“Aya, kenapa nggak jawab?” tanya Raisen mengguncang lenganku. "I-iya... aku akan menemanimu, Raisen." Raisen tampak senang dengan janji yang aku ucapkan. Dia lalu mengajakku untuk ikut menggambar bersamanya. Kali ini aku yang mengukir nama Raisen di sebelah namaku, lalu kami mengabadikannya dengan kamera ponsel. "Coba ke sini sedikit, Aya," ucap Raisen sambil merangkul pinggangku. "Oke." Aku mengikuti permintaan Raisen dan memposisikan diri lebih dekat dengannya. Sebelah tanganku memegang ponsel milik Raisen untuk menangkap wajah kami di depan kamera. Namun ternyata agak sulit, karena Raisen jauh lebih tinggi dariku. Lagipula aku tidak terbiasa foto selfie berdua dengan seorang pria. Raisen menjadi tidak sabar karena kami belum berhasil mengambil satu foto pun sejak tadi. "Raisen s

