Karena Bu Navisa terus menelepon, mau tak mau aku menerima panggilan tersebut. "Halo, Bu Navisa," ucapku sambil melirik kepada Pak Jan. Aku sengaja menyebutkan namanya supaya Pak Jan bisa memberikan sedikit bantuan. Pak Jan nampaknya memahami maksudku. Dia menggeleng sebagai pertanda supaya aku tidak mengatakan perihal insiden yang menimpa Raisen. Aku pun menurutinya karena tak ingin kami semua terkena masalah. “Cahaya ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung mengangkat teleponku?” tanya Bu Navisa terdengar kesal. “Saya tadi menemani Raisen tidur, Bu.” "Raisen sedang tidur? Padahal aku ingin bicara dengannya sebentar,” ucap Bu Navisa kecewa. “Bagaimana keadaan Raisen? Apa dia bersenang-senang? Dia makan dan minum obat secara teratur kan?" tanya Bu Navisa beruntun. Aku berjalan agak

