Malamnya aku mengira Rafael akan mengirim pesan ngajak berangkat bareng esok harinya. Tapi, dia tidak mengirim pesan dan tidak menjemputku juga. Aku berangkat bersama Mama. Pagi-pagi aku sudah senggol bacok emosian dan bad mood.
Kenapa aku mau marah dan Rafael ikut marah? Perasaanku yang tidak enak karena Rafael mengabaikanku makin membuat pikiranku ke mana-mana. Kalau cowok itu sampai tidak menjemput pasti memang ada sesuatu, ‘kan? Aku cemas dan ketakutan.
Dia pacar pertamaku, aku tidak tahu apakah saat cewek marah pada pacarnya, cowok juga ikutan ngambek? Ngeselin. Kalau Rafael marah dan meminta putus, aku yang akan kehilangan dan patah hati hebat besar-besaran.
"Jo, lo ngambek nggak sih kalo punya pacar yang marah sama lo?" tanyaku.
Oh ya, Jojo sudah masuk dan duduk di kursinya saat aku datang. Cowok itu menyalin sesuatu dari kertas fotokopian. Setelah diperhatikan itu adalah tulisanku. Kemarin bukuku dipinjam Rayn untuk fotokopi, karena selain tulisanku paling bagus catatanku lumayan lengkap.
Jojo menoleh berhenti menulis, lipatan di keningnya muncul tiga lapis. "Tergantung."
"Nggak enak banget jawaban lo!" Aku memanyunkan bibir menopang dagu di meja.
"Kalo cewek gue ngeselin, ya gue marah. Tapi nggak lama sih paling beberapa jam doang gue langsung minta maaf. Biasa kali ribut kecil," ucap Jojo serius. “Cuma masalah kecil aja, ‘kan?”
Aku memikirkan penjelasannya. Tapi ini kan Jojo, cowok humoris dan santai. Tipe cowok baik-baik. Salah banget nanya Jojo yang tidak bisa lama-lama marah sama orang. Kasusku ini bernama Rafael. Aku juga baru tahu bahwa Rafael aslinya baperan. Dika, tuh cowok juga sebelas duabelas sama Jojo. Apalagi Dika tipe yang serius dalam menjalin hubungan. Mana mungkin dia membiarkan ceweknya galau berhari-hari. Rayn? Tuh cowok playboy. Ceweknya marah dia bakalan cari kesempatan sama cewek lain. Tapi, kayaknya dia serius saat berhadapan sama cewek yang tepat. Akhir-akhir ini Rayn rada berubah jadi sok pasang foto galau kode-kodean, efek si Kelyn cukup besar bikin tu anak jadi taubat. Aku berharap Kelyn tidak usah menerima Rayn, biar tuh cowok berjuang sampe titik darah penghabisan.
Lantas siapa cowok baperan yang bisa aku tanyakan? Alvin? Dia tidak bisa ditebak. Aku tidak bisa bedain diamnya dia karena baper atau tidak peduli. Tentang Alvin, cowok itu menghilang tidak membaca spam pesan yang aku kirim. Mejanya juga masih kosong.
Aku menoleh ke arah Jojo lagi. "Lo ada kabar Alvin ke mana? Dia nggak masuk kemarin."
"Gue juga nggak masuk kemarin, nggak peduliin gue?" goda Jojo dengan raut aneh.
"Lo sih ada kabarnya, lagian lo nggak masuk sekali dua kali, nggak elit paling sakitnya mencret. Lo juga anak baik-baik. Alvin—?” Aku tercenung. Kenapa aku jadi mikirin dia? Mau ngapain aja kek, suka-suka dia. Terserah.
Jojo mengangkat bahunya. "Kalo nggak masuk ya udah sih, lo kangen emangnya nanyain mulu? Pake nada sewot lagi?" tanya Jojo sinis. "Oh ya, lo nanti malam jalan sama siapa ke acara ulang tahun Terry?"
Aku bingung. Terry adalah anak 11 IPA. Ya bisa ditebak, aku tahu dia, tapi dia belum tentu tahu aku.
"Dia ulang tahun? Gue nggak diundang. Kok lo diundang?"
"Iya dong, gue kan ganteng," jawabnya ketawa membuat wajahku seketika blank.
"Nggak lucu. Mana ada orang ganteng ngaku ganteng! Jijik tahu."
"Serius lo nggak diundang?" Alis Jojo menyatu. "Undangannya lewat pesan Line."
Aku mencibir. Anak gaul kok ngundangnya pake broadcast. Aku tidak menerima pesan dari Terry karena aku tidak memiliki kontaknya. Menjadi pacar Rafael sama sekali tidak membuatku menerima pengakuan. "Nggak tuh." Aku tidak terlalu heran sih, temanku hanya dikit.
"Kok nggak? Lo kuper sih! Yang lain aja diundang." Jojo melanjutkan menyalin catatan.
"Iya, gue emang kuper. Ya udah sih, kalo nggak diundang. Gue juga males ikutan pesta. I don't like that things."
Biar pun Rina dan Della masuk jurusan IPS mereka punya banyak teman anak IPA juga karena kelakuan sok akrab mereka. Mereka gampang berteman tidak seperti diriku. Jadi, aku merasa wajar-wajar saja dua anak itu temenan sama Terry di sosmed, bahkan keduanya sering komen biar akrab. Jojo mengacak puncak kepalaku. Aku menepisnya.
"Kalo gue nggak lagi deketin cewek pasti ngajak lo." Kata-kata Jojo membuat mataku bulat. "Kita kan bestfriend. Mana mungkin gue dateng sendirian, mending sama lo. Tapi udah ada Lena yang kiyut."
Aku mendelik tajam. "Ogah, ntar gue disuruh ngintilin lo mulu. Hello, yeah, satu sekolah lihat kita tuh kayak bos dan sekretaris pribadi." Aku lebih memilih saat kerja nanti jadi sekretaris pribadi CEO ganteng.
Jojo nyengir membuat bibirnya yang tipis menyatu dengan gusinya. "Karena kita soulmate, Dea. Gue percaya sama lo yang sahabat terbaik gue di sini. Bahkan lo bantuin gue menggantikan tugas gue tanpa diminta. I'm proud of you. Makasih banyak." Bahuku ditepuk-tepuk keras olehnya. Bibirku mencebik. Kalau sudah ngerepotin baru sadar. "Oh ya, tapi kan lo punya cowok. Gue hampir lupa lo ada Rafael. Bisa ditendang gue bawa lo ke pesta orang. Kalo gitu lo tenang aja, ntar kita juga ketemu di sana, lo pasti diajak Rafael."
Aku menatap Jojo lesu. Aku sendiri ragu apakah Rafael akan mengajakku atau Alisha. Ya, lihat saja nanti malam. Rafael akan senang bersama Alisha atau aku. Aku tersenyum miris. Jojo saja lupa bahwa aku berhubungan dengan Rafael.
Hubungan kami memang tidak penting-penting amat.
***
Tok ... tok ... tok...
"Mbak Dea ada tamu di depan." Mbak Nurul sudah pulang ke sini kemarin lusa setelah urusan di kampungnya selesai.
Aku mengecilkan volume musik di ponsel dan menutup novel setebal 600 halaman berjudul Entangled yang lagi booming. Ketika lagi tegang-tegangnya suara gedoran pintu membuatku tersentak. Siapa yang tahu bahwa di balik pintu sana adalah penjahat yang masih belum bisa terungkap dalam novel ini. Jangan-jangan Ray si tokoh dalam novel yang merupakan seorang psikopat? Aku bergegas bangun dari posisi tengkurapku di kasur menuju pintu.
"Siapa, Mbak?" tanyaku usai pintu terbuka.
Mbak Nurul tersenyum lebar. "Ada anu … Mbak. Cowok ganteng banget, pakaiannya rapi, dan bawa bunga."
Aku tersentak satu-satunya yang terlintas dalam bayangan langsung Rafael. Kegantengan Rafael memang mutlak sampai Mbak Nurul saja mengakuinya tanpa pikir ulang. Aku berjalan mendahului Mbak Nurul. Aku senang banget Rafael datang ke rumah. Yes, aku menang menegakkan egoku untuk ngambek dan pada akhirnya dia yang mengalah.
Glek.
Langkahku terhenti melihat Rafael berdiri membawa satu buket bunga di ruang tamu. Aku meneguk saliva pelan. Rafael memakai pakaian formal, tuxedo yang dipakainya tidak dikancing. Kalau begini tingkat ketampanan Rafael bertambah. Aku bingung dengan kehadiran dia di sini membawa satu buket bunga seperti orang yang baru diwisuda.
"Kamu ngapain di sini?" tanyaku heran.
"Maafin aku, ya? Mau 'kan maafin aku? Sayang, aku nggak tau kalo tindakanku itu bikin salah paham. Aku nggak bermaksud nutupin tentang kita ke teman-temanku." Rafael memandangiku lekat. Rafael memberikan buket bunga itu.
