Anggap Aku Sebagai Pelayanmu

1216 Kata

Aku menjadi salah tingkah akibat perkataan Raisen. Aku berusaha mengingat apakah Raisen sempat membuka mata ketika aku menghangatkan tubuhnya. Namun sedalam apapun aku menggali ingatan itu, aku yakin bila Raisen tidak terbangun. Pastilah ia hanya mengingat sensasinya saja di pikiran bawah sadar. “Aya, lanjutkan pijatannya,” rengek Raisen. Karena terlalu mencemaskan diri sendiri, aku sampai lupa memijatnya. “Oh, iya.” Jari jemariku kembali bergerak, memberikan pijatan lembut di bagian kepala dan dahi Raisen. Kulihat pria itu memejamkan matanya seperti orang yang tertidur. Barangkali ia begitu menikmati apa yang kulakukan. “Raisen…apa kamu tidur?” tanyaku lirih. Aku tidak boleh membiarkannya tidur lagi sementara perutnya masih kosong. Apalagi waktunya sudah hampir lewat untuk Raisen ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN