Raisen masih menatapku tanpa merespon ucapanku sama sekali. Bibir kami sama-sama bungkam, tetapi mata kami saling bersitatap satu sama lain. Sesaat kemudian, Raisen melepaskan tangannya dariku lalu mengalihkan pandangan kembali ke jendela. "Raisen, kita akan pulang hari ini untuk memeriksa keadaanmu di rumah sakit," ucapku sedikit ragu. Aku harus memberitahunya karena aku dan Pak Jan memang sudah bersiap. "Sudah kukatakan kemarin, aku nggak mau ke dokter. Aku masih ingin berlibur di sini," ujarnya tanpa berpaling kepadaku. Aku hendak berbicara lagi, tetapi Raisen terlebih dulu membuka suara. "Tolong panggil Pak Jan untuk membawa sarapan dan obat ke kamarku. Kamu nggak perlu ke kamarku lagi mulai saat ini,” ucapnya dingin. Mendengar perintah Raisen, aku tidak berani membantah lagi. Ti