Aku menerimanya dengan perasaanku campur aduk. Rafael memeluk tubuhku erat. Kalau sudah begini aku lemah. Dengan begini aku tahu kalau aku sangat mencintainya.
Karena mudah sekali aku memaafkan. Memaafkan adalah cara terbaik memperbaiki hubungan daripada rusak tak bisa diselamatkan. Kehilangan Rafael aku tidak sanggup. Aku sangat mencintainya.
"Maafin aku juga, ya."
Rafael melepaskan pelukannya dan menangkup wajahku. "Kamu nggak salah kok. Aku yang nggak peka. Aku udah bodoh banget."
"Hm, kenapa baru sekarang pekanya? Kemarin kenapa nggak langsung minta maaf?" Semprotku kesal.
"Maaf. Aku biarin kamu tenang dulu sambil aku berpikir kesalahanku. Aku yang bodoh udah biarin kamu lama banget tanpa ngomong apa-apa. Dea, aku janji nggak akan nutupin lagi. Makanya aku mau ngajak kamu pergi malam ini."
Aku mendapat jawaban bahwa Rafael pergi denganku bukan Alisha. Senangnya.
***
Aku tidak pede. Saat tadi baru turun menemui Rafael, dia memandangiku terpana. Tidak salah aku menelepon Calista dan berguru bagaimana tampil cantik di depan pacar. Cewek itu yang mengajariku bagaimana cara make up. Rambutku yang tidak terlalu panjang dibiarkan terurai. Aku memilih dress kuning gading kesayangan. Aku tidak perlu repot dandan menor, aku memilih yang natural saja. Daripada saat keluar nanti aku menjadi terlihat lebih mirip dengan boneka santet. Sepanjang perjalanan menuju rumah Terry, Rafael tidak ada hentinya melirikku dan senyum lebar. Kalau dia senang, aku juga senang.
"Aku nggak diundang loh, emang nggak apa-apa ya muncul?" tanyaku takut.
Rafael menggandeng tanganku yang bebas, tanganku yang lain membawa kado yang sudah dipersiapkan oleh Rafael. "Tenang aja, kan sama aku datengnya. Kamu pacar aku, Sayang." Jemari Rafael menggenggam di antara ruas jemariku menambah kekuatan.
Aku nervous banget malam ini.
"Kamu cantik banget malam ini," bisik Rafael di telingaku sambil tersenyum miring. Degub jantungku tidak bisa dikontrol lagi.
"Gombal aja!" Aku ketawa pelan.
Dia mengajakku masuk ke dalam rumah Terry yang sudah dipenuhi para tamu. Meski wajah mereka familier terlihat berbeda kalau pakai make up dan berpakaian penuh gaya. Aku melihat ke salah satu arah di sana ada teman kelasanku dan para gebetannya. Rina dan Della ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Rayn sibuk godain Kelyn yang kecantikannya bertambah malam ini. Dika dan Jojo celingukan seperti mencari seseorang, padahal di sebelah mereka ada Julia dan Lena.
Aku mengerjapkan mata merasa salah lihat atau terlalu banyak berkhayal. Di belakang Dika dan Jojo, di celah antara mereka ada wajah Alvin dengan raut datar dan bosan. Alvin melihat ke arah sini. Sangat jelas perubahan ekspresinya saat melihatku. Dia jelas-jelas melihat ke arah sini dan menyadari kehadiranku. Aku beranjak mau pergi menuju mereka. Namun, Rafael segera menahan tanganku.
"Sayang, kita ke Terry yuk. Tuh dia di sana!" Unjuk Rafael ke suatu titik.
Oh, tidak. Malas banget aku ke sana, karena ada gengnya Alisha. Yup, Terry lagi ngobrol sama dua orang sedangkan di belakang gadis itu ada Alisha yang menatap sinis padaku dan wajahnya kesal banget.
Aku sedikit memberatkan langkah, Rafael menundukkan kepala menatap bingung. "Kenapa?"
"Alisha."
Mulut Rafael membulat bentuk huruf o kecil. Kepalanya manggut-manggut kecil. "Dia nggak bakal nyari gara-gara lagi kok. Yuk, abis kita ketemu Terry bisa cari tempat yang lebih sepi."
Apa tadi cowokku bilang? Aku menatapnya terperanjat. "Mau ngapain?”
Rafael terkekeh lucu. "Bukan, bukan gitu. Kamu lucu sih bikin aku salah tingkah gini." Pipiku dicubit pelan. aku diajak mendekat ke arah Terry. Untungnya Alisha dan gengnya sudah cabut dari situ.
TBC
***
29 okt 2021