Cowok tinggi itu membawaku ke tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan murid lalu lalang. Belakang bangunan kelas. Aku membuang muka tidak mau menatap wajah Rafael. Biarkan dia yang memulai pembicaraan duluan. Rafael berdiri di depanku berbeda dengan biasanya, kali ini dia berantakan dan wajahnya penuh luka. Kalau aku masih memandangnya sama, aku sekarang sangat tidak tega melihat kondisinya. Perasaanku berubah karena kekecewaan yang besar. Aku tidak menyesal sudah terjebak dalam pesonanya, ada pelajaran yang harus diambil setiap ada masalah. Aku berharap tidak mudah cengeng lagi setelahnya, karena aku akan melalui beban berat ini dengan kepala tegak. "Apa yang kamu mau tau?" tanya Rafael, air muka cowok itu sedih dan lesu. Tatapan matanya yang lemah dan mati, membuat hatiku sedikit t

