Aku berhenti berlari setelah tiba di depan kolam renang. Di sana, aku melihat seseorang mengapung di kolam renang. Aku tidak bisa melihat apapun selain baju yang dipakainya. "Astaga! Raisen!” pekikku histeris. Jiwaku serasa ingin lepas dari raga. Sungguh malapetaka besar akan terjadi bila Raisen sampai celaka. Akan lebih baik jika aku saja yang kehilangan nyawa daripada dia. "Pak Jan! Raisen ada di sini!" seruku tanpa menoleh. Pasti kini urat-urat leherku telah menonjol karena berteriak terlalu kencang. Tanpa berpikir panjang, aku menceburkan diri ke kolam renang untuk menolong Raisen. Aku memperhatikan gelembung napas yang masih muncul, lalu buru-buru membalik tubuh pria itu agar tidak menghirup air lebih banyak. Aku mendengar suara Pak Jan yang sama paniknya denganku dari arah atas.

