ghali:
Berisik ae
Dea Sagita:
Iya gue di sini-_- kalian ngumpul dong gue kayak anak ilang gini, Rafael g tau k mna.
Joshua Diantoro:
Alvin di taman samping, lo k sana tar kita nyusul. Ini mencar semua.
Alvin Matt:
.
Ya, mampus! seruku dalam hati.
Gue aja lagi takut ketemu Alvin, dan tuh cowok juga kabur gara-gara khilaf ngomong aneh kita malah disuruh gabung bareng-bareng.
***
Di taman samping rumah Terry yang sudah disulap dengan lampu-lampu, meja berserbet putih dipenuhi para tamu undangan ngobrol. Suara tawa terdengar dari sana-sini. Di salah satu meja yang letaknya jauh dari posisiku ada seorang cowok tengah asyik merokok. Dia melihat diriku dan mengalihkan pandangannya. Aku berdeham membersihkan tenggorokanku yang lengket. Pelan tapi pasti aku melangkah menuju meja di mana Alvin berada.
Sesampainya di sana aku duduk di depan pemuda yang masih mengalihkan tatapan ke arah lain. Aku meneguk saliva melihat belikat seksi karena kerah kemeja cowok itu dibuka sampai dua kancing. Gayanya yang santai namun cool, sebuah rokok terselip di antara jemarinya. Inikah definisi dan contoh nyata tokoh bad boy dalam cerita? Aku tidak bisa membedakan ini mimpi atau nyata lagi.
"Hai, Vin!" sapaku kelewat kasual seperti tidak terjadi sesuatu. "Yang lain mana?"
"Masih ke sini, kali," sahut suara rendah milik Alvin. Cowok itu membuang rokok ke rumput dan menginjaknya.
"Jangan buang sembarangan kali." Aku berkomentar. "Ini rumah orang."
"Peduli lo?"
Aku mengangkat bahu. Kenapa sih dia jadi galak banget padahal aku sudah pernah berpikir Alvin sedikit menghangat. Kalau ditanya apa aku peduli, entahlah, aku bingung. Seperti kata Alvin, peduli itu tanda perhatian, perhatian itu tanda sayang? Apa aku ... ? Aku bergidik mencuci pikiran yang bukan-bukan.
"Ya, nggak enak aja lo ngerokok."
"Di sono banyak yang minum." Alvin menatapku masam. "Gue ngerokok boleh dong."
"Minum?"
"Iya., minum."
"Gue tadi minum."
Alvin mendesah, kepalanya menggeleng ringan. "Bukan minum yang biasa, lo polos apa begok sih?"
"Maksud lo minum alkohol?" Aku terpekik tanpa sadar.
"Iya, gitu deh."
Perasaanku jadi tidak enak dan mulai pikiran buruk muncul. Rafael menghilang sudah belasan menit namun tidak ada kabar sama sekali. Rafael anak baik, tidak mungkin dia mencoba minuman kayak begitu. Aku percaya Rafael di sana terlalu asyik ngobrol sama Jason dan Yosi atau ada keperluan yang belum selesai dibicarakan.
Aku mengembuskan napas mencoba menetralisir sakit perut dan sesak napas. Kalau sedang gelisah entah mengapa aku sakit perut. Alvin menyandarkan punggungnya dengan kepala miring memandangiku. Mengingat tadi cowok itu bilang yang tidak-tidak dan aneh, sekarang aku salah tingkah ingin kabur saja. Alvin bisa lebih iseng dari Jojo dalam hal bikin perasaanku campur aduk.
"Temen lo nggak ada yang bilang?" tanya Alvin.
"Temen lo juga kali."
"Mereka lebih deket sama lo."
"Lo juga deket sama mereka!"
"Udah nggak usah debatin ini," decak Alvin. "Serius nggak ada yang bilang sama lo?" Suara Alvin menajam.
Aku mengerjapkan mata menggeleng pelan. Apa yang mereka tahu? Apa yang mereka tidak bilang ke aku? Aku menggoyangkan tangan Alvin yang di meja.
"Apa? Apa , Vin? Kasih tau gue sekarang!"
Risih.
Cowok itu menarik tangannya. Aku tersentak kaget.
"Bukan urusan gue." Alvin melengos cuek.
"Why? Tentang apa?" Jujur sekarang aku bingung. Teka-teki dalam otakku saja belum selesai masih mengganjal namun sudah diberi klue yang memancing diriku lagi. "Mereka semua tau? Kecuali gue?"
Alvin mengangguk santai. Dia tidak mau repot-repot menyebutkan tentang apa hal yang diketahui oleh semua temanku namun tidak tersampaikan padaku.
"Lo jangan bikin gue penasaran dong!" Paksaku.
"Kalo lo mau tau tentang apa, ehem, tentang cowok lu, Rafael."
Mataku melebar perasaan tidak enakku selama ini akan tingkah teman-teman dekatku menjadi jawaban. Mereka menyembunyikan sesuatu padaku.
"Rafael?" Sepertinya ini berita buruk karena tidak ada satu pun yang mengatakannya padaku. Mataku memanas dilapisi air. Hatiku seperti menjadi berat dan tidak enak. "Apa? Tentang ap—"
Aku melotot saat tiba-tiba melihat Rafael datang menarik kerah kemeja Alvin sampai berdiri kemudian menonjok wajahnya. Tubuh Alvin terhempas ke belakang dengan mata berkilat api menatap ke Rafael yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal. Tubuh Rafael terhuyung jatuh ke bawah layaknya boneka yang tidak memiliki saraf motorik. Kejadian ini menyita banyak perhatian. Para tamu undangan terlihat khawatir sekali dengan mata membelalak dan wajah mulai pucat. Aku berjalan mendekati Rafael bingung. Cowok itu menunduk dan mengacak rambutnya.
"Raf, kamu kenapa?" Aku menyentuh pundak Rafael tanpa tahu menahu.
Dia mencoba berdiri meski kesulitan. Aku mengernyit mengapa Rafael menjadi aneh. Aku menyentuh lengannya saat Rafael berhasil berdiri namun kepalanya tertunduk lesu.
"Jangan deketin dia!" seru Alvin menarik tanganku yang lain.
Aku tersentak kaget karena tarikan Alvin kuat banget, masih belum mengerti Rafael kenapa. Tanganku yang lain ditarik juga oleh Rafael. Tiba-tiba cowok itu melingkarkan tangannya ke leherku bagai hendak mencium bibirku. Suasana menjadi riuh kala para tamu hanya menonton dan sibuk berbicara tanpa ada yang mau membantu. Aku menjerit takut.
"Lepasin dia!" Alvin maju berusaha memisahkan Rafael dariku.
Aku masih menahan diri agar tidak dengan mudah diraih oleh Rafael yang masih berusaha ingin menciumiku. Meski Rafael pacarku, kali ini tindakan dia kasar sekali. Aku juga malu diperlakukan begini depan umum. Aku takut. Alvin mendorong Rafael tidak bisa menonjok cowok itu karna tangan kanannya memegang erat tanganku. Sekarang kami bertiga menjadi pusat perhatian di pesta orang.
"Woi! Lo gila apa?"
TBC
***
30 Okt 2021